Sehun berjalan dengan langkah tegasnya. Wibawa seorang Argadinata memang menurun penuh padanya. Bahkan para sipir yang sedang berjaga pun terdiam begitu melihat seorang Sehun William Argadinata berjalan menuju sebuah meja dimana salah seorang tahanan wanita duduk sambil menundukan kepala disana.
"Irene"
Suara Sehun begitu dingin. Ia bahkan tak duduk di hadapan Irene, melainkan berdiri di samping meja yang telah di sediakan. Sorot matanya begitu tajam dan menekan siapapun yang menjadi lawan bicaranya.
Irene mengangkat wajahnya. Jelas sekali jika wanita itu terlihat tersiksa dengan keadaanya yang sekarang. Wajahnya benar-benar pucat dengan mata sembab. Jauh berbeda dengan Irene yang biasanya.
"Sehun, aku mohon.."
"Tolong ijinin aku ke makam Jeffrey sekali aja."
Wajahnya begitu memelas. Hidupnya suram. Penyesalan selalu menghantuinya, namun sayang Irene masih pada keegoisannya.
Sehun menatapnya datar. Sedangkan tangannya mengepal. Ia tak tahu apa yang ia lakukan akan menimbulkan dampak seperti apa kedepannya, namun Sehun benar-benar tak menemukan titik terang lainnya. Pikirannya sudah terlalu kacau sekarang.
"Aku bahkan bisa membebaskan mu dari sini."
Irene menatap Sehun tak percaya. Bibirnya terlalu kelu hanya untuk sekedar bertanya maksud dari kata-kata yang di ucapkan oleh mantan suaminya.
"Dengan satu syarat."
"A-Apa?"
"Terima Jeno sebagai putramu."
Irene terdiam. Dan keterdiaman Irene benar-benar membuat Sehun frustasi. Ayolah, dia sudah terlalu kacau. Hingga ia tak berfikir panjang sebelum menjatuhkan lututnya ke lantai, menunduk dan memohon di hadapan Irene.
"Hanya sekali. Tolong peluk Jeno sebagai putramu. Tolong beri dia kesempatan untuk merasakan kasih sayang mu walau sebentar saja. Aku mohon..."
Irene tertegung begitu Sehun mengangkat wajahnya. Sehun menangis?
"Tolong..."
"Putra ku semakin kehabisan waktu. Aku mohon padamu tolong kabulkan keinginannya ini sekali saja Irene. Aku takut.. Aku takut ini menjadi keinginan terakhirnya."
"Aku tak bisa melakukan apapun untuk Jeffrey di akhir hayatnya dan aku begitu menyesal. Kali ini, tolong bantu aku agar aku tak menyesal untuk kedua kalinya. Aku mohon Irene."
"Aku akan melakukan apapun. Aku akan memberi apapun untuk mu sebagai gantinya. Hanya satu pelukan Irene. Aku mohon.. Aku.."
Sehun tak dapat melanjutkan ucapannya. Ia terisak, begitupun dengan Irene. Dadanya terasa sesak dan hatinya hancur melihat Sehun.
"Baik. Akan aku lakukan."
◆◆🥀◆◆
Nathan berbaring di samping Jeno sambil memeluk tubuh Jeno seperti yang biasa ia lakukan jika Jeno sedang sakit.
Setelah ia memenuhi permintaan Jeno untuk pulang dan membawakannya sebuah lukisan yang masih tertutup rapat di sebuah tas yang tak boleh ia buka, akhirnya ia mendapatkan imbalan dari Jeno dengan boleh menempeli sang kakak setelahnya.
Jeno membiarkan Nathan memeluknya. Meskipun ia tak bisa membalas pelukan Nathan karena terlalu lemah, ia bahagia.
"Nana.."
"Kenapa bang?"
"Cita-cita Nana apa sekarang?"
Nathan nampak mengerutkan kedua alisnya, berfikir apa yang akan ia kejar selanjutnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)
Fanfiction"Kami saling terikat. Jika kau bertanya siapa yang paling aku takutkan tentang segalanya, maka aku akan menjawab, kakak ku Jeno dan juga keluarga ku." - Nathan "Berbahagialah. Kau harus menikmati hidup mu, Nana.." - Jevano. Bahasa Baku/Non Baku Ce...