Langit sore itu terlihat begitu cantik dengan angin yang berhembus sejuk menerpa pepohonan. Jeno diam menikmati suasana damai ini dengan sebuah pencil dan buku gambar dengan gambar yang belum Jeno selesaikan.
Senyum kecil di bibir Jeno terlukis. Namun sorot matanya justru terlihat redup. Jeno mengalihkan pandangan ke kakinya. Tangannya mengelus kakinya yang kini terasa lemah di atas kursi roda.
Senyum Jeno berubah menjadi senyum miris. Semakin lama tubuhnya terasa semakin ringkih. Dan di dalam hatinya, Jeno benci hal itu. Ia benci menjadi lemah. Ia benci karena selalu menjadi alasan jatuhnya air mata dari orang-orang dia sayang.
Jeno merasa kesepian. Hatinya terasa penuh oleh rasa sesak yang tak bisa ia keluarkan. Jika bisa, Jeno ingin berteriak sekencang mungkin. Jeno ingin menangis dan meraung. Ia ingin mengadu betapa lelahnya ia. Namun Jeno tak bisa. Ia sudah terlalu terbiasa menahan dan menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri.
Jeno melihat ke sekitarnya. Rumah ini terasa sepinya sekarang. Sehun yang masih berada di kantor, begitupun Jeffrey dan Nathan yang masih ada di Kampus dan juga di Sekolah.
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di benak Jeno. Akan seperti apa hidupnya jika saat ini ada Irene di sampingnya? Apa akan semelelahkan ini?
Bagaimana rasanya di rawat dengan penuh kasih sayang oleh seorang ibu?
Bagaimana rasanya di peluk oleh Irene di saat tubuhnya tak berdaya?
Apa Jeno akan menanggung kebencian Irene seumur hidupnya?
Apa di akhir hidupnya nanti, ia punya kesempatan untuk setidaknya mendapatkan pelukan Irene meskipun hanya sekali?
Jika boleh jujur, Jeno begitu merindukan Irene. Setiap malam sebelum ia terlelap dalam tidurnya yang sering kali tak nyenyak, Jeno selalu berdo'a semoga suatu saat nanti Irene bisa menyayanginya.
Jeno tak membenci Irene sedikitpun. Jeno hanya takut jika kehadiran dirinya hanya membuat Irene semakin terkubur dalam kebencian. Apalagi setelah Jeno tahu jika Sehun bukan ayah kandungnya. Bukankah sudah terlihat jelas? Jeno hanya anak yang tak di harapkan kehadirannya. Dan sekarang Jeno tak akan bertanya-tanya lagi kesalahan apa yang ia lakukan hingga Irene begitu membencinya. Dalam hati, Jeno sadar diri. Kehadirannya adalah luka untuk Irene.
Namun bisakan Jeno mengharapkan sedikit saja rasa kasih sayang dari Irene? Jeno rindu. Setidaknya, sekali sebelum ia menyerah akan hidupnya.
◆◆🥀◆◆
Nathan, Reno dan juga Haikal seperti biasa menjadi pusat perhatian dari para siswi-siswi yang mengidolakan paras tampan ketiganya. Namun ketiganya hanya acuh, sudah terlampau biasa bagi mereka jika hanya sekedar menjadi pusat perhatian.
"Na, Bang Jeno kapan masuk sekolah lagi?" tanya Reno.
Nathan menghela nafasnya. "Gue gak tau bakal setuju abang sekolah lagi atau enggak. Papa sama bang Jeff juga kayanya begitu."
"Maksud lo Bang Jeno gak bakal lanjut sekolah lagi?" kali ini Haikal yang bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Gue gak tau Kal. Tapi jujur, sebenernya gue lebih setuju kalau bang Jeno berenti sekolah atau sekolah dari rumah aja."
"Emang kenapa sih Na? Sekolah kan salah satu hal yang paling bang Jen suka."
Nathan menghentikan langkahnya, di ikuti oleh Haikal dan Reno.
"Gue tau banget Ren. Tapi lo tau kan gimana kondisi abang sekarang?"
"Lo inget hari sebelum bang Jeno kecelakaan? Baru hari pertama bang Jen masuk, cecunguk-cecunguk itu ngehina dia abis-abisan di belakang kita. Gue gak mau hal-hal kaya gitu kejadian lagi ke Bang Jeno. Mental dia lagi rapuh banget sekarang."

KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)
Fanfiction"Kami saling terikat. Jika kau bertanya siapa yang paling aku takutkan tentang segalanya, maka aku akan menjawab, kakak ku Jeno dan juga keluarga ku." - Nathan "Berbahagialah. Kau harus menikmati hidup mu, Nana.." - Jevano. Bahasa Baku/Non Baku Ce...