Chapter 22 : Kalut

2.1K 197 28
                                    

Kelopak mata yang semula tertutup rapat itu mulai bergerak pelan. Bulu mata hitam dan tebalnya sedikit demi sedikit mulai menunjukan obsidian gelap yang nampak kehilangan binarnya.

Bibir Jeno terlihat bergetar menahan rintihannya. Mata itu mulai mengerjap. Alisnya bertaut bingung begitu netranya hanya menangkap ruangan asing dengan cahaya yang terasa remang-remang. Entah kenapa otaknya serasa tak mampu hanya untuk berpikir dimana dirinya sekarang. Kesakitannya seakan mengambil alih kesadarannya.

"Shhh." Akhirnya rintihan itu tak bisa ia tahan. Jeno kembali memejamkan matanya erat begitu rasa sakit menyelimuti seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Ah, sebenarnya kakinya yang paling parah.

Gelisah mulai menyerang Jeno begitu ia mulai merasa dadanya seakan di himpit dari kedua sisinya bersamaan. Sesak. Setiap tarikan nafasnya terasa berat dan menyakitkan begitu jantungnya berdetak cepat tak karuan.

Tangan Jeno mengepal, mencengkram seprai dengan erat. Dadanya beberapa kali terangkat berusaha menghilangkan sesaknya sedikit saja, namun tak berhasil. Rasa sakitnya malah semakin menjadi.

Jeno tak tahan. Ini begitu menyakitkan.

"Tt.. To-long..hhh.. Sa-kit.."

Jeno tak sanggup lagi menahan air matanya. Sungguh, ini terlalu menyakitkan.

"Pa-Pa.."

"A-banghh.."

"Na-naa.. Tt-Tolonghh.."

"Ukhukkk.. Akhhh"

Nafasnya kian memburu. Jeno putus asa begitu ia sadar tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Telinganya berdengung. Kepalanya berat.

Dalam hati Jeno pasrah. Jika memang ini akhir hidupnya, Jeno akan menerima dengan lapang dada. Namun Jeno berharap, setidaknya Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan ayah, kakak dan adiknya untuk terakhir kali. Sungguh, Jeno begitu menyayangi keluarganya.

Perlahan-lahan, tubuh itu terlihat melemas. Kepalan tangannya melemah dan nafas Jeno terdengar tersendat-sendat. Mata itu kembali terpejam dengan air mata yang masih basah di sudut mata. Kesadaran anak itu benar-benar di ambang batas.

Namun sebelum kegelapan merenggut kesadarannya sepenuhnya, Jeno bisa merasakan seseorang datang dan memasangkan sesuatu di antara hidung dan mulutnya.

"Belum saatnya kamu mati, Jevano."

Dan semuanya benar-benar gelap.

◆◆🥀◆◆

Sehun mengusak rambutnya frustasi melihat layar CCTV rumah sakit yang tak memberinya petunjuk sedikitpun.

"Pa liat!" suara teriakan Nathan mengalihkan perhatiannya juga perhatian Jeffrey yang sedari tadi sudah terlihat begitu kacau.

Nathan menujuk pada tayangan CCTV paling bawah dimana ia menujuk figur seorang wanita yang tak sengaja tertangkap kamera.

"Itu Mama." lirih Jeffrey. Tanpa berbasa basi ia segera mengambil kunci mobil yang semula ia gelatakan di atas meja staff rumah sakit lalu berlari begitu saja tanpa menghiraukan teriakan Nathan dan Sehun.

"Jeffrey!"

"Bang Jeff!"

"Aishhh!" kesal Nathan. Ia juga sama kalutnya dengan semua orang, namun Jeffrey begitu gegabah.

"Papa susul abang kamu. Kamu tunggu disini sampe kakek dateng. Nanti ikut kakek nyari bang Jeno sama polisi ya."

Nathan mengangguk. Hatinya begitu takut dan khawatir sedari tadi. Begitu Sehun menghilang dari pandangannya, Nathan kembali memfokuskan mata pada Layar CCTV di hadapannya.

DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang