Chapter 7 : Bayang hitam

2.4K 233 6
                                    

Sehun terdiam memandangi wajah Jeno yang tertidur dengan alat bantu pernafasan yang menutupi wajah tampannya. Anak itu belum sadarkan diri hingga saat ini.

Sehun menggehela nafas sebelum memberanikan diri menggenggam tangan Jeno dengan perlahan. Ada infusan yang membuatnya begitu berhati-hati, tak ingin melukai tangan rapuh yang terasa dingin itu. Mata Sehun memandang lamat-lamat raut wajah Jeno yang nampak tenang di samping wajahnya yang pucat. Sehun bahkan di buat kelabakan saat pertama kali melihat mata Samoyed itu terpejam dengan bibir tanpa rona.

"Serangan yang di dapat Jeno cukup berat kali ini, Hun. Ini juga semacam peringatan buat kita kalo kondisi jantung Jeno kembali memburuk."

Sehun menutup matanya sesaat. Dadanya terasa sesak saat pernyataan Dio, dokter yang kini menjadi dokter yang merawat Jeno itu terngiang-ngiang di telinganya. Mimpi buruk yang selama ini ia takutkan ternyata kembali. Ia harus melihat Jeno kembali berjuang di atas ranjang pesakitan. Melihat Jeno yang tak pernah bisa lepas dari obatnya saja sudah membuat Sehun begitu sakit, dan sekarang ia harus kembali menyaksikan Jeno berjuang untuk bertahan saat jantungnya kembali memburuk.

Sehun membuang semua lamunannya saat tangan yang di genggamnya menunjukan pergerakan. Ia bangkit dari kursinya, memandang lamat kelopak mata Jeno yang perlahan-lahan terbuka. Tangan Sehun terangkat, mengusap pucuk kepala Jeno. jempolnya mengusap halus kerutan di antara kedua alis terbal Jeno yang mengerut menahan sakit.

Jeno mengerjap hingga beberapa saat kemudian ia tersadar dengan kehadiran Sehun yang sedang tersenyum lembut padanya.

"Pa..pa..."

"Ada yang sakit, bang?"

Mata Jeno kembali terpejam untuk beberapa detik, sebelum kembali terbuka lalu menggeleng pelan.

"Pa-pa.."

"Iya bang, Papa di sini. Kenapa Hm?"

"Ma-af..."

Sehun mengernyit tak mengerti.

"Kenapa bang Vano minta maaf?"

Jeno menarik nafasnya pelan. Dadanya terasa sesak. setiap tarikan nafasnya terasa begitu berat. "Va-no.. sa-kithh .. la-gihh.." ucap Jeno dengan terbata, kesulitan mengeluarkan suaranya sendiri karena sesaknya juga karena terhalang masker oksigennya.

"Abang gak perlu minta maaf. Ini bukan salah abang."

Jeno menggeleng pelan. Setetes air mata turun dari sudut mata bulan sabitnya yang terlihat sayu.

"Ka-kek.."

Sehun segera menyela kembali ucapan Jeno sebelum anak itu semakin berpikiran buruk tentang kondisinya sendiri. Jeno tak boleh tertekan.

"Bang Vano, jangan pikirin macem-macem dulu ya? Abang fokus aja sama kesehatan abang sekarang. Apapun yang terjadi, itu emang udah seharusnya terjadi sayang. Jadi jangan salahin diri abang kaya gini. Abang gak perlu khawatir. Percaya sama Papa." Ucapnya selembut mungkin sambil mengusap air mata Jeno dengan penuh kasih sayang.

"Sekarang abang harus banyak istirahat. Dokter Dio bilang keadaan abang masih lemah. Jangan di paksain. Papa panggilin dokter Dio ya? Biar abang di periksa dulu."

Jeno mengangguk perlahan. Sehun tersenyum lalu tangannya bergerak, memencet tombol di samping ranjang Jeno untuk memanggil dokter.

Beberapa saat, Dio dan dua suster masuk ke ruangan VVIP itu.

DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang