Sehun menatap Dio dengan perasaan cemas yang tak bisa ia tenangkan sedari tadi. Ia merutuki dirinya sendiri karena lalai menjaga Jeno, membiarkan luka terdalam putranya kembali mengaga lebar setelah kedatangan tak terduga dari mantan istrinya ke ruangan rawat Jeno.
Dio terlihat memandangi hasil pemeriksaan Jeno dengan tatapan yang terlihat tak baik. Ia menghela nafas kemudian melirik kearah Sehun yang menunggunya menjelaskan mengapa Jeno tiba-tiba tak sadarkan diri di pelukan Sehun sesaat setelah Irene meninggalkan mereka berdua.
“Fatal Hun.”
Hati Sehun mencelos. Rasanya ia tak sanggup menunggu kelanjutan dari penjelasan Dio. Namun ia memberanikan diri, ia harus tau apa yang terjadi pada Jeno sampai-sampai anak manis dan lugu itu harus di pindahkan ke ruangan ICU.
“Serangan jantung. Kondisi Jeno menurun drastis sampai dia berada di kondisi kritis sekarang.”
Tangan Sehun rasanya gemetar. Namun sekali lagi, ia berusaha tenang.
“Lo pasti tau kan seberapa berpengaruh keadaan mental seorang pasien apalagi dengan riwayat penyakit Jantung bawaan yang terbilang akut kaya Jeno?”
Kepala Sehun mengangguk kaku, tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengar keadaan Jeno. Ia sangat tahu bagaimana pentingnya kondisi psikis seseorang apalagi Jeno. Inilah alasan mengapa ia tak pernah menekan putra-putranya. Dan alasan ini juga lah, mengapa Sehun dan kedua putranya yang lain begitu memanjakan Jeno, memperlakukannya dengan lembut seolah Jeno bisa hancur kapapun jika mereka memperlakukannya sedikit kasar.
“Buat sementara, Jeno harus di pantau intensif di ICU sampai kondisinya ada peningkatan.”
Entahlah, ayah mana yang tak hancur melihat salah satu putranya harus kembali berjuang di ruangan dingin ICU. Seakan mimpi buruk Sehun benar-benar menjadi kenyataan.
Rasanya sakit. Hatinya sakit melihat putra yang ia besarkan dengan penuh perjuangan harus kembali menutup mata, terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan setelah selama sepuluh tahun ini ia mengganggap segalanya telah usai. Ia hanya berharap ia dan ketiga putranya hidup bahagia, tanpa sakit, tanpa kesedihan lagi.
“Hun!”
Sehun sedikit berjengit kaget. Ia terlalu tenggelam dalam perasaannya sendiri. Hingga tak menyadari Dio yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan—iba?
“Lo harus kuat Hun. Gue yakin Jeno bisa ngelewatin ini lagi. Inget, masih ada Nana sama Jeffrey yang juga butuh lo buat jadi sandaran mereka”
“Gue gak tau harus gimana lagi bang. Gue udah cukup kalut waktu Jeno tiba-tiba collaps kemarin. Gue hampir kehilangan dia dulu. Gue gak mau itu terjadi lagi bang."
Nyatanya, Sehun William Argadinata yang terkenal tangguh, bahkan mampu berpijak dengan kedua kakinya lagi setelah terpuruk beberapa tahun, kini kembali terlihat rapuh. Apapun gelar yang pernah tersemat padanya, nyatanya ada satu gelar yang tak akan pernah bisa terlepas sampai akhir hayatnya. Sehun adalah seorang ayah.
“Gue janji bakal bantuin Lo buat ngerawat Jeno. Suatu saat Jeno pasti bisa sembuh Hun.”
“Gue takut bang.”
Sehun yang rapuh.
◆◆🥀◆◆
Nathan termenung di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan ICU. Tangannya yang memegang sertifikat juara pertama lomba yang mereka ikuti terlihat lembab karena keringat. Tentu saja, ia yang niat hati ingin memberi kejutan pada Jeno justru di buat terkejut terlebih dahulu saat Jeffrey mengabarinya tentang kondisi Jeno lewat telpon. Jeffrey sendiri sudah berada di depan ruangan ICU itu sedari tadi, mengantikan Sehun yang saat ini masih berada di ruangan dokter Dio.

KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)
Fanfiction"Kami saling terikat. Jika kau bertanya siapa yang paling aku takutkan tentang segalanya, maka aku akan menjawab, kakak ku Jeno dan juga keluarga ku." - Nathan "Berbahagialah. Kau harus menikmati hidup mu, Nana.." - Jevano. Bahasa Baku/Non Baku Ce...