9

1.2K 146 25
                                    

Cerita ini hanyalah cerita karangan dari imajinasi Arda sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata!

WARNING!
Ini adalah lapak BXB. Jangan salah lapak!


HAPPY READING!

.

.

.

"JUNGHWAN-AH!"

Teriak Jeongwoo melihat apa yang telah dilakukan Junghwan.

Jika kalian mengira teriakan Jeongwoo adalah teriakan panik karena terjadi sesuatu kepada Junghwan, maka kalian salah. Malah sebaliknya. Teriakan Jeongwoo adalah teriakan takjub, melihat saudaranya itu menirukan setiap gerakan yang Junkyu peragakan sebelumnya, termasuk 3 poin besar yang dimaksud Junkyu sebelumnya. pertama Berlari kearah serangan. Kedua, ketika jarak diantaramu dan senjata yang menyerang sudah sangat dekat, segera menunduk dengan pandangan tetap menatap setiap pergerakan lawan tanpa menghentikan kecepatan larinya. Dan ketiga, berlari dengan tumpuan pada jari-jari dan telapak kaki bagian depan. Walau belum secepat Junkyu tetapi itu sudah sangat lebih dari cukup dimata Junkyu. 

Junghwan dan semua saudaranya adalah anggota inti mafia dengan kuasa yang sangat luas jika kalian lupa. Bahkan tak jarang pemerintahan pun takut pada mereka. Jika Jeongwoo terkenal dengan kerefleksan nya yang tinggi, Junghwan terkenal sebagai anggota paling cepat mempelajari sesuatu. Hanya dengan sekali lihat bisa mengikuti pergerakan dan serangan dari musuh-musuhnya. Copy Cat. Jadi jangan meragukannya!

Suara tepukan tangan memenuhi ruang latihan. Junghwan menoleh, mendapati Junkyu yang tengah tersenyum bangga sembari bertepuk tangan.

"Kerja bagus Hwanie! Terus melatih teknik ini, kau akan jauh lebih cepat dibandingku!" Junghwan menarik karambit twins miliknya dari leher Haruto sebelum berlari kecil kearah Junkyu yang mendapat tatapan polos dan senyum kecil dari Junkyu. Dia bingung kenapa Junghwan mendatanginya, padahal dia tidak ada memanggilnya.

Namun kemudian senyum kecilnya mengembang menjadi senyum lebar saat melihat Junghwan menundukan sedikit kepalanya dan tidak langsung mengangkatnya. Menunggu sesuatu.

"Aigooo uri Hwanie, kerja yang sangat bagus tadi!" Junkyu mengusap lembut rambut coklat Junghwan. Junghwan mengangkat kepalanya saat merasa tangan Junkyu telah menjauh dari rambutnya sembari tersenyum sangat lebar.

"EHEM!" Perhatian Junghwan dan Junkyu teralihkan, menatap dua manusia lain yang terasa terabaikan. Junghwan menatap tajam kedua saudaranya yang menganggu momennya bersama Junkyu.

"Oiya! Kita lanjutkan ya. Sekarang woo." Jeongwoo mengangguk dan memberi keseluruhan fokusnya pada namja manis yang sekarang tengah berjalan kearahnya.

"Dari cara mu menyerangku dengan Kyoketsu Shogen mu. Aku menyadari satu hal. Kalau kau belum bisa memanfaatkan senjatamu dengan semaksimal mungkin." Jeongwoo mengerutkan dahinya. Dia belum memanfaatkan kyoketsu shogen miliknya dengan maksimal? Senjata yang sudah setengah umur denganya? Dia yang telah diberi gelar terbaik gurunya? Belum maksimal bagaimana?

"Woo, kau lihat batang pohon besar disana?" Tatapan Jeongwoo mengikuti arah tunjuk Junkyu. Diujung ruangan terdapat beberapa batang pohon besar yang sudah dipotong menjadi beberpa bagian yang lebarnya menyerupai ukuran badan manusia dewasa yang digantung dengan tali yang terikat dilangit-langit ruangan. 

"Coba kau serang menggunakan Kyoketsu Shogen mu." Suruh Junkyu. Jeongwoo mengangguk kecil dan kemudian memasang posisi tarungnya.

"Dengan semua kemampuanmu" Junkyu menepuk pundaknya sekali sebelum mundur beberapa langkah. memberi ruang lebih untuk Jeongwoo.

Blue SoulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang