SPAM VOTE NYA.
HAPPY READING!
••••••••
Belva masih memikirkan kalimat kalimat yang diucapkan pria bernama romeo itu. Belva tak habis pikir dengan mereka berdua, bisa bisanya mereka melakukan hal yang tak senonoh di area sekolahan. Sungguh membuat belva rasanya ingin mencaci mereka saja. Belva mengatur nafasnya yang tadi sempat ngos ngos an akibat berlarian. Tadi dirinya sempat dipergoki oleh mereka berdua namun dengan cepat, dirinya langsung berlari membuat mereka berdua tak melihat dirinya sedang melihat mereka bercumbu.
Bayangkan jika dirinya dipergoki mereka berdua, bisa habis dirinya ditangan pria bernama romeo itu. Dipikir pikir, seharusnya Avanda bernama juliet agar terlihat serasi. Namun dilain pikirnya juga ia terlihat sangat serasi.
Belva menghembuskan nafasnya lelah.
"Dasar gila!" Umpatnya kesal.
Belva tak lagi memikirkan hal itu, sudah berapa kali ia melihat mereka berdua dipergoki oleh dirinya sedang bercumbu. Sungguh membuatnya kesal setengah mati. Siapa yang tidak kesal, saat dirinya memergoki mereka, dirinya hanya bisa menggigit jari telunjuknya saja.
Nasib.
Namun dengan pikiran yang masih diselimuti oleh pikiran itu. Matanya melihat bayu seorang diri sedang berjalan kearah rooftop. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh bayu jika pria itu di rooftop. Namun rasa penasarannya langsung ia tepis karena mengingat jika Avanda dan seorang laki laki itu masih berada di rooftop.
Dengan cekatan belva menghampiri bayu untuk menghentikan langkahnya. Belva merasa sangat capek karena dirinya sedari tadi terus berlari, hingga akhirnya langkah kakinya berhasil membuat langkah bayu terhenti seketika.
Bayu mengerutkan alisnya tanda tak paham apa yang dilakukan oleh gadis yang berada didepannya ini. "Ada apa?" Tanya bayu to the point.
Belva hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal itu dengan cengiran dibibirnya. "Emm, itu aku mau ... Aaaa, aku butuh bantuan kamu, iya aku butuh itu" Jawab belva gugup membuat bayu mengangkat alis tak paham.
"Sulit dimengerti, coba ulangi."
Belva hanya berdehem pelan, "Aku butuh bantuanmu, apa kau mau membantuku?"
Bayu hanya mengangguk paham dan ber oh ria saja. "Tidak bisa, aku ada keperluan penting." Pungkasnya lalu meninggalkan belva sendiri dikoridor sekolah.
"Tidak bayu, kau jangan pergi ke rooftop!" Teriak belva membuat bayu berhenti spontan dan membalikkan badannya menghadap belva yang berada dibelakangnya yang tak jauh didepannya.
"Rooftop?" Gumamnya. "Siapa yang mau pergi ke rooftop? Aku merasa, aku tidak kesitu" Lanjutnya saat belva sudah berada dihadapannya.
Belva rasanya ingin ditenggelamkan saja di samudra atlantik. Sungguh ia merasa sangat malu saat ini, bagaimana pun ia sudah buruk sangka pada bayu.
"Emm hahaha aku kira kau akan pergi ke rooftop,"
"Memangnya kenapa jika aku pergi ke rooftop? Apa ada masalah denganmu?" Belva langsung terdiam saat bayu mengucapkan itu. Apa yang diucapkan bayu itu benar, mengapa ia repot repot untuk menghentikan bayu pergi ke rooftop. Namun belva masih mempunyai rasa kasihan kepada pria yang berada didepannya itu.
Bagaimanapun Avanda adalah wanita yang akrab dengan bayu jadi belva berpikir Avanda adalah kekasih bayu.
"Tidak ada apa-apa, silakan kau pergi. Maaf aku mengganggu jalanmu" Setelahnya belva langsung meninggalkan bayu sendirian dengan raut wajah yang masih tak paham atas sikap belva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stalker Girl
Mystère / ThrillerSebenarnya menjadi seorang stalker itu tidak enak. Semuanya harus serba rahasia, namun itu semua tak mengurungkan kegiatan seorang wanita bernama Belvanya Derixon. Ia seorang stalker girl setia ... Terdengar aneh mungkin , ... Namun yaa, itu semu...
