Lima

75 22 8
                                    

Kini arel tengah berada di sebuah restouran.

Setelah tadi ia menghabiskan waktunya di tepi danau, ia memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat untuk mengisi perutnya yang sedikit keroncongan.

Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore yang berarti sebentar lagi akan menjelang malam.

Pikirannya melayang pada fourkas yang sepertinya merupakan tempat yang bagus untuk dirinya bermalam malam ini, daripada pulang menuju rumah. Ia bahkan terlalu malas untuk mendengar ocehan sang papa,  membayangkan mukanya saja sudah membuat ia jengah.

Arel bersiap siap untuk pergi dari restoran megah ini setelah membayar pesanan dan bersiap untuk menuju fourkas yang jaraknya lumayan dekat dari tempat ini.

Arel membenarkan topi hitamnya dan bersiap keluar dari restoran ini,  namun sesuatu menarik perhatian matanya, sesuatu yang terasa familiar bahkan aura nya terasa akrab.

Sepasang lelaki dan wanita tengah bercengkrama mesra dan si lelaki terlihat tengah merangkul wanita yang bisa dibilang lebih muda dan lebih kecil dari perawakan badan lelaki tersebut yang berkisaran umur 30 tahun lebih.

Namun sepasang lelaki dan wanita itu berposisi membelakangi dirinya, yang membuat dirinya tidak bisa melihat jelas siapa sosok laki laki itu.

Langkah kaki arel semakin mendekat dan mendekat ke arah mereka untuk melihat jelas wajah kedua orang itu..

Deg!

Perawakan lelaki yang nampak familiar itu, semakin terlihat tatkala wajah seseorang berpaling untuk memesan makanan yang membuat langkah kaki arel berhenti.

"om Arsen?"batinnya berkata sesuatu yang tak dapat ia percaya.

Setaunya om nya ini tengah berada di luar negri. Bagaimana mungkin adik dari ayahnya ini berada di Indonesia, bahkan  sudah 4 tahun yang lalu ia tidak bertemu, mengetahui kabarnya saja pun ia tidak tahu.

Tetapi ia tidak bisa meyakinkan jika orang itu adalah pamannya.

Dan yang paling membuat ia penasaran adalah sosok perawakan wanita yang menurutnya  mirip dengan seseorang,  pikirannya melayang pada seseorang namun hatinya berkata. "tidak mungkin wanita itu dia, mungkin hanya mirip saja"

Dari pada di selimuti dengan konspirasi  yang membuatnya sakit jantung dan penasaran,  lebih baik untuk dirinya menepis jauh jauh dugaan dugaan yang belum tentu benar adanya.

Segera arel pun melanjutkan perjalanannya  menuju fourkas . Markas yang dibuat dirinya beserta baladnya.

Sesampainya di fourkas ia dapat melihat satu motor terparkir di depan halaman rumah kecil yang merupakan patungan dari ke lima member alias ke 4 balad beserta dirinya.

Ia segera membuka pintu fourkas yang ternyata tidak terkunci. Yang Berarti salah satu baladnya ada di dalam, karna perlu diketahui bahwa mereka berlima mempunyai kunci cadangan masing masing.

Arel segera masuk dan ia melihat seseorang yang tengah rebahan di atas kursi sembari memejamkan mata  terlihat masih ada tetesan air yang membasahi setengah rambut orang tersebut.

"Roman?"

"man?"

Arel mendekati roman dan menggoyangkan badan temannya yang sepertinya habis sholat itu, karna lipatan sejadah dan sebuah tasbih yang berada di atas meja.

"hm?"jawab roman terlihat malas untuk membuka matanya.

"jangan langsung tidur gob*lok, bentar lagi isya, sayang kalo lo batal nanti"ucap arel menarik kedua tangan roman hingga terduduk, arel segera duduk di samping roman.

Mas Santri PilihanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang