Bab 3

877 128 1
                                    

Awan-awan kelabu menaungi sebuah hunian besar yang berada di tengah-tengah hutan, menghalangi cahaya masuk.

Pohon-pohon tinggi dan besar mengakar kuat di sekitar hunian besar itu. Satu-satunya hunian yang berdiri tegak di hutan pinggiran kota.

Di sekeliling hunian besar itu menjulang tinggi tembok yang berbahan dasar concrete berkualitas tinggi, berfungsi untuk mencegah serangan dari hewan-hewan buas yang hidup bebas di hutan.

Sebuah mobil jenis Ford Mustang memasuki hunian besar itu di kesunyian hari menjelang petang. Satu per satu penumpang mobil itu keluar, berjalan memasuki rumahnya.

Menyisakan dua insan yang berbeda jenis kelamin. Hugo membuka pintu mobil, melangkah keluar, lalu menoleh pada Agatha.

"Ayo, Claire! Mau sampai kapan kau mematung di situ?"

Agatha yang sedang melihat-lihat rumah itu dan sekitarnya, terhenyak. Dia bergegas keluar dari mobil. Suasana yang gelap menyapanya, tubuhnya merasakan suhu yang lebih dingin dari sebelumnya.

Tangan Hugo menutup pintu mobil, kemudian menggandeng tangan putih pucat perempuan di sampingnya. "Ayo, masuk!"

"Ini rumahmu?"

Hugo menoleh. "Rumah kita."

Agatha mengerutkan dahinya, keheranan. Apa maksudnya?

Dia tidak sempat meminta penjelasan kepada Hugo, karena laki-laki itu terus membawanya melangkah memasuki rumah besar di depannya, yang terlihat menyeramkan dari luar.

Hugo membawanya menaiki anak tangga yang terhubung dengan lantai dua, melewati lorong-lorong, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap.

"Masuklah, nanti aku akan menjemputmu saat waktunya makan malam."

Agatha terdiam, tidak ada niatan untuk menjawabnya. Dia memperhatikan laki-laki berambut cokelat gelap itu menaiki tangga, menuju lantai tiga.

Bulu kuduknya berdiri, aura di rumah ini terasa tidak menyenangkan sama sekali, suram. Seperti tidak ada kehidupan di sini.

Rumahnya besar dan megah, tetapi kenapa dari awal aku masuk, aku tidak melihat satu pun pelayan di sini?

Agatha menoleh ke belakang dengan cepat, menatap pintu di depannya, lalu melihat ke sekitar lorong yang sepi. Dia merasa ada yang sedang memperhatikannya dari tadi.

Menghela napas pelan, tangan Agatha memutar handle pintu. Berkali-kali dicoba, pintu itu tetap tidak bisa dibuka.

Pintu ini terkunci? Gimana sih laki-laki gila itu?! Dia menyuruhku untuk mendobrak pintunya?

"Pe-permisi, Nona."

Agatha membalikkan tubuhnya dengan cepat. Suara itu mengejutkannya.

Sekarang, di hadapannya, seorang perempuan dewasa berpakaian khas pelayan berdiri dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tubuhnya yang gemetaran membuat Agatha kebingungan. Apa salahku? Kenapa dia terlihat ketakutan?

"Kenapa kau ketakutan melihatku? Apa wajahku se-menyeramkan itu?"

Tubuh wanita itu tersentak ketika mendengar pertanyaan dari Agatha. Aneh. Apa yang perlu ditakutkan? Itulah pikir Agatha. Wanita itu jelas lebih tua dan lebih tinggi dibandingkan dengan Agatha.

"Sa-saya mau mem-memberikan kunci cadangan ka-kamar Nona," katanya dengan terbata-bata, mengabaikan pertanyaan Agatha.

Agatha meraih kunci yang diulurkan oleh pelayan itu. Dia menatapnya canggung. "Hmmm ... siapa namamu?"

The New MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang