Haiiiiiii💞
Sorry, karena gak jadi update tadi malam. Because, mendadak aku ada urusan;(
So, sebagai gantinya aku update hari ini
Tolong tinggalin jejak ya!
***
Hari ini Jingga datang ke sekolah lebih awal, tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini dia tidak membawa mobil sendiri, melainkan diantar oleh papanya.
Entah kenapa, sejak mengetahui masalah yang menimpa keluarganya, semangat Jingga seolah ikut menghilang. Dia jadi malas melakukan apa pun.
Suasana sekolah pun masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang sudah datang. Wajar saja karena waktu masih terlalu pagi.
"Jingga."
Seseorang memanggilnya dari ambang pintu kelas. Tak lama kemudian, orang itu melangkah masuk.
"Lo beneran Jingga, kan?" tanyanya memastikan.
"Iya. Ini gue, Ca," jawab Jingga kepada sahabatnya, Aca.
Aca langsung menghela napas lega.
"Gue kira setan." Dia lalu menjatuhkan dirinya ke kursi sebelah Jingga.
"Sembarangan lo."
"Btw, kok tumben lo datang sepagi ini?" tanya Aca heran.
"Lagi pengen aja."
Namun, Aca sadar ada yang berbeda dari sikap sahabatnya hari ini. "Lo lagi ada masalah ya?" tanyanya penuh selidik.
Mendengar pertanyaan itu, Jingga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Enggak kok."
"Lo gak bisa bohong sama gue, Jingga. Gue tau pasti lo lagi ada masalah. Biasanya lo pecicilan, sekarang malah diam terus. Mata lo juga sembab kayak habis nangis."
Aca menatap Jingga serius.
"Cerita sama gue. Lo lagi ada masalah apa? Siapa tau gue bisa bantu."
Jingga memaksakan senyum kecil. "Gue gapapa kok, Ca. Mata gue sembab karena tadi malam maraton drakor."
"Gak. Gue yakin lo bohong," kata Aca sembari menyilangkan tangan di dada.
"Kalau lo gak mau cerita, gue gak mau temenan sama lo."
Jingga langsung menghela napas pelan. "Gue beneran gapapa, Ca. Serius."
Aca menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerah.
"Yaudah terserah lo deh, kalau emang lo belum mau cerita sekarang. Tapi ingat ya, kalau suatu saat lo udah siap buat cerita, gue selalu siap jadi pendengar lo," Aca mengusap bahu sahabatnya lembut. "Dan gue bakal bantu lo semampu gue."
"Iya, Ca. Makasih ya." Kali ini Jingga tersenyum tulus.
"Gue beruntung banget punya sahabat kayak lo sama Abel."
Aca ikut tersenyum. "Gue sama Abel yang lebih beruntung karena punya sahabat kayak lo."
"Intinya kita sama-sama beruntung deh," ujar Jingga sambil terkekeh kecil.
"Ohiya, Abel mana? Kok gak bareng lo? Biasanya kan kalian berdua lengket," tanya Jingga.
"Oh, dia tadi telat bangun. Jadi nyuruh gue berangkat duluan aja."
"Oh gitu."
Aca mengangguk pelan.
***
"Lo gak bawa mobil, Jing?" tanya Abel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Eros (End)
Teen Fiction[ FOLLOW DULU YUK SEBELUM BACA!] (MASIH REVISI) "Kamu pikir semudah itu pergi dari ku? Setelah kamu buat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu? Jingga, kamu yang udah buat aku kayak gini, dan kamu juga yang harus terima konsekuensinya!!" Publis...
