57

1.6K 34 6
                                        

Hai guys, I'm backkkkk🥰🥰
How are u guys? I'm so sorry karena baru bisa update lagi hari ini🙏🏻🙏🏻 karena hari2 yang semakin super sibukkk, btw aku skrg udh semester 6, maka dari itu aku udah gak bisa buat sering update kayak dulu lagi. Sebenarnya aku pengen banget buat rajin update, terus nulis/ ngelanjutin cerita-cerita aku. Tapi sikonnya benar-benar ga ngedukung🥲 maybe, kalau aku udah lulus aku bakal sering update lagi yaaaa. Ini aku usahain aja dulu buat update, walaupun kayaknya bakal jarang banget huhuuuu🥹🥹

***

1 jam yang lalu, mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Jingga dan Raka juga sudah mendapat layanan dari pihak rumah sakit. Akan tetapi, kabar yang mereka dapat dari keadaan Jingga, membuat mereka bingung. Antara senang dan tidak.

"Bagaimana ini, pa? Jingga hamil begini," Tanya Rachel bingung.

Yap, setelah keadaannya tadi di periksa oleh dokter. Dokter tersebut mengatakan bahwa Jingga sedang hamil, dan kandungannya sudah memasuki 3 minggu.

Andai saja, keadaannya tidak lagi seperti ini. Mereka pasti akan senang mendengar kabar itu, akan tetapi keadaannya kini berbeda. Bukan bermaksud tidak bersyukur, akan tetapi mereka benci dengan kenyataan bahwa Jingga mengandung anak dari Eros.

"Gak papa, ma. Biarkan aja kandungan itu, yang penting Jingga dan Eros itu tetap cerai," sahut Evan.

Jingga yang memang sedari tadi sudah sadar tanpa di ketahui oleh Kedua orang tuanya, kini pun menangis. "Aku–hamil?" Tanyanya sembari terisak.

Evan dan Rachel yang mendengar tangisan itu, seketika pun menoleh ke arah Jingga. Keduanya melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang Jingga. "Jingga, kamu udah sadar?" Tanya Rachel

"Jawab pertanyaan aku, mama, papa! Apa benar aku hamil?" Tanya Jingga.

Evan menghela nafas, kemudian menjawab dengan anggukan. "Iya, sayang. Kamu hamil," jawab Evan.

"Hiks, kenapa? Kenapa aku harus hamil?" Tanya Jingga sembari menatap perutnya yang masih datar.

Rachel mendekap erat tubuh rapuh putrinya. "Stt, sayang! Gak boleh ngomong gitu! Itu anugerah dari Tuhan," ujar Rachel.

"I know, ma. Tapi dengan keadaan gini? Apa aku harus bersyukur?" Seru Jingga yang masih terisak.

"Gak papa, sayang. Masih ada kami, kami bakal selalu ada di samping kamu. Kami bakal selalu bantu kamu," ujar Evan. "Dan kamu tenang aja, walaupun kamu hamil, papa pastiin kamu bakal tetap cerai dengan Eros," sambung Evan.

Lama terdiam, kemudian Jingga berkata kembali. "Mama, papa," panggil Jingga kepada orang tuanya.

"Iya, sayang?" Tanya mereka secara bersamaan.

"Kalau gitu, aku gak akan cerai sama Eros," sahut Jingga.

Kedua orang tuanya mendengar itu terkejut. Bahkan kini Evan sudah menatap tajam Jingga.

"Apa maksud kamu, sayang?" Tanya Evan.

"Pa, aku gak mau anak aku lahir tanpa sosok ayah," jawab Jingga.

"Kamu lupa atau gimana? Eros itu gila! Bisa-bisanya kamu masih mau mempertahankan pernikahan kalian. Apa kamu lupa apa yang sudah Eros perbuat dengan kamu? Lagi pula, kalau kamu tetap mempertahankan pernikahan kalian, dan lahirnya anak itu nanti juga bakal tanpa sosok ayah, karena Eros sedang di penjara dengan waktu yang lama," tutur Evan.

"Aku gak lupa, pa. Aku bahkan selalu ingat semua apa yang udah Eros lakuin ke aku! Tapi, aku yakin Eros pasti bisa berubah, apalagi dia udah di penjara kan? Dia pasti bakalan kapok," ucap Jingga. "Setidaknya, demi cucu kalian," sambung Jingga.

Crazy Eros (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang