Haii, apa kabar semua?
Aku update lagii niii🥰
Kalau part ini rame, aku update lagi nanti malam.
***
Sesudah menyelesaikan urusannya dengan kedua orang tua Eros, Jingga pun memutuskan kembali ke kamar Eros. Tak lupa, gadis itu membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuk Eros yang tadi sudah ia siapkan.
Ceklek.
"Maaf, aku lama," ujar Jingga yang baru saja masuk ke dalam kamar Eros.
Suara Jingga yang terdengar di telinga Eros membuat laki-laki itu, yang tadinya sedang bersandar di headboard ranjang sambil bermain ponsel, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jingga.
"Gak apa-apa, Sayang," balas Eros sembari tersenyum. Lebih tepatnya berpura-pura tersenyum, karena sebenarnya laki-laki itu sedang mati-matian mengendalikan emosinya setelah membaca pesan mesra dari laki-laki lain di ponsel Jingga.
Jingga berjalan mendekati Eros. Setelah sampai di hadapan laki-laki itu, ia menaruh nampan yang dibawanya di atas nakas samping tempat tidur.
"Emang kamu dari mana? Kok lama?" tanya Eros seraya menepuk kasur di sampingnya, memberi isyarat agar Jingga duduk di sana.
"Tadi mama kamu ngajak aku ngobrol sebentar," bohong Jingga sembari duduk di samping Eros.
'Mama sama Papa pasti udah ngejalanin misinya' batin Eros sambil tersenyum miring tanpa sepengatahuan Jingga.
"Oh, ngobrolin apa memangnya?" tanya Eros pura-pura penasaran.
"Adalah, kepo banget," ujar Jingga sinis.
"Bukan kepo, Sayang. Cuma pengen tau aja," kata Eros sembari mengacak rambut Jingga.
"Ish, kamu nih kebiasaan ya. Selalu aja ngacak-ngacak rambut aku," ujar Jingga kesal.
"Maaf, tapi ngacak-ngacak rambut kamu itu salah satu hal favorit aku," ucapnya sembari tersenyum ke arah Jingga.
Mendengar itu, Jingga hanya berdecak malas.
"Oh iya, aku mau balik. Badan aku capek semua, pengen istirahat," kata Jingga.
"Kok cepat banget? Kalau kamu capek, istirahat aja di sini, di samping aku. Atau kamu bisa tidur di kamar tamu," ujar Eros seolah menahan kepergian Jingga.
"Gak bisa. Lagian aku punya rumah, Ros. Kamu juga udah mendingan sekarang. Nanti kalau kamu perlu apa-apa, kamu bisa minta tolong sama bibi atau orang tua kamu," ucap Jingga berusaha tetap lembut.
"Tapi aku maunya sama kamu. Kamu kan pacar aku," ujarnya tak menyerah. Ia masih ingin gadis itu tetap di sana bersamanya.
"Please, Sayang. Aku capek, aku pengen istirahat di rumah aja."
Tak ada cara lain, Jingga pun terpaksa memanggil Eros dengan sebutan sayang, dan ia yakin cara ini pasti berhasil.
Dan benar saja. Mendengar panggilan itu, Eros langsung tersenyum lebar.
"Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Eros antusias.
"Sayang," jawab Jingga sembari tersenyum paksa.
"Akhirnya aku dengar kamu manggil aku sayang lagi. Soalnya semenjak kecelakaan itu, aku gak pernah lagi dengar kamu manggil aku kayak gitu," celotehnya dengan nada bahagia, meski terselip sedikit kesedihan.
"Iyaudah, maaf," balas Jingga malas.
"Gak apa-apa, Sayang. Aku ngerti kok," katanya sembari tersenyum. "Yaudah, kamu balik gih sana. Tapi besok ke sini lagi ya," lanjutnya.
Jingga mengangguk. "Yaudah, aku balik ya," pamitnya sembari beranjak dari duduknya.
"Sini bentar!" pinta Eros, menyuruh gadis itu mendekat.
Jingga mengernyit bingung. "Kenapa?" tanyanya.
"Tunduk dikit dong, Babe," pinta Eros lagi.
Walaupun malas, Jingga tetap menuruti permintaan itu dengan perasaan terpaksa.
"Kamu mau ap—"
Cup.
Ucapan Jingga terputus karena tiba-tiba saja Eros mencium pipinya.
Jingga yang dicium seketika memanas. Entah karena malu atau marah. Karena sejujurnya, ini pertama kalinya Eros menciumnya lagi setelah mereka putus.
"K-Kamu apaan sih, pakai cium-cium segala?" tanya Jingga dengan pipi memerah.
"Kenapa? Kita kan udah gak di tempat umum. Lagian di sini cuma ada kita berdua, kan?" bukannya menjawab, Eros malah balik bertanya.
"Ya, tapi kan gak tiba-tiba gitu. Setidaknya bilang dulu," jawab Jingga berusaha tenang.
"Yaudah, sorry. Nanti lain kali aku bilang dulu deh sama kamu," kata Eros sembari tersenyum.
"Yaudah iya. Udah deh, aku mau balik dulu. Kalau kita ngobrol terus, nanti aku gak pulang-pulang lagi," ujar Jingga.
Eros mengangguk. "Oke, nanti kamu minta dianterin sama Pak Joko ya."
"Iya. Yaudah, bye," katanya. Kemudian gadis itu pun melenggang pergi keluar dari kamar Eros.
Setelah kepergian Jingga, Eros kembali merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Siapa sebenarnya laki-laki yang tadi ngirim pesan ke Jingga? Kok kayaknya mereka dekat banget. Terbukti dari nama kontak laki-laki itu yang pakai love di handphone Jingga," gumam Eros.
"Oke, tugas gue bertambah sekarang. Gue bakal cari tau tentang siapa itu Raka," lanjutnya sembari tersenyum sinis.
Kira-kira karma apa yang cocok untuk Jingga?
Spam next disini 👉
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Eros (End)
Teen Fiction[ FOLLOW DULU YUK SEBELUM BACA!] (MASIH REVISI) "Kamu pikir semudah itu pergi dari ku? Setelah kamu buat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu? Jingga, kamu yang udah buat aku kayak gini, dan kamu juga yang harus terima konsekuensinya!!" Publis...
