Hai🦋
Akhirnya bisa update lagi.
Jangan lupa votmennya ya! Supaya aku lebih semangat lagi buat lanjut.
***
Sudah seminggu sejak kejadian saat Jingga tiba-tiba memutuskan Eros. Selama seminggu itu pula, laki-laki tersebut terus mengirim pesan dan meneleponnya berkali-kali. Namun, semuanya selalu Jingga abaikan.
Bahkan, kemarin Eros kembali mengirim pesan dengan isi yang sama seperti sebelumnya, dia tidak ingin putus dari Jingga.
Hal itu membuat Jingga semakin kesal hingga akhirnya dia memblokir nomor laki-laki itu.
Ngomong-ngomong soal putusnya hubungan mereka, Jingga sama sekali belum memberi tahu teman-temannya bahwa dia telah berhasil menyelesaikan dare yang mereka berikan. Pasalnya, beberapa minggu terakhir sekolah mereka sedang libur karena murid kelas dua belas melaksanakan ujian.
Jingga sengaja tidak ingin memberi tahu mereka lewat telepon ataupun pesan. Dia ingin mengatakannya secara langsung.
"Pa, aku naik mobil aja ya buat pergi sekolah," ujar Jingga yang sudah lebih dulu menyelesaikan sarapannya.
"Oke. Hati-hati di jalan ya, Sayang. Jangan ngebut-ngebut!" ucap papanya yang bernama Evan.
"Siap, Pak Bos!" katanya sambil memberi hormat.
Melihat tingkah putrinya, Evan pun terkekeh gemas.
"Udah diminum susunya, Sayang?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja datang sambil membawa segelas jus buah naga di tangannya. Dia adalah Rachel, mama Jingga.
"Udah kok, Ma," celetuk Jingga.
Kemudian gadis itu mengambil tasnya yang berada di kursi sebelah.
Setelah itu, Jingga pun menyalami kedua orang tuanya.
"Jingga pergi dulu ya, Pa, Ma," pamitnya sambil mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Iya, Sayang. Ingat, hati-hati!" seru kedua orang tuanya kompak, yang dibalas anggukan oleh Jingga.
Orang tua Jingga memang sangat menyayanginya. Bagaimanapun, Jingga adalah anak semata wayang mereka. Mereka tidak ingin kehilangan putri satu-satunya itu, sehingga selalu melindungi dan memanjakannya.
***
Di kelas.
"Gimana? Lo udah mutusin Eros belum?" tanya salah satu teman Jingga yang bernama Aca.
"Tenang aja, gue udah mutusin dia kok," jawab Jingga santai sambil memainkan kuku-kukunya yang semalam baru dipakaikan kutek.
"Bagus! Lo keren banget deh pokoknya!" ujar teman mereka yang lain, Abel.
"Keren apanya?" tanya Jingga bingung.
"Ya keren lah. Secara lo bisa naklukin si cowok kutu buku di kelas kita. Lo tau sendiri kan, si Eros itu dinginnya minta ampun. Tapi anehnya, lo bisa segampang itu pacaran sama dia," jelas Abel.
"Iya juga, ya. Kok bisa Eros segampang itu nerima ajakan lo buat pacaran?" tanya Aca sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya, seolah sedang berpikir keras.
Mendengar itu, Jingga hanya mengedikkan bahu, seolah tak peduli.
"Mana gue tau? Bukan urusan gue juga. Yang penting dare gue udah selesai, kan?" jawabnya sambil tersenyum miring.
"Yoi!" seru kedua temannya bersamaan.
"Eh, bentar deh!" celetuk Aca tiba-tiba.
Jingga menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya ada apa.
"Waktu lo mutusin dia, respon dia gimana?" tanya Aca penasaran.
"Nah iya, gue juga kepo. Apa reaksi si cowok kutu buku itu?" sambung Abel.
Pertanyaan itu membuat Jingga kembali teringat kejadian seminggu lalu, saat dia meminta putus dengan Eros di restoran tempat mereka makan malam berdua.
Jingga masih ingat jelas bagaimana marahnya Eros waktu itu ketika dia tiba-tiba meminta putus.
Jingga jadi bingung sendiri. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada teman-temannya? Tentang Eros yang marah besar dan menolak permintaan putus darinya?
"Jing."
Panggilan Abel langsung membuyarkan lamunannya.
Jingga spontan menatap tajam laki-laki itu. "Ha? Eh bentar—lo tadi manggil gue apa?" tanyanya.
Abel yang ditatap seperti itu malah menyeringai santai. "Jing," ujarnya polos.
"Ya ampun, Abel. Gue udah bilang berapa kali sama lo, jangan panggil gue Jing! Ntar dikira orang nama gue anjing lagi," kesal Jingga.
"Ya terus salah siapa nama lo Jingga? Hampir mirip, tau," balas Abel tanpa dosa.
"Lo tanya aja sama orang tua gue. Mereka yang ngasih nama!" teriak Jingga sambil memutar bola matanya malas.
"Yaelah, sensian banget, Neng," ucap Abel sambil terkekeh.
"Udah-udah! Jangan berantem terus napa!" lerai Aca yang sedari tadi hanya diam. Kalau tidak dihentikan, mungkin perdebatan mereka tidak akan ada habisnya.
"Lanjut gih. Jadi, respon Eros gimana?" tanya Aca lagi setelah suasana sedikit tenang.
"Sebenarnya, waktu gue minta putus sama dia, dia gak setuju dan malah marah," jawab Jingga yang akhirnya memilih berkata jujur. "Dan dia juga hampir tiap hari nelepon sama ngirim pesan ke gue."
"Sampai sekarang?" tanya Aca.
"Sekarang sih enggak, karena nomor dia udah gue blokir kemarin. Gue kesal banget dia gangguin gue terus," jelas Jingga.
"Tapi dia gak sampai datang ke rumah lo kan?" tanya Aca lagi.
Jingga menggeleng.
"Wah, gila juga tuh orang. Padahal kelihatannya dia bodoh amat sama sekitar, tapi ternyata dia gak mau putus?" sahut Abel.
"Gue juga gak tau," balas Jingga sambil mengedikkan bahu.
"Atau jangan-jangan dia suka beneran sama lo?" sambung Abel lagi.
"Menurut gue masuk akal sih. Kalau dia gak suka sama Jingga, kenapa dia mau nerima Jingga?" celetuk Aca.
"Tapi pertanyaannya cuma satu. Sejak kapan? Sedangkan dulu dia cuek banget sama gue. Bahkan kita gak pernah kenalan," ujar Jingga heran.
"Nah itu dia. Gue juga bingung," ucap Aca.
"Udah, udah! Jangan dilanjutin. Ada orangnya," kata Abel tiba-tiba.
Dan benar saja, Eros baru saja masuk ke dalam kelas dengan tas yang bertengger di kedua pundaknya.
Detik itu juga, mata mereka saling bertemu dengan tatapan yang berbeda. Namun, tatapan itu tidak berlangsung lama karena Jingga langsung memalingkan wajahnya lebih dulu.
Segini aja ya!
Kalau memang rame, aku tulis lebih banyak nanti.
Jangan lupa votmennya, okey!
See u nextt part ❣️
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Eros (End)
Teen Fiction[ FOLLOW DULU YUK SEBELUM BACA!] (MASIH REVISI) "Kamu pikir semudah itu pergi dari ku? Setelah kamu buat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu? Jingga, kamu yang udah buat aku kayak gini, dan kamu juga yang harus terima konsekuensinya!!" Publis...
