Setelah selesai melihat keadaan Axel, saat ini Jingga dan Rachel sudah kembali ke ruangan mereka.
"Mau mama potongin lagi buah Apelnya?" Tawar Rachel kepada Jingga.
Jingga menggeleng dengan mulut yang sibuk mengunyah buah Apel. "Enggak usah, ini udah cukup kok, ma," tolak Jingga.
Rachel mengangguk. "Yaudah, setelah ini kamu istirahat lagi ya! Biar energi kamu semakin pulih," perintah Rachel.
"Iya, ma," sahut Jingga.
Ceklek
Pintu ruangan mereka terbuka, yang membuat keduanya menoleh ke arah pintu tersebut.
"Raka," panggil Rachel.
Yap, orang yang masuk tadi ialah Raka.
Raka tersenyum, sebelum kemudian menyalimi Rachel. "Halo, tante," katanya ramah.
"Iya, halo," seru Rachel. "Tante pikir tadi tu siapa yang datang," sambungnya.
Sedangkan Jingga? Perempuan itu kini memilih untuk menundukkan kepalanya sembari tetap mengunyah.
Rachel yang sadar akan situasi canggung di sekitarnya pun lantas bersuara. "Kebetulan banget kamu datang di waktu yang pas," ujar Rachel.
Mendengar itu membuat Raka mengernyit bingung.
"Tante titip Jingga sebentar ya! Soalnya tante mau ke kantin, ada yang mau tante beli," lanjut Rachel.
"Ohiya, tante. Silahkan!" Tutur Raka.
"Jingga, mama ke kantin sebentar ya! Kamu di sini dulu sama Raka," pamit Rachel kepada sang anak.
Jingga mengangkat wajahnya ke arah Rachel. "Jingga ikut mama aja ya," ujar Jingga.
"Gak bisa, sayang. Kondisi kamu belum terlalu fit, jadi kamu di sini aja sama Raka," tolak Rachel.
Menghela nafas pelan, sebelum kemudian Jingga menganggukkan kepalanya. "Yaudah," katanya pasrah.
Setelah sudah mendapat persetujuan dari sang anak, Rachel pun segera melangkahkan kakinya pergi.
Dan kini, tersisa lah Jingga, dan Raka. Setelah kepergian Rachel, situasi di situ malah semakin terasa canggung.
Raka berdehem. Dan Jingga pun menoleh ke arah Raka.
"Gimana keadaan kamu? Udah mendingan?" Tanya Raka basa-basi.
Jingga mengangguk. "Udah," katanya singkat.
"Baguslah, aku senang dengarnya," ucap Raka.
"Kamu–ngapain kesini?" Tanya Jingga.
"Kenapa? Gak boleh ya?" Bukannya menjawab, Raka justru melemparkan pertanyaan balik ke Jingga.
Mendengar itu, Jingga pun menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, bukan gitu. Cuma aneh aja," katanya.
"Aneh? Aku cuma pengen jenguk kamu. Dimana anehnya?" Tanya Raka sembari mengangkat satu alisnya.
"Aneh aja, soalnya aku pikir kamu masih marah sama aku," jawab Jingga.
"Soal itu–aku mau minta maaf sama kamu," tutur Raka.
"For what? Aku rasa gak ada yang perlu kamu minta maafin ke aku," imbuh Jingga.
"Ada. Kejadian di cafe waktu itu, harusnya aku gak marah-marahin kamu di depan banyak orang. Aku terlalu terbawa emosi kemarin, aku minta maaf," sahut Raka. "Seharusnya aku lebih dulu cari tau kebenarannya, bukan malah marah-marah," lanjut Raka lagi.
"Kamu gak perlu minta maaf, Rak. Aku emang pantas di gituin, karena kalau aku jadi kamu, aku juga bakal ngelakuin hal yang sama kayak apa yang kamu lakuin waktu itu," Tutur Jingga. "Lagi pula, kejadiannya udah berlalu. Ayo kita lupain yang kemarin!" Pinta Jingga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Eros (End)
Fiksi Remaja[ FOLLOW DULU YUK SEBELUM BACA!] "Kamu pikir semudah itu pergi dari ku? Setelah kamu buat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu? Jingga, kamu yang udah buat aku kayak gini, dan kamu juga yang harus terima konsekuensinya!!" Publish: 17 Maret 202...
