Hi, i'm back 💗
Karena banyak yang ngeluh aku lama update, jadi aku mau usahain, buat update seminggu 2x. Gimana? Setuju gak?
Aku tu sebenarnya dari awal pengen sering-sering update, tapi kadang aku banyak kesibukan, terus otak aku tu buntu buat mikirin alur selanjutnya, jadi aku minta tolong, buat kalian maklumin aku yaa, hehe.
Kadang aku juga ngerasa bersalah kok, karena kelamaan update dan buat kalian nunggu;( maafin akuu yaa sayang-sayangkuuuuuu 💗
Aku janji deh, kedepannya bakal sering update, kecuali kalau aku lagi sibuk yaaa.
Okee, seperti biasa jangan lupa votmennya ya!
Aku baik, kalian juga harus baik loh yaaa. Biar aku tu makin semangat buat nulisnya.
Kadang kalau sedikit yang vote atau coment tu rasanya kayak gimana gitu, sedih beb:(
***
"Gila, tai, monyet, asu!" Segala umpatan keluar dari mulut Jingga sembari kakinya menendang-nendang angin di depannya.
Setelah kejadian tadi bersama Eros, kini gadis itu sedang berjalan pulang. Bukan tanpa alasan Jingga memilih pulang dengan berjalan kaki. Dia hanya ingin menjernihkan pikirannya setelah mendengar ucapan laki-laki bernama Eros itu. Selain itu, rumahnya juga tidak terlalu jauh dari kafe tempat mereka bertemu tadi.
"Dia kira gue bakal bertekuk lutut gitu sama dia mentang-mentang gue mau minjam uang. Dia salah besar kalau berpikiran kayak gitu tentang gue," ujarnya sinis.
"Nyesal gue minta bantuan sama tuh orang. Mending gue kerja jadi pembantu dibanding harus balikan sama dia."
Setelah itu, gadis itu pun hendak menyeberang jalan. Karena terlalu asik mengomel, dia tidak sadar bahwa dari arah samping kanan ada sebuah mobil yang melaju kencang hingga—
"Aaaaaa!" jerit gadis itu sembari memejamkan mata.
Namun, sebelum mobil itu menghantam tubuhnya, Jingga merasakan ada seseorang dari belakang yang lebih dulu mendorong tubuhnya hingga dia terjatuh.
Brak!
Gadis itu pun menoleh ke belakang karena mendengar suara benturan keras tersebut. Seketika tubuhnya menegang. Waktu seolah berhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.
Seseorang yang tadi mendorong tubuhnya, kini terbaring lemah di tanah dengan darah di sekujur tubuhnya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang itu adalah Eros, laki-laki yang tadi dia maki-maki.
Setelah sadar dari keterkejutannya, gadis itu segera melangkahkan kaki mendekati Eros yang terbaring dengan sisa-sisa kesadarannya. Laki-laki itu tersenyum ke arah Jingga.
Sedangkan mobil itu? Sudah melarikan diri. Dasar mobil sialan, batinnya.
Sesampainya di hadapan Eros, gadis itu langsung berjongkok di depan tubuh laki-laki tersebut.
"K-Kamu gapapa kan?" tanya Eros dengan napas tersengal. "S-Setidaknya aku berhasil nyelamatin kamu, walaupun hampir telat," sambungnya.
Lihatlah seberapa besar rasa sayang Eros kepada Jingga. Di saat dirinya sekarat pun, laki-laki itu masih tetap memikirkan keadaan gadis tersebut. Eros bahkan tidak peduli dengan kondisinya sendiri sekarang.
Tak lama setelah mengucapkan itu, laki-laki tersebut pun pingsan karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit.
"Gak, gak! Lo gak boleh tutup mata!" kata Jingga sembari mengguncang tubuh Eros.
"Eros, please! Lo bangun dong, jangan mati!" katanya seraya terus mengguncang tubuh lemah Eros. Bahkan kini gadis itu sudah mulai menangis.
"I-Ini bukan salah gue kan? Hiks..." tanyanya ketakutan sembari menutup mulutnya.
"Gak... ini bukan salah gue. Ini bukan salah gue," lirihnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Gue harus minta bantuan orang buat bawa Eros ke rumah sakit," ujarnya.
"Bertahan, Eros!" katanya, kemudian Jingga pun berlari mencari bantuan.
Entah kebetulan dari mana, ada sebuah warung yang sedang ramai pembeli. Tanpa menunggu lama, Jingga langsung berlari ke arah warung tersebut.
"Pak, Bu, tolongin saya!" ujar Jingga panik.
"Ada apa, Nak?" tanya seorang ibu-ibu. "Kenapa kamu kelihatan panik begitu?" sambungnya.
"Ada teman saya yang ditabrak lari di sana. Tolong bantu saya bawa teman saya ke rumah sakit, Pak, Bu!" jawab Jingga memohon.
"Baiklah. Ayo, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, kita bantu anak ini!" sahut ibu itu sembari mengajak yang lainnya membantu.
***
Sesampainya di rumah sakit, Eros langsung dibawa ke ruang UGD oleh dokter dan suster yang ada di sana.
Sementara itu, Jingga sedang duduk di bangku luar ruang UGD dengan perasaan gelisah. Air matanya tidak berhenti mengalir sejak tadi.
Gadis itu juga sudah menghubungi kedua orang tua Eros dan kedua orang tuanya untuk datang ke rumah sakit. Jujur saja, dia sangat takut sekarang. Dia takut dicap sebagai pembunuh dan dilaporkan ke polisi oleh kedua orang tua Eros.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki membuatnya semakin gelisah. Dia takut itu adalah langkah kaki kedua orang tua Eros. Apa mungkin nanti dia akan ditampar? Ditunjang? Seperti yang ada di film-film. Oh no, Jingga benar-benar takut sekarang.
"Sayang!"
Ternyata tebakannya salah. Suara langkah kaki tadi adalah suara kedua orang tuanya.
"Mama, Papa," ujarnya sembari berhambur ke pelukan sang mama.
"Jingga takut, Ma, Pa... hiks," adunya.
"Tenang, Sayang! Papa yakin Eros pasti baik-baik aja," ujar Evan, berusaha meyakinkan putrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, walaupun sebenarnya dia juga gelisah.
"Iya, Sayang. Tenang ya! Eros pasti bisa ngelewatin ini semua," sahut Rachel.
Jingga pun melepaskan pelukan Rachel.
"Jingga takut... hiks."
"Kita duduk dulu, oke?" ucap Evan sembari menggandeng tangan putrinya agar duduk di bangku yang tadi ditempati Jingga.
"Sebenarnya gimana kronologinya, Sayang? Kenapa bisa Eros ketabrak?" tanya Evan ketika mereka bertiga sudah duduk.
"Ini salah Jingga, Pa, Ma. Jingga yang bikin Eros jadi kayak gini. Harusnya Jingga yang ada di posisi Eros sekarang! Kalau aja Eros gak nolongin Jingga yang hampir ketabrak mobil, Eros pasti baik-baik aja," jelasnya sambil menangis.
"Sstt, udah ya. Ini bukan salah kamu. Jangan nyalahin diri sendiri. Kamu juga gak bakal tahu kalau kejadiannya bakal kayak gini," ucap Evan sembari menyandarkan kepala Jingga ke bahunya. Lalu, pria itu mengelus lembut rambut putrinya.
"Jingga gak boleh ngomong kayak gitu. Ini bukan kesalahan Jingga," tutur Rachel menimpali.
"Tapi Jingga takut. Jingga takut masuk penjara. Jingga takut dicap pembunuh, Ma, Pa," ujarnya sembari menangis.
"Kami yakin kedua orang tua Eros pasti bakal ngerti soal ini, Sayang. Udah, Jingga gak boleh berpikiran kayak gitu lagi, oke?" kata Evan seraya menghapus air mata putrinya. "Percaya sama kami."
Jingga hanya bisa mengangguk pasrah.
'Maafin gue, Eros' batinnya sedih.
Loh, loh, kok ketabrak? Bakalan meninggal dong ya?
Sorry banget kalau misalnya kurang greget atau kurang ngefeel di kalian.
Maklum, diriku ini belum terlalu pandai untuk membuat cerita, hehe.
Tolong tinggalin jejak ya, say!
Sampai ketemu di partt selanjutnya💗💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Eros (End)
Teen Fiction[ FOLLOW DULU YUK SEBELUM BACA!] (MASIH REVISI) "Kamu pikir semudah itu pergi dari ku? Setelah kamu buat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu? Jingga, kamu yang udah buat aku kayak gini, dan kamu juga yang harus terima konsekuensinya!!" Publis...
