11. Menginap Berdua Doang

13.2K 565 17
                                        

Jingga yang mendengar ucapan Eros pun seketika membelalakkan matanya.

"Mau mati lo?" ujar Jingga spontan.

"Kok ucapan kamu kasar banget sih? Padahal aku cuma minta cium," balas Eros sendu.

Sadar akan ucapannya tadi, Jingga pun menelan ludah dengan susah payah.

"S-Sorry, aku keceplosan tadi. Lagian kamu juga ngapain coba minta cium?" katanya sembari berusaha tetap tenang.

"Emangnya kenapa kalau aku minta cium? Bukannya itu hal yang wajar dalam hubungan?" tanya Eros seraya menatap Jingga dalam.

'Ya, karena gue bukan pacar lo beneran, goblok' batin Jingga kesal.

"Ya kan kita lagi di rumah sakit. Nanti kalau dilihat orang gimana? Malu tau," jawab Jingga dengan cengiran canggung.

"Ohh, aku pikir kenapa. Yaudah, kalau memang kamu malu, nanti aja cium aku pas aku udah pulang ke rumah," tutur Eros santai, tanpa tahu bagaimana reaksi Jingga saat ini.

'Gila nih cowok. Ya kali gue nyium dia. Gue sama dia kan gak pacaran beneran, anjir' batin Jingga panik.

Merasa tidak mendapat jawaban dari Jingga, Eros pun melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.

"Hei? Are you okay?" tanya Eros.

Jingga yang tersadar pun langsung menganggukkan kepala.

"Jadi gimana? Mau kan?" tanya Eros lagi.

"O-Okay," jawab Jingga gugup.

Mendengar jawaban itu, Eros pun tersenyum senang.

Ceklek.

Pintu terbuka, dan masuklah kedua orang tua Jingga.

"Sayang?" panggil Evan.

"Iya, Pa?" sahut Jingga sembari beranjak dari duduknya, lalu berjalan menghampiri kedua orang tuanya.

"Papa sama Mama mau pulang. Kamu mau ikut atau masih mau di sini?" tanya Evan kepada putrinya.

"Ak—"

Belum sempat Jingga menjawab, Dara lebih dulu masuk dan memotong ucapannya.

"Maaf kalau saya nyela pembicaraan kalian," kata Dara tiba-tiba. "Jingga, sebaiknya kamu di sini dulu aja ya. Soalnya Om sama Tante juga mau balik. Tiba-tiba Om kamu gak enak badan, sepertinya kelelahan. Jadi Tante minta tolong sama kamu buat jagain Eros satu hari ini aja. Besok baru kami gantian jaga Eros," sambungnya dengan nada memohon.

"Maksud Tante... Jingga nginap di sini?" tanya Jingga berusaha tetap sopan, padahal sebenarnya dia ingin menolak mentah-mentah.

"Iya, Sayang. Mau kan?" seru Dara sembari memasang wajah penuh harap.

Jingga yang tadinya ingin menolak seketika merasa gak enak hati melihat ekspresi Dara.

"Yaudah, Tante. Gak apa-apa," ucapnya pasrah.

"Van, Hel? Gak apa-apa kan kalau putri kalian nginap di sini malam ini?" Kini Dara beralih bertanya kepada kedua orang tua Jingga.

'Please, Ma, Pa. Bilang gak boleh' batin Jingga berharap.

Namun sepertinya keberuntungan memang tidak berpihak padanya, karena kedua orang tuanya justru menyetujui permintaan Dara.

"Gak apa-apa, Mbak. Lagian kasihan Eros kalau gak ada yang jaga. Walaupun ada suster di sini, mereka juga gak mungkin terus-terusan jagain Eros," jawab Rachel.

"Terima kasih ya, kalian baik banget," ujar Dara sembari tersenyum, yang dibalas anggukan oleh Rachel dan Evan.

"Yaudah, Jingga. Kalau begitu Mama dan Papa pulang dulu ya," pamit Rachel dan Evan.

"Iya, Pa, Ma," sahut Jingga sembari memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Tak lupa, dia juga menyalami mereka.

"Kalian hati-hati ya," ujar Jingga.

"Iya, Sayang," balas Evan. "Rumah pasti sepi banget karena gak ada kamu malam ini," sambungnya.

"Jingga juga pasti kesepian karena nanti gak ada yang ngomelin Jingga," ujar gadis itu sembari mengerucutkan bibir.

"Kan ada Eros, Sayang. Kamu suruh aja Eros yang ngomelin kamu," tutur Rachel yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

"Ihh, Mama. Kan beda," kata Jingga kesal.

"Iya, iya. Mama tau. Yaudah Mama sama Papa pulang deh, jangan ngajak ngobrol lagi. Nanti yang ada kami gak jadi pulang," ujar Rachel yang dibalas anggukan oleh Jingga.

"Eros, kami pulang duluan ya. Mungkin besok kami ke sini lagi," pamit Rachel kepada Eros.

"Iya, Tante," jawab Eros seadanya.

"Cepat sembuh ya," kini giliran Evan yang bersuara.

"Terima kasih, Om," balas Eros sembari tersenyum.

Setelah itu, Rachel dan Evan pun melenggang pergi.

Kini yang tersisa di ruangan itu hanya Eros, Jingga, Dara, dan Kenan.

"Yaudah, Om sama Tante juga pulang ya," kata Dara sembari tersenyum.

"Iya, Tante," balas Jingga sembari menyalami Dara dan Kenan secara bergantian.

"Eros, Papa sama Mama pulang dulu ya."

"Iya, Ma," sahut Eros.

"Kamu baik-baik di sini, jangan nyusahin Jingga!" peringat Dara sembari mencium kening putranya.

"Iya, Ma, iya," sahut Eros yang mulai jengah.

"Yaudah. Yuk, Mas," ajak Dara kepada suaminya. Setelah itu, Dara pun lebih dulu keluar dari ruang rawat.

"Papa pulang dulu, Boy," ujar Kenan sembari menepuk pelan bahu Eros.

"Iya, Pa. Hati-hati kalian," balas Eros yang dijawab anggukan oleh Kenan.

"Saya duluan, Jingga," pamit Kenan.

Jingga yang mendengar itu pun langsung menjawab gugup. "Iya, Om."

Setelah itu, Kenan pun melenggang keluar menyusul sang istri.











Untuk kalian semua yang udah baca dan dukung cerita aku sampai sekarang, aku mau ngucapin terimakasih banyak sama kalian🥰 kalau bukan karena kalian, mungkin cerita aku gak akan sampai kayak sekarang ini.

Maaf kalau kalian mikir aku terlalu lebay.

Oke itu aja yang mau aku bilang. See u next part😍

Crazy Eros (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang