Wanita Impian
Rumahku memiliki desain yang modern, meski aku tinggal di pinggiran keramaian kota Tokyo. Rumahku terdiri dari dua lantai, namun lantai kedua tidak terlalu besar hanya terdapat 2 ruangan saja, salah satunya adalah kamarku.
Lantai satu rumahku lumayan luas dan terdiri dari banyak ruangan. Aku tidak bisa menyebutkan semuanya karena aku belum mengeceknya satu per satu. Namun satu hal yang pasti, garasi jelas ada di lantai satu.
Aku langsung segera memutari lantai satu dan mengingatnya dengan rinci.
Terdapat banyak sekali perabotan yang tidak paham cara mengoperasikannya. Aku tidak ingin sembarangan menyentuhnya, bisa-bisa seisi rumah terbakar api atau semacamnya. Lagipula beberapa fungsi dari perabotan rumahku ini sudah diset sebagaimana perlunya. Misalnya saja lampu taman, mereka secara otomatis menyala ketika matahari terbenam.
Ada pula pintu dengan hologram yang memerlukan kata sandi untuk membukanya. Yaitu pintu untuk menuju garasi dimana hanya ada motor pemberian Kaitou tadi siang. Garasi ini bisa menampung 1 mobil dan beberapa motor. Mobilku sudah hancur lebur karena kecelakaan itu, jadi aku tidak heran kenapa garasi ini kosong.
Ruangan yang paling membingungkan selanjutnya adalah ruang tengah. Di sinilah tempat berkumpulnya banyak barang yang membuatku berpikir keras. Mulai dari perabotan asing yang tak bisa kugunakan hingga foto-foto yang tidak kukenali.
Aku melihat satu persatu foto tersebut, namun aku tetap saja tidak tahu yang mana adalah istriku. Lalu aku menemukan satu foto dimana itu hanya ada dua orang. Aku dan seorang gadis.
"D-Dia... normal?"
Aku sedikit kaget dan bingung melihat foto tersebut. Apakah benar wanita ini adalah istriku? Jika benar, sungguh aku tidak bisa menemukan alasan kenapa aku bisa menyukainya.
Dia tidak jelek sih, namun bukan jenis wanita yang bisa kau bedakan diantara kerumunan orang. Dia terlihat sangat biasa dan berbeda dari Yumi yang terkesan stand out.
Tapi ketika aku melihat foto itu lagi, terutama di bagian ekspresi kami, kami terlihat senang di foto itu. Aku tidak mengingat apa yang terjadi ketika foto itu diambil, tapi aku bisa mengerti jika senyuman kami adalah senyum kebahagiaan.
Merasa tidak puas dengan hanya satu foto, aku berusaha mencarinya di lemari yang ada di ruang tengah ini. Laci demi laci kubuka berharap aku menemukan lembaran foto atau bahkan album foto.
Tapi lemari itu masih kosong melompong layaknya furnitur yang baru dibeli. Semua yang ada di rumah ini juga masih terasa seperti belum terpakai lama. Mungkin ini rumah memang baru kubeli saat aku menikah dengan gadis ini.
Kalau tidak salah, rumah ini kutinggalkan beberapa bulan, tapi kenapa seisi rumah ini hampir tidak berdebu sama sekali? Apa aku punya pelayan yang kupekerjakan untuk membersihkan rumah ini?
"AAAA...!!"
Tiba-tiba dari arah luar rumah ada teriakan yang menarik perhatianku. Aku tidak bisa berlari tapi setidaknya aku bisa jalan dengan kruk untuk menuju sumber suara. Sumber suara datang dari halaman rumah dan itu lumayan dekat dari ruangan tengah dimana aku berada.
Sesampainya aku di sana, ternyata yang kujumpai adalah Yumi yang terjatuh di tanah dengan tas yang isinya berserakan di sekitarnya.
"Eh?"
Aku berdiri di sana berdiam untuk menyaksikan Yumi dengan posisi berantakan. Posisi kakinya yang terbuka membuatku memiliki akses jelas untuk melihat hot pants-nya. Serta celana dalamnya yang keluar dari koper miliknya membuatku berpikir 'seperti apa celana dalam yang ada di balik hot pants itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Future Where We Are Apart
Fiksi UmumTaki adalah seorang ilmuwan di zaman modern. Malam itu ia terbangun di sebuah rumah sakit. Dia mengalami amnesia. Dia tidak ingat akan kecelakaan yang ia alami. Dia bahkan tidak ingat istrinya yang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Suatu hari dia...