Kita ga bisa ngebungkam semua mulut yang ngerendahin kita dengan dua tangan kita, tapi dengan itu kita bisa tutup kedua telinga kita rapat rapat. Solving problems kan?
- Rainy Days -
Mentari kembali merayapi angkasa, membangunkan paksa jiwa-jiwa masih ingin bersembunyi di balik selimut tebal. Tapi mungkin tidak berlaku bagi Key yang sepagi ini sudah stay di sekolah. Ia berdiri di teras atas. Di depan ruang komputer yang kosong melompong.
Satu persatu siswa datang. Ada yang terlihat senang, ada yang muram. Hal biasa.
Tatapannya menjelajah, tak sengaja menangkap sosok Rindi yang tengah melintasi ruang lab kimia dengan seorang siswa membuntutinya, seperti menjelaskan sesuatu. Bisa ia tangkap, kondisinya Rindi marah saat itu.
“Ngapain di sini?” sebuah suara muncul, bersamaan dengan tangan tak beradab yang tiba tiba menarik pinggangnya agar mendekat ke raga sang adam.
Key hampir menyumpahinya, tapi tertahan dengan telunjuk Rangga yang diletakkan di bibir gadis itu.
“No curse allowed.”
“What the—”
Cup!
“Bastard! Stop this!”
Cup!
“I told you this before. Silahkan,” seringainya muncul.
Tatapan tajam dihadiahkan atas dua kecupan di masing-masing pipi perempuan itu.
“Arggh! Just stay away from me!” teriak Key berang sambil mencoba menjauhkan pemuda Ardhani itu darinya.
Tak banyak yang terjadi, hanya beberapa saat, sebelum Rangga kembali mendaratkan satu kecupan di bagian kanan wajahnya lalu berlari dari sana. Diiringi seruan murka, terjadilah aksi kejar-kejaran pagi itu.
“Oh My Gosh, Kak! Lo cari masalah mulu, damn!”
Kedua manik cokelat Rindi tampak menggelap melihat perginya kedua insan itu.
“Rindi, do you hear me? Aku sama Ellie ga ada apa apa. Yang kemarin itu cuma nganter dia cari make up. Kamu percaya aku kan?”
Rindi berbalik, kembali berjalan meninggalkan Noah yang meneriaki namanya lagi.
+++++
“It's almost mid-year. 2 bulan lagi udah Juli. Kita perlu agenda buat tutup tahun,” ujar Theo.
“You mean tutup tahun pelajaran?” tanya Rangga.
Theo hanya mengangguk kikuk, “Iya itu.”
Genta, si ketua yang duduk di kursi yang terletak paling ujung itu mengangguk pelan lalu membuka file tahun lalu.
“Tahun lalu ada bazar buat sumbangan sosial di panti asuhan daerah Gunkid dan kecelakaan pesawat. Lalu, tahun ini baiknya kita adain apa? Dari data yang udah masuk ke saya, ada beberapa opsi yang udah disetujui kepala sekolah. Yang pertama ada kemah plus bersih sungai, kedua ada baksos plus pameran karya kaya tahun lalu, dan yang terakhir lomba band dan galang dana untuk bencana di seluruh Indonesia. Sekarang silahkan baiknya gimana, saya persilahkan kalian untuk milih.”
Ruangan hening, para anggota rapat saling bertukar tatap, kemudian berbisik-bisik mengadu pendapat.
“Kenapa dah harus banget diadain acara sosial terus. Sekolah kita bukan ajang cari uang kali, Ta,” kata seseorang yang duduk di antara Theo dan Helmi, Noah. Cowok yang kini termasyur namanya akibat 'merebut' cewek Rangga itu bersuara dengan angkuh. Layaknya penjudi handal, wajahnya tampak tak suka dengan apa yang Genta paparkan sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rainy Days
RandomThey deserve this, right? - Rangga tidak membenci Key, dia tidak punya alasan untuk itu. Tetapi Key merasa Rangga selalu menatapnya dengan esensi mengancam.
