CHAPTER 31 : Retakan di Balik Senyum Kekuasaan

12 0 0
                                        

Hari kedua Belicia bekerja di kantor Haven dimulai dengan rasa gelisah yang tak bisa ia jelaskan.
Pagi itu udara terasa panas, bukan hanya karena matahari, tetapi karena pikirannya yang dipenuhi kekhawatiran.

Belicia sudah berdiri di depan rumah sejak lima belas menit lalu, menatap jalan kosong sambil menggenggam ponselnya.

"Aduh... ini gojek kok nggak ada sih," gumamnya kesal.

Ia melirik jam di pergelangan tangan. Waktu sudah semakin mepet.

"Bisa-bisanya aku telat di hari kedua kerja," keluhnya lagi.
"Pasti nanti aku dimarahin Alvaro..."

Sudah beberapa kali ia mencoba memesan ulang, tapi tetap saja tak ada kendaraan yang lewat. Saat rasa paniknya mulai naik, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Kaca mobil perlahan terbuka.

Di dalamnya, Alvaro.

"Masuk," ucapnya singkat, tanpa senyum.

Belicia terkejut.
"Gak apa-apa, Tuan. Aku bisa pergi sendiri. Bentar lagi juga gojek pasti lewat," ujarnya mencoba menolak dengan sopan.

Tatapan Alvaro mengeras.
"Aku bilang masuk. Jangan membangkang."

Nada itu membuat Belicia tak berani berdebat. Ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.

"Makasih ya, Tuan," ucapnya pelan.

"Kamu di kantor panggil aku Tuan," kata Alvaro sambil menatap jalan.
"Tapi di luar kantor, kamu boleh panggil aku Alvaro."

Belicia mengangguk ragu.
"Boleh aku bertanya, Alvaro?" tanyanya hati-hati.

"Boleh. Mau tanya apa?"

Belicia menatap jendela sebentar, lalu memberanikan diri.
"Kenapa kamu di kantor... kelihatan serem sekali? Aku merasa suasana perusahaan ini aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan."

Alvaro terdiam sesaat sebelum menjawab dingin,
"Kamu tidak perlu bertanya apa-apa. Tugasmu hanya bekerja."

Mobil berhenti tepat di depan gedung kantor.
"Kita sudah sampai. Turun dan langsung ke ruanganku."

"Baik, Tuan," jawab Belicia.


Belicia tiba di ruang Alvaro lebih dulu dan menunggu dengan rapi.

"Selamat pagi, Tuan Alvaro," ucapnya begitu Alvaro masuk.
"Hari ini ada meeting dengan klien luar negeri pukul 12.00 WIB."

"Baik," jawab Alvaro singkat.
"Sekarang tidak ada lagi yang perlu dibahas. Kamu boleh keluar."

Belicia mengangguk dan segera membereskan berkas-berkas meeting dengan klien dari Inggris. Saat ia sedang fokus menyusun dokumen, seorang karyawan menghampirinya.

"Nyonya Belicia, Tuan Haven memanggil Anda ke ruangannya."

Belicia sedikit terkejut, namun tetap tersenyum sopan.
"Baik, terima kasih. Saya akan segera ke sana."

Ia meninggalkan mejanya dan berjalan menuju ruangan direktur utama.

Tok... tok... tok...

"Silakan masuk," terdengar suara Haven.

"Selamat pagi, Tuan Haven. Ada keperluan apa?" tanya Belicia sopan.

"Jangan berdiri di dekat pintu," ujar Haven sambil menunjuk kursi.
"Silakan duduk. Jangan sungkan."

Belicia menuruti. Ia teringat pesan Alvaro: jangan pernah menolak perintah Haven.

"Oh ya," Haven membuka sebuah berkas.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu, Belicia?"

"Tentu, Tuan."

"Apakah kamu kenal...."

Belum sempat kalimat itu selesai, pintu ruangan terbuka.

"Maaf, Tuan Haven," kata Alvaro tegas.
"Meeting dengan klien luar negeri sudah waktunya."

"Oh ya," Haven tersenyum tipis.
"Belicia, berkas pentingnya sudah kamu siapkan?"

"Sudah, Tuan," jawab Belicia.

"Kalau begitu, ambil berkasnya dan langsung ke ruang meeting. Aku akan menyusul," kata Alvaro cepat.

"Baik, Tuan."

Belicia keluar tanpa mengetahui apa yang hampir saja terungkap.


Begitu pintu tertutup, Alvaro langsung menatap Haven.

"Bang, sebenarnya apa yang Abang inginkan?" tanyanya dengan nada tertahan.

"ARGHH!" Haven menghantam meja.
"Semua gara-gara kamu! Rencanaku gagal!"

"Abang," suara Alvaro melembut,
"aku tahu aku hanya sepupu tiri Abang. Kita satu ayah, tapi tidak satu ibu. Tapi tolong... jangan libatkan Belicia."

"DIAM!" teriak Haven.
"Aku tidak mau membahas ini! Keluar dari ruanganku! KELUAR!"

Alvaro menunduk.
"Baik... kalau itu yang Abang mau."

Ia keluar dengan langkah berat.


Haven yang kini sendirian kehilangan kendali. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, tangannya gemetar.

"SIALAN!"
"MANUSIA TAK BERUNTUNG!"
"MANUSIA EGOIS!"

Ia berdiri, berteriak pada bayangan masa lalunya.

"Kalau ibu dan ayahku tidak bercerai..."
"Aku tidak akan punya sepupu tiri!"
"Aku tidak akan punya adik tiri!"

"INI SEMUA SALAH MEREKA!"
"AKU BENCI KALIAN BERDUA!!"

Tangannya meraih sebuah album foto lama, foto ayah dan ibunya sebelum semuanya hancur.

Jika ibunya tidak menikah dengan pria mafia itu, ia tidak akan mati sia-sia.
Jika ayahnya tidak menikah lagi, ia tidak perlu berbagi segalanya dengan keluarga lain.

Kini perusahaan yang ia pimpin berdiri di atas luka, dendam, dan kenangan pahit.

"Ini semua kesalahan kalian," bisiknya lirih, menatap foto itu dengan mata basah.

Belicia Ardelle Lishan [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang