Atau sebaiknya, Dia lebih ingin tahu pelajaran apa yang ingin semesta tunjukkan lewat sosok Geger. Sebab lelaki berkaus partai dengan celana training pink itu kini sudah mirip senyawa geger otak yang perlu dibawa ke IGD rumah sakit jiwa terdekat.
"Kamu nggak usah bingung, Yu, kan ada Ibuk! Lagian aku udah izin Bapak kok kalau kamu nggak bisa ngantar cuci darah hari ini karena kudu bantu-bantu di kelurahan," lanjutnya, meyakinkan Dia dari pelik masalah entah untuk kali keberapa.
Atau, ini hanyalah bentuk pelik kebucinan Geger, sampai-sampai lelaki rombeng itu harus cosplay menjadi anak ranting partai dan membuat alibi kalau Dia harus ikut bantu bagi-bagi beras di kantor lurah, seolah semua itu lebih penting dari agenda rutin Dia mengantar bapaknya cuci darah.
Jelas Dia marah. Memang Gerda siapa sampai bisa memaksa Dia buat jadi anak sulung yang durhaka?
"Ger, dengerin baik-baik. Aku tahu kamu nggak bodoh, oke?"
"Loh, aku lulusan magister teknik nuklir, lho! Mana mungkin aku bodoh?"
Dia diam. Dalam riuh lalu-lalang motor, aku tahu Dia sangat ingin menjerat leher Geger dengan seutas tisu.
"Pertama, mereka ibu dan bapakku, jadi jangan panggil mereka 'Ibuk' sama 'Bapak' seolah mereka ibu dan bapakmu. Nggak sopan karena kamu cuma tetangga beda RT."
"Tapi—"
"Kedua, ibuku takut lihat jarum suntik, sedangkan kamu tahu seberapa gede jarum yang dipakai sama bapakku? Setara buat bikin pantatmu meletus kalau kamu nggak pergi dalam hitungan ketiga. Satu---"
"Sik—sik (bentar—bentar), oke! Kamu nggak jadi bantu bagiin beras. Cukup temenin aku aja, gimana?"
Gila, malah semakin di depan modusnya.
Dan tepat saat Dia hendak mengeksekusi rencana bengis mendorong Geger ke tengah jalan, dua lelaki tampan kemudian datang dari arah seberang, sontak membuat manik Dia membulat.
Kontras, kelopak Geger makin menyipit sambil mengerut dahi. Aku tidak tahu apa baginya Reda dan Jez memang sesilau itu.
"Hai," si merah ceri lanjut menyapa begitu ia tiba, sementara Dia masih bengong di balik gerobak tisunya.
Sebagai peran figuran, Reda memilih terjebak senyum Mbok Darmi yang kini asyik memandang sambil cuci mangkuk, mengabaikan temu dua insan juga peran ketiga lain yang ekspresinya sudah mirip gempol.
"Hai—ehm. Mau... beli tisu apa, Mas?" Grogi, respons Dia yang tidak seluwes biasanya serta-merta membuat Jez tertawa. Samar saja, tapi Geger tampak mulai terpesona.
Heran juga, kenapa malah Geger, sih.
"Mmm... kamu mau tisu yang mana, Da?"
"Hah?" Giliran Reda salah tingkah, "Terserah aja, kan Mas sing butuh," tampak jelas ia menghindar supaya tidak bersua mata dengan Dia.
Dan Dia pun begitu, tampak sudah terlanjur menduga Reda sebagai dukun palsu.
"Kalau gitu, yang gambar ayam aja, Dia. Reda suka nyimpan bungkusnya."
"Apa?" Agak kaget, reaksi yang normal, "Oh, iya boleh. Berapa?"
"Berapa, Da?"
Kali ini, Reda melirik sadis, membuat Jez menahan gelak.
"Lima aja," sebab ngeri juga kalau sendanya jadi senjata makan gempol. Maka Jez memutuskan untuk mengakhiri sindiran terselubung ini secara hati-hati.
Juga, melesatkan niat terselubungnya secara tiba-tiba. "Besok Minggu, ibu ke gereja?"
KAMU SEDANG MEMBACA
KENANG
FanfictionJez bilang, nggak semua orang punya kesempatan. Buat sekadar nyiram kaktus, atau dengerin lagu-lagunya Tulus. Buat makan pisang goreng angkringan, atau pura-pura minum kopi biar jadi anak senja. Termasuk, nggak semua orang punya kesempatan buat bers...
