"Vol. 12. Refrain"

51 4 44
                                        

But heaven denied,

destiny decried,

something beautiful died,

too soon.

...

..

.




Lelaki bodoh ini tertunduk, entah hanya mengusap wajah atau mengusap linang yang hampir tumpah.

"Aku memang nggak bisa, kalau kamu masih suka Day6 atau apa pun itu. Dan kamu nggak sepantasnya denganku, Gwen. Aku nggak akan bisa dukung hobimu seratus persen. Kamu nggak akan bahagia."

"Aku atau kamu yang nggak bahagia? Kamu malu, kalau Day6 dan fanfiction masih jadi candu buatku?"

Dia diam, sementara sebelah tanganku mulai melepas sepatu pemberiannya dan membiarkan jejakku secara harfiah bertemu tanah.

"Kamu mau menyayangiku sejauh apa, sekarang itu jadi urusanmu dengan Tuhan. Aku pergi."

Denotasi, aku pergi. Meninggalkan ia bersama namaku yang diteriakkan hingga motor-motor memandang kami di kejauhan.

Aku pergi.

Jez hanya tidak mengira, aku akan pergi selamanya. Selamanya, tanpa pernah ada temu.

"Gwen, tunggu!"

Hingga entah bagaimana, ia mengejarku.

"Tunggu, dengar dulu." Sebelumnya, Jez tidak pernah begitu. Sebelumnya, aku yang mesti mengejar.

Jez, kenapa baru sekarang?

"Pakai dulu, kita bicara pelan-pelan. Forgive me, that was my fault," ia berlutut, menaruh sepatu yang tadi sempat tertinggal, hendak menautkannya kembali pada kedua kakiku yang telanjang.

Namun, jejakku mundur. Urung. Wajahku tertunduk, manikku enggan menyimpan sesak. Aku menggeleng, "Maaf, Jez."

Ia diam. Sekejap, kulihat pandangnya kosong. Aku turut bersimpuh, menggenggam erat sebelah tangan Jez yang dingin.

Gilirannya menunduk, linangnya jatuh.

"Aku sayang kamu, aku sudah bilang. Aku nggak pengin apa-apa, Jez, selain kamu pergi. Karena bahagiamu bukan di sini."

Kutangkup erat sebelah tangannya, bersama sebuah gelang perak berliontin salib yang turut kusesakkan, tak peduli seberapa keras linangku tumpah ke tanah.

"Aku pulang ya, Jez."

Ia diam. Bahunya berguncang.

Dan, aku tetap pergi, meski lamat kudengar namaku masih ia lafal di kejauhan. Meski kulihat Jez masih berlutut hingga kendara yang kutumpangi melaju di antara hening sepuluh lewat sepuluh larut.

Aku pergi, membawa jemari kakiku yang lugu menyentuh alas taksi. Bersama isak yang kubiarkan terserak di antara daftar lagu radio malam hari . Sedapat mungkin tak acuh pada bapak sopir yang sudah tampak khawatir.

Sebab, walau sejauh apa, aku tahu hati Jez tidak pernah benar-benar ada di sana.

Sepuluh lewat dua puluh dua, lampu merah menahan laju kendara. Hanya lampu kuning yang berkedip, sebenarnya, hingga bapak sopir memutuskan untuk melanjutkan laju kami. Beliau sempat bertanya sebentar, "Mbak, apa mau jendelanya dibuka?"

KENANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang