"Bawa anak-anak?" tanya Aarav tak percaya. Matanya menyipit sedangkan Cheryl mengangguk antusias.
"Seru kalau rame-rame, Ayang. Dan juga mendebarkan."
Aarav mengusap dagunya menatap kekasihnya penuh kagum.
"Terima kasih karena selalu melibatkan anak-anak."
"Kan anak kita bersama," jawab Cheryl dengan tersenyum lebar sedangkan Aarav terkekeh gemas. Ternyata rasanya emang minta dikarungin sih kekasihnya ini. Menggemaskan sangat.
Cheryl masih bersandar di dada Aarav, menikmati kehangatan pelukan erat yang membuat dunia luar seolah lenyap sejenak.
Ruang dosen kecil itu menjadi tempat perlindungan sementara bagi hubungan rahasia mereka, aman dari tatapan penuh tanya. Aarav mencium puncak kepalanya dengan lembut, napasnya menyapu rambut Cheryl, dan detak jantungnya berdetak stabil, selaras dengan milik Cheryl.
"Mon Cheri yakin?"
Cheryl mengangguk, matanya berbinar penuh semangat.
"Iya, Ayang. Aku pengen kita liburan bareng mereka. Izzy, Desiree, Shelo, sama Brie. Biar rasanya lebih lengkap, kayak keluarga beneran."
Cheryl ingin menunjukkan jika dia adalah calon ibu yang tepat untuk anak-anak Aarav, walau jujur ada sedikit keraguan di ujung kalimatnya, seolah tahu usulan ini bisa jadi rumit mengingat status hubungan mereka yang disembunyikan.
Aarav menatap Cheryl lama, matanya yang tajam menimbang setiap kemungkinan.
Sebagai duda yang membesarkan mereka sendirian sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, Aarav seorang dosen hukum ternama, selalu menjaga keseimbangan antara karier akademiknya yang padat, anak-anak, dan kini, Cheryl.
Izzy, anak tertuanya mewarisi kecerdasan dan ketajaman analisisnya dan Aarav tahu bahwa gadis itu bisa mencium kejanggalan dari jarak jauh.
"Baiklah," katanya akhirnya, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kalau Mon Cheri mau liburan sama anak-anak, saya akan atur semuanya. Tapi kita harus hati-hati terutama dengan Izzy. Dia tidak gampang dikibuli."
Cheryl memiringkan kepala, matanya penuh rasa ingin tahu. "Ayang punya rencana apa?"
Aarav tertawa kecil, suaranya rendah dan penuh percaya diri. "Saya selalu punya rencana, Mon Cheri. Ini seperti bikin pembelaan di pengadilan, harus rapi dan tak boleh ada celah," jelas Aarav sombong. Berdiplomasi dengan anak-anaknya perkara kecil.
Duda panas itu melangkah mundur dari kekasihnya, berjalan ke meja dosen di sudut ruangan dan bersandar di sana dengan sikap santai tapi penuh otoritas, postur yang biasa dia tunjukkan saat mengajar.
Tangannya menyentuh dagunya sejenak, kebiasaan kecil yang muncul saat merumuskan strategi. Lalu, matanya menyala tanda ide cerdas telah mendarat di kepalanya dan kali ini akan memanfaatkan kecerdasan Izzy sendiri untuk menutupi jejak.
"Begini," Aarav mulai menjelaskan, suaranya tenang tapi tegas.
"Saya akan bilang ke anak-anak bahwa ini liburan keluarga sekaligus bagian dari proyek akademik saya.
Saya bisa bilang universitas minta saya bikin seminar hukum internasional menganalisis pengaruh budaya lokal terhadap sistem hukum di destinasi tersebut, Maldives untuk hukum maritim dan pariwisata, Kyoto untuk harmoni hukum adat Jepang.
Saya akan bawa beberapa buku hukum sama dan laptop, pura-pura kerja biar terlihat meyakinkan."
Cheryl mengangguk pelan, mulai memahami arah pikiran Aarav. "Terus aku masuknya di mana, Ayang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DOSENKU HOT SUGAR DADDY
Humor"Kalau di kampus kamu dosen aku, di luar aku adalah sugar baby." ______ BACAAN KHUSUS DEWASA⛔️⛔️
