Aarav dan Cheryl sama-sama menatap kamar Izzy yang kian menyala, ekspresi mereka berubah dari tenang jadi waspada dalam sekejap.
"Mampus!" maki Cheryl dengan mata melotot masih menggendong Shelo.
"Mon Cheri, nampaknya Izzy akan ke sini. Segera cari tempat bersembunyi," saran Aarav dengan tenang berusaha untuk tetapi tenang sebagai seorang ayah dan menegakkan postur tubuhnya..
"Hah!? Sembunyi di mana, Ayang?" Cheryl bertanya begitu polos sambil melirik keadaan sekitar sekiranya ada tempat yang kemungkinan untuk menyembunyikan diri.
Penampilannya memang sangat mencurigakan dengan rambut acak-acakan seperti habis tersapu angin puting beliung, kaos kebesaran Aarav yang menyembunyikan seluruh tubuhnya tentu saja jadi tersangka utama jika dia tidak bisa lolos dari kecurigaan Izzy jika melihatnya seperti ini.
"Ada ruang di balik sofa itu," saran Aarav dengan tenang menunjuk ke arah sofa kayu di sudut ruangan.
"Segera bergerak, Mon Cheri. Jangan menunda waktu."
Cheryl memelototi Aarav dengan tatapan penuh protes. "Balik sofa? Serius, Ayang? Aku bukan tikus!" protes gadis itu.
Sekali lagi! Cheryl tak punya pilihan lain, dia buru-buru menurunkan Shelo ke lantai.
"Shelo, Sayang, duduk di sini bentar ya, Cheryl mau... em.... ambil selai cokelat yang banyaak!"
alibi Cheryl dengan nada ceria yang terdengar sangat dibuat-buat sambil berlari ke arah sofa.
Sayangnya, dalam kepanikan itu kakinya tersandung karpet kecil di lantai, membuatnya tersungkur dengan gaya tidak elit sama sekali. Dia yakin Izzy akan tertawa sampai mencret melihatnya panik seperti ini.
"Aduh, sialan!" keluh Cheryl sambil memegang lutut yang memar lalu buru-buru merangkak ke balik sofa.
Shelo memandang Cheryl dengan wajah polos, matanya berbinar karena janji selai cokelat.
"Cepat ya, Cheryl! Shelo lapar!" teriaknya sambil mendekat ke arah Aarav memegang tangan ayahnya..
Aarav menarik napas panjang, mencoba menjaga wibawanya sebagai seorang ayah dan mengajak Shelo.
"Shelo, Papa akan buat roti bakar untuk. Sabar sebentar, ya." Mata laki-laki itu terus mengawasi lampu di kamar Izzy.
Cahaya dari kamar Izzy masih menyala dan kini ada bayangan yang bergerak di jendela.
"Semoga Izzy tidak ke sini," bisik Aarav dalam hati tapi wajahnya tetap tak menunjukkan kekhawatiran.
Cheryl yang sudah bersembunyi di balik sofa merasa seperti berada di rumah pada tikus. Ruang di balik sofa ternyata penuh debu dan kaos Aarav yang dia pakai tersangkut di paku kecil yang menonjol dari kayu sofa.
"Shit! ini kaos apa tai, sih?" keluhnya pelan sambil menarik kaos itu, tapi malah membuatnya robek sedikit di bagian bahu.
"Anjirrr.... mati aku! Ayang bakal ceramahin aku abis ini!"
Cheryl meringkuk sekecil mungkin, lututnya menempel di dagu dan rambutnya jatuh menutupi wajahnya seperti topeng darurat.
Di villa anak-anak Izzy memang baru saja terbangun karena mendengar suara langkah Shelo di jembatan kayu.
Dia mengucek mata, mengenakan cardigan tipis di atas piyama dan melangkah keluar dengan sandal jepit yang berderit pelan.
"Shelo ngapain ke sana tengah malem gini?" tanya Izzy dengan dahi berkerut.
Rasa tanggung jawab sebagai kakak tertua mendorongnya untuk memeriksa keadaan meski kantuk masih menggelayuti matanya.
Shelo tiba-tiba bangkit dari dek dan berlari ke dalam membuat Aarav sedikit menegang meski tetap menjaga ekspresi tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOSENKU HOT SUGAR DADDY
Humor"Kalau di kampus kamu dosen aku, di luar aku adalah sugar baby." ______ BACAAN KHUSUS DEWASA⛔️⛔️
