DHSD 10

7.9K 52 1
                                        

Aarav, duda panas berusia 38 tahun dengan
pesona yang tak pernah pudar, postur tegap, rahang tegas dan mata biru pucat yang penuh rahasia memimpin rombongan kecilnya dengan langkah mantap.

Di tangan kanannya sebuah koper kecil bergerak mengikuti langkahnya, sementara pundaknya menopang tas laptop hitam, bagian dari sandiwara seminar hukum yang dia rancang untuk menutupi hubungan terlarangnya dengan muridnya sendiri.

Liburan terselubung mereka terlaksana hari ini, dengan rombongan yang begitu antusias liburan.

Shelo, si bungsu manja dengan pipi bulat berlarian di sekitar mereka, sepatu kecilnya berderit di jembatan kayu, tangannya menunjuk-nunjuk ke perairan dangkal.

"Ikan! Lihat ikannya!" serunya antuasi suaranya melengking penuh keajaiban. Energinya tidak pernah habis.

Cheryl berlutut cepat di sisi Shelo, rambutnya terlepas dari ikatan dan membelai wajahnya saat angin menyapa.

"Iya, Shelo, ikannya comel semua! Nanti kita cari yang besar, ya?" ujar Cheryl dengan nada tak kalah ceria.

Shelo memeluk kakinya erat."Aku mau ikan nemo, Cheryl!" Sepasang mata boneka itu penuh harap.

Cheryl tertawa penuh semangat. "Pasti ketemu, kita temanin Nemo cari mamanya!"

Izzy menoleh dari depan tersenyum kecil. "Cheryl, lo emang jago bikin Shelo senang." Dia memuji tulus.

Dia tahu Cheryl memang selalu pandai mencairkan suasana membuat semua anak Aarav suka padanya. Tanpa sadar dia sudah mengantongi restu.

Cheryl mengedipkan mata ke arah Izzy. "Harus dong, Iz, dia kan adik kita yang paling lucu!"

Cheryl tersenyum lebar, tatapannya tertuju pada Aarav seolah berbicara. "Shelo anak gue juga."

Aarav menyipit dan melirik dengan perasaan bangga yang tidak bisa dipungkiri.

Desiree ikut nimbrung, matanya berbinar, "Cheryl, bantu aku foto ikannya dong buat pamer kehidupan di sosmed." Cheryl mengacungkan jempol.

"Okay! Kita bikin feed kamu kece abis!" ucap Cheryl antusias, ingat jobdesc ikut liburan keluarga ini untuk menyenangkan mereka, terutama ayahnya.

Ya, sekalian dia menunjukkan pada Aarav jika usia bukan isu besar karena jiwanya sudah cocok jadi anak-anak Aarav.

Aarav melirik Cheryl dari sudut mata, tatapannya tajam dan penuh bangga, wajahnya tetap tenang, bibirnya merekah dalam senyum kecil yang hanya Cheryl bisa baca.

Cheryl menangkapnya, jantungnya melonjak seolah ingin melompat keluar dari dadanya, tapi dia buru-buru membuang muka berpura-pura sibuk dengan tasnya.

Saat Aarav berbalik untuk memeriksa koper, tangannya sengaja menyelinap ke sisi Cheryl, jari-jarinya menyenggol pinggangnya sejenak sebelum menarik kembali dengan cepat seolah tak ada yang terjadi.

Cheryl tersentak pelan, matanya melotot dan berbisik dengan nada panik yang disembunyikan.

"Ayang, apa-apaan!" Gadis itu melotot.

Aarav hanya tersenyum licik membalas pelan tanpa menoleh.

"Saya cuma pastiin Mon Cheri nggak lupa sama saya." Nada rendahnya penuh godaan membuat Cheryl menggigit bibir untuk menahan senyum, wajahnya memerah.

Sial! Kenapa duda ini sangat menggoda!

"Izzy!!!! Lihat ayahmu ini," jerit Cheryl dalam hati.

Izzy yang berjalan di depan menoleh sekilas dan menyipitkan mata.

"Cheryl, lo kenapa? Panas ya?" tanyanya curiga.

DOSENKU HOT SUGAR DADDYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang