Pagi yang cerah--secerah hati Bagas saat ini. Pemuda itu berdiri di depan cermin, mematut dirinya yang memakai Hoodie yang diberikan seorang gadis kemarin malam. Bagas pun masih ingat dengan pesan Aksan, pemuda yang mengantarnya semalam bahwa lebih baik dia pakai untuk jaminan keselamatan apabila tidak bersama dengan gengnya.
"Bagas!"
Panggilan yang begitu keras membuat Bagas tersadar dari lamunannya. Dia terlalu masuk kedalam angan-angannya untuk segera bertemu kembali dengan gadis misterius.
"Astaga, Bagas kok lo bayangin cewek misterius itu sih. Lo itu harusnya mikirin gebetan lo." Monolog Bagas mengingatkan pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Bagas, anak Bunda," panggil seorang wanita yang mengintip dari balik pintu kamar Bagas.
"Dalem, Bunda. Bagas ganteng sudah siap," balas Bagas segera meraih tas ranselnya dan keluar mengikuti wanita itu.
Saat Bagas hendak meraih ponselnya, suara lain terdengar dari kejauhan.
"Mas, ini kunci motornya," ucap seorang pria tua khas dengan pakaian satpam--Pak Narto.
Bagas di buat bingung dengan kunci motor yang baru saja di pegang, seingatnya kemarin motornya tertinggal di kedai kopi dan motornya dibawa oleh gadis misterius sebagai jaminan.
"Pak, tahu siapa yang ngantar motornya?" tanya Bagas menghampiri pria tua itu.
Pak Narto hanya menggeleng tidak mengetahui siapa yang mengantar motor itu, dia pun juga menceritakan kronologi saat motor anak majikannya sudah berada di depan pos satpam.
"Pas saya balik menutup gerbang, motornya, Mas Bagas sudah di depan pos. Saya mencoba memeriksa cctv, tetapi saya menemukan dua orang yang menaiki motor sendiri-sendiri. Salah satu dari mereka seorang gadis, saya cuma tahu dia pakai seragam SMA dengan jaket Levis dan topi hitam. Wajahnya tidak kelihatan," jelas Pak Narto setelah menyesap kopi hangat.
Bagas kembali di buat kecewa, gadis yang mengantar motornya tidak bisa dikenali. Bagaimana dia bisa mengucapkan terima kasih atau sekedar berkenalan?
"Bagas, Pak Narto daritadi bisik-bisik tetangga. Kalian tidak ada niatan untuk sarapan dulu?" protes wanita yang dipanggil bunda oleh Bagas, Rissa--Bunda Clarissa.
"Maaf, Nyah. Saya permisi dulu," ucap Pak Narto meninggalkan dua majikannya untuk sarapan.
Bagas kembali duduk dan mulai melahap makanannya, rasa penasarannya mulai besar. Raut wajah yang terus berkerut membuat Rissa penasaran dengan apa yang dipikirkan putranya.
"Bagas, tahu gak? Bunda seneng banget loh lihat motor kamu kinclong seperti orangnya," puji Rissa menepuk pundak putranya, "Kalau motornya kinclong 'kan banyak yang ngelirik, nilai plus orangnya cakep pula."
"Bunda kok tahu kalau motor Bagas kinclong?"
"Astaga, ya, tahu dong. Wong Pak Narto yang cerita. Katanya, motor Mas Bagas mengkilap seperti baru lagi. Berarti teman kamu pengertian dengan baik hati mau nyuci motor kamu."
Bagas menghela napas, pikiran bundanya dengan Bagas memang tidak sama. Akan tetapi setiap ucapan bundanya ada benarnya, gadis itu sungguh baik. Bagas pun segera menyelesaikan sarapannya dan berpamitan kepada sang bunda.
"Bagas, jangan lupa itu muka jangan di tekuk. Kalau senyum yang ikhlas biar gak di tolak cewek," pesan Rissa menahan senyum.
Bagas hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Rissa, pemuda itu pun berlalu pergi menuju sekolah.
****
Seorang gadis sudah bersiap untuk berangkat sekolah, mematut sekali lagi di depan cermin memastikan tidak ada yang tertinggal termasuk jaket levis tidak lupa topi dan masker hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagaskara ( Tamat )
Novela JuvenilDemi sebuah tujuan, Bagaskara harus menjadi sosok yang berbeda agar dirinya diterima menjadi kekasih si gadis lugu. Beribu penolakan telah diterima Bagas sampai urat malunya putus. Akan tetapi siapa sangka perjalanan Bagas terus terpantau oleh sese...
