Suara berisik mulai terdengar semakin keras, suara yang memang selalu diabaikan oleh Kaara. Gadis itu terkesan dingin melebihi para most wanted yang terkenal bak beruang kutub.
Kaara
"Kalian tahu gak sih, kalau namanya mirip banget dengan merk salah satu pelengkap masak."
"Oh ... pelengkap masakan yang berwarna putih kental itu, ya, santan dong."
"Iya, ya, lagipula selain namanya, kulitnya juga putih."
Kaara mengabaikan perkataan mereka, para siswa laki-laki yang menurutnya tidak memiliki attitude yang baik. Mereka terlihat sangar, disegani tetapi setiap ucapannya terlalu pedas untuk di dengar.
"Sabar, ya, Ra. Mereka memang begitu, abaikan saja enggak usah ditanggapi," bela Risa--teman sebangku Kaara.
"Hm, dua tahun cukup buat latihan mendengarkan ejekan mereka," balas Kaara tersenyum, "lagipula kara santan memang ada."
Risa hanya mengangguk, heran bercampur kasihan dengan temannya. Selama mereka bersama, Kaara menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Kaara sendiri tidak pernah mempermasalahkan selama dalam kondisi wajar.
"Wah ... santan kara sudah sampai sini," celetuk salah satu siswa yang langsung menggeser duduknya.
"Lo gak ada kerjaan lain, ya, selain mengejek Kaara seperti itu?" protes Risa tidak terima.
Kaara langsung menarik temannya untuk duduk di tempat lain, mengabaikan setiap ucapan mereka.
"Sa, gak usah ditanggapi. Semakin di tanggapi mereka akan semakin ngelunjak," ucap Kaara menepuk pundak Risa, menenangkan.
"Gue heran sama Lo, Ra, mereka itu sudah melewati batas. Lo yang diejek gue yang marah," protes Risa sewot.
Kaara masih mode baik, suasana hatinya sedang membaik beberapa detik yang lalu. Dia menahan untuk tidak tersenyum, walau sebenarnya hatinya sedang berbunga-bunga. Tadi sebelum kedua gadis itu sampai mejanya, pandangan Kaara bertubrukan dengan salah satu siswa.
"Sa, buruan makan. Jangan cemberut terus. Lo itu lucu, katanya gue gak boleh nanggepin mereka tapi Lo malah marah-marah sama mereka." Kaara tersenyum untuk kesekian kalinya.
Risa terdiam sejenak dan mengangguk, gadis itu pun melanjutkan makanannya. Bahkan Risa dibuat terkejut dengan cara makan Kaara yang kelewat cepat. Kaara tidak menjelaskan lagi bagaimana dia makan begitu cepat.
****
Kantin yang mulai ramai beberapa waktu lalu, mulai kembali sepi setelah kedatangan empat siswa yang berjalan terlebih dahulu disusul para anak buahnya. Bagai matahari yang menyinari bumi, keempat siswa itu menarik para minat para siswa perempuan meleleh.
Bagas ... Matahariku ...
Noval ... aku cinta kamu ...
Bara ... kobarkan bara di hatiku
Wah ... Putra peluk daku ...
Kasak kusuk para siswi yang menyambut kedatangan keempat siswa membuat pandangan beralih pada mereka. Bagas lebih dulu duduk kemudian disusul oleh temannya yang lain.
Bagas sengaja duduk menghadap arah yang berbeda demi melihat seseorang, senyum hanya terlihat sejenak kemudian kembali datar.
"Gas, gimana ceritanya Lo sampai gedung itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagaskara ( Tamat )
Teen FictionDemi sebuah tujuan, Bagaskara harus menjadi sosok yang berbeda agar dirinya diterima menjadi kekasih si gadis lugu. Beribu penolakan telah diterima Bagas sampai urat malunya putus. Akan tetapi siapa sangka perjalanan Bagas terus terpantau oleh sese...
