"Ada apa?" Tanya Jungkook yang menatapku sedang penuh kebingungan.
Aku menggeleng pelan. "Temanku, dia memblokir nomorku. Padahal aku tidak melakukan apapun."
Jungkook mengangguk. "Tidak usah dipikirkan."
Aku menaruh ponselku. Aku langsung tidak nafsu lagi untuk makan. "Apa aku ada berbuat salah?" Tanyaku pelan.
Jungkook mendekatkan kursinya ke kursiku dan menyender di meja. "Tidak. Kau pasti tidak ada salah. Jadi tidak perlu kau pikirkan."
Aku mengangguk. "Oke. Semoga dia salah paham saja."
—-
Tiga hari lewat setelah Yoongi memblokir nomorku. Aku berusaha untuk mencari tempat tinggalnya, tapi aku lupa untuk menanyakan dimana dia tinggal. Dia benar-benar memutus semua hubungan kami.
Aku benar-benar bingung.
Memangnya apa yang sudah kulakukan?
Aku terus mengecek chat kami dan tidak ada yang salah di dalamnya!
Apa maksudnya dia kecewa denganku? Apa yang sudah kulakukan? Memangnya apa yang kulakukan sampai membuatnya semarah itu?
Aku menggenggam kepalaku frustasi. Tanpa kusadari Taehyung menatapku dari jauh.
"Sedang apa kau?" Tanyanya sambil menyeruput teh.
Aku menoleh ke arahnya. "Bukan apa-apa."
Taehyung berjalan dan duduk di atas senderan sofa. "Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Jungkook?"
Aku mengangkat bahuku. "Memangnya ada kelanjutan apa? Lagipula memangnya ada 'hubungan' di antara kami berdua?"
Taehyung merengut. "Tentu saja ada hubungan! Aku melihat kedekatan kalian kemarin-kemarin!"
"Lalu?" Tanyaku pedas.
Taehyung berdecak dan menaruh tangannya di atas pinggang. "Kau harus bersyukur karena pria seperti Jungkook terpikat oleh dirimu yang hanya seperti ini. Banyak wanita yang rela saling membunuh demi mendapatkan posisimu."
Aku menaikkan alisku. Untuk apa tiba-tiba dia mempromosikan Jungkook padaku?
"Kenapa kau tiba-tiba mempromosikan Jungkook?"
Taehyung menepuk dahinya. "Maksudku adalah.. kau tidak perlu memikirkan pria bernama Yoongi itu lagi. Kau sudah dimiliki oleh Jungkook. Apa lagi yang masih kau pikirkan?"
Aku terdiam.
Kenapa ya aku terus memikirkan Yoongi? Padahal kami baru saja bertemu akhir-akhir ini. Tidak seharusnya aku secemas ini padanya.
Aku menggeleng. "Kau benar. Aku tidak seharusnya memikirkan dia terus."
Taehyung bertepuk tangan. "Oke! Kalau begitu lebih baik kau temani aku saja. Kita pergi berbelanja!"
Aku mengernyitkan dahiku. "Belanja?"
—-
"Aku mau semua jas di barisan ini."
Aku melongo melihat Taehyung yang menunjuk satu barisan jas dengan harga yang pastinya jauh lebih mahal dari seluruh penghasilanku selama lima tahun.
Aku bergeser mendekatinya dengan membawa tas belanjanya. "Kau gila?! Kau masih mau berbelanja lagi? Setelah kau membeli dua baris pakaian di toko sebelah?"
Taehyung menatapku kesal. "Riel. Jelas sekali kau tidak mengerti fashion. Pakaian tadi untuk kupakai sehari-hari. Jas-jas ni untuk kupakai untuk acara kantor."
"Kau bekerja juga di kantor Jungkook?" Tanyaku.
Taehyung mengangguk. "Yup. Sebagai wakil CEO."
"Wow.." Aku menatapnya kagum dan dia melipat kedua tangannya dengan sombong.
"Memang."
Matanya melirik ke arah satu pakaian yang ada di mannequin. Dia berjalan mendekat dan melihatnya dari dekat.
"Tolong coba berikan satu baju ini untuk dicoba oleh nona ini." Katanya kepada salah satu pegawai.
Aku membelalakkan mataku dan menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu. Aku tidak mau membeli apapun."
"Ayolah. Aku traktir! Lagipula kau tidak punya dress yang bagus bukan?"
Seorang pegawai datang membawakan dress tadi dan memberikannya kepadaku. "Silakan lewat sini, nona."
Sebelun aku mengatakan apapun lagi, Taehyung dan pegawai itu sudah mendorongku masuk ke ruang ganti. Aku mendengus dan menatap dress yang diberikan kepadaku.
Aku kesulitan saat memakainya karena dress ini terlalu ketat. Aku menghela nafas setelah selesai memakainya. Aku keluar dan para pegawai menepuk tangan. Taehyung juga terperangah saat melihatku dan membuka mulutnya dengan lebar.
Dia berdiri dan bertepuk tangan, berjalan mendekat ke arahku. "Wow.. bentuk tubuhmu memang benar-benar luar biasa."
Aku tersenyum dan memukul lengan Taehyung.
"Aw! Untuk apa itu?!"
"Karena sudah mengatakan hal tidak senonoh kepadaku."
Taehyung terkekeh. "Pantas Jungkook menyukaimu. Kau seksi sekali."
Mataku membelalak. "Jungkook menyukaiku?"
Taehyung menatapku bingung. "Duh? Masa kau tidak menyadarinya?"
Aku menggeleng. "Bukannya dia hanya menganggapku mainannya?" Tanyaku bingung.
"Sekarang sudah tidak, Riel. Dia benar-benar menyukaimu."
Aku menatap Taehyung tidak percaya. Tidak mungkin apa yang dia katakan benar. Selama ini Jungkook hanya menganggapku mainannya. Dia hanya mempermainkanku sampai dia bosan.
Benar kan?
"Oke! Kita beli baju ini." Taehyung berseru sambil menepuk tangan.
"Untuk apa memangnya? Aku kan tidak akan pergi menggunakan dress ini." Jawabku bingung.
"Duh, Riel. Kau harus bersiap. Jungkook akan mengajakmu pergi."
Mataku langsung menyala. "Benarkah?"
Taehyung tersenyum dan mengangguk. "Kubilang dia benar-benar menyukaimu sekarang."
Tiba-tiba hatiku berdebar. Apakah benar yang dikatakan Taehyung? Apa Jungkook sekarang sudah melihatku lebih dari sekedar mainannya?
Tanpa kusadari aku tersenyum lebar. Aku kembali masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajuku.
Taehyung terkekeh dan mengangkat ponselnya. Dia menekan sebuah nomor dan menghubunginya.
" Yo.. Jk,
Sepertinya rencana kita berhasil. Dia termakan oleh apa yang kukatakan. Kita bisa menjalankan rencana kita secepat mungkin." Taehyung menyeringai.
—-
Chap filler🤭 agak ngebosenin tp NEXT JANJI CRITANYA UDA MULAI SERU KRN UDA MULAI KE INTI🙀🙀
Oiya guys, kalian lebih prefer aku bikin cerita ini panjang atau pendek? Kyk lgsng to the point atau ada tambahannya?
Btw,
Hey mom🌝🫶🏻
I know u are reading this
Just wanna tell u that I love you🥰❤️
Don't kill me bcs of this story🥹
Janlup untuk menunggu chapter selanjutnya!!
❤️, Nuget ayam
KAMU SEDANG MEMBACA
YAKUZA || JEON JUNGKOOK
Fanfiction"Spread your legs for me, babygirl." -- Choi Riel, seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri untuk membayar hutang, berusaha untuk bertahan hidup dengan menjadi mainan Jeon Jungkook. Apakah cerita mereka akan menjadi cerita klise? Tentu ti...
