4. Diskusi sederhana

30 7 15
                                        

Pratha mengundurkan diri dari perlombaan, memilih untuk mengikuti lomba basket antar kota yang dijadwalkan di tanggal yang sama. Velika sebagai peraih peringkat keempat di kelas menggantikannya.

Ketegangan antara Adrian dengan Pratha menjadi 'tersembunyi'. Erina tidak bisa membayangkan bagaimana kerjasama antar kedua orang yang terus bersitegang itu, bisa jadi tempat belajar mereka menjadi arena petarungan.

Velika adalah pilihan yang tepat, gadis berkepang dua itu juga sama diamnya dengan Adrian, sikap tenang miliknya membuat Erina bisa yakin kalau diskusi tentang cerdas cermat ini akan berjalan lancar, semoga.

Patricia, ketua ekskul mading, mengizinkan ketiganya untuk menempati ruang ekskul mading sebagai tempat berlatih dan juga diskusi setiap hari Rabu dan Jumat. Ruang ekskul itulah saksi kecanggungan yang meliputi ketiganya.

"Jadi kita bahas kimia atau biologi dulu?" Erina membuka pembicaraan, meja-meja kini dipenuhi kertas bertulis-tangan, kedua tangannya bekerja mengklasifikasikan kertas materi itu satu per satu.

"Biologi."

"Kimia."

Suara Velika dan Adrian terdengar bersamaan, tidak berbeda sedetik pun. Adrian yang memang lebih ahli di hitungan mengajukan kimia, sedangkan Velika yang benaknya memiliki ingatan kuat memilih biologi. Keduanya sama-sama memilih mata pelajaran yang lebih mereka kuasai terlebih dahulu.

Dan Erina sendirilah yang tidak punya bakat di mata pelajaran mana pun. Gadis itu menatap mereka berdua secara bergantian, sederet kalimat "seandainya aku memang pintar" pun menyusuri benaknya.

Merasa bahwa memikirkan hal tersebut hanya akan membuang waktu berharganya, ia langsung mengajukan sebuah keputusan. "Begini, kimia lebih membutuhkan latihan dibandingkan Biologi, belum lagi ada presentase 'salah hitung', jadi latihan kita harus lebih intensif."

"Setuju." Adrian membuka suara; menyetujui saran Erina. 

Erina memasang senyum tipis. "Kalau Velika bagaimana?"

Gadis itu mengangguk pelan, tampak tida keberatan. Erina membuang napas lega. "Baiklah, berarti kita kerjakan--"

"Sebentar." Suara lelaki berkacamata itu membuat keduanya menoleh. "Dari mana kamu dapat semua soal latihan ini?"

"Dari internet, ada beberapa soal yang bisa dijadikan referensi, katanya--"

"Kenapa kita tidak tanya alumni sekolah saja, seingatku teman sekelas kita punya saudara yang pernah mengikuti olimpiade sekolah. Bukannya soalnya akan lebih akurat?" Adrian menjelaskan dengan tenang. "Soal yang kamu tulis di sini memiliki level yang sulit."

"Bagaimana jika soalnya sudah diubah? Apalagi mengenai kecurangan tahun kemarin, bukannya membuat mereka bisa saja mengubah soalnya?" Erina membantah, gaya bicaranya mendadak formal.

"Menjadi soal yang lebih sulit?" Sederet pertanyaan dilontarkan oleh Adrian, matanya menatap takzim gadis berambut gelombang itu.

Erina mengangguk, meng-highlight perkataannya tadi. "Karena kecurangan dua tahun lalu."

"Aku tidak setuju." Adrian bersikeras, ada nada persuasif yang ia selipkan di setiap deretan kata-kata. "Sistem dan kerangka soal tidak ada hubungannya dengan kecurangan. Soalnya bisa dibocorkan bukan karena struktur soalnya 'seperti itu', kecurangan ini hanya berhubungan dengan 'amplop' pemberian siswa."

Lelaki itu membenarkan kacamatanya sembari menambahkan kalimatnya. "Lain cerita kalau ini ujian tertutup, mungkin struktur soal bisa diubah. Tapi ini adalah perlombaan di mana semua soal dibacakan secara publik, benar?"

Erina mengigit bibirnya, dalam hati mengiyakan pernyataan si nomor satu. Meski begitu, salah satu sudut hatinya ingin mengutarakan sejumlah kekhawatiran. "Gimana kalau—"

Ameliorate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang