Erina mengulurkan tangan kanannya pada lelaki yang tengah bersandar di lorong sekolah, tepat di samping papan pengumuman. "Selamat, kamu dapat peringkat pertama pararel lagi."
"Terima kasih. Selamat juga karena mendapatkan peringkat kedua pararel." Adrian membalas uluran tangan, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Pengambilan rapor tahunan dilakukan hari ini. Waktu berlalu bagai desingan peluru; hanya dengan sekelip mata, siswa kelas 11 IPA A kini telah berganti nama menjadi 12 IPA A. Hampir semua murid datang ke kelas, kecuali Oline, Naira, dan beberapa langganan bus.
Dua tahun sudah Erina menduduki tingkatan SMA, dan ambisi gadis itu belum tercapai.
Gadis itu mungkin pernah melupakan impian sederhananya, entah itu ketika ia menjadi peringkat ketiga dalam perlombaan pidato bahasa Indonesia tempo hari, atau saat ia memenangkan lomba cerdas cermat bersama Adrian.
Namun impian itu tetap ada, terpendam jauh di dalam, dan akan kembali muncul saat melihat bahwa dia tidak ada apa-apanya dibandingkan Adrian Hermandra.
Meski gadis itu sampai sekarang tidak tahu apapun mengenai sayatan di tangannya. Apapun itu, Erina yakin 100% kalau ini sama sekali tidak berkaitan dengan sekolah dan peringkatnya.
Kali ini Erina berusaha menahan rasa iri yang hendak membuncah. Setiap matanya bersitatap dengan si Juara Satu, batinnya nelangsa, teringat dengan seberapa keras pun ia berusaha, ia tetap akan kalah dalam pemeringkatan kelas.
Meski sudah mengganti berbagai strategi belajar, mempelajari materi dengan berbagai jenis media, gadis itu tetap punya kekurangan yang tak bisa ia pungkiri, dan kekurangan tersebut mungkin tidak dimiliki oleh Adrian Hermandra.
Baiklah, mungkin memang bukan milikku.
"Kenapa?" Raut wajah Erina dibaca jelas oleh Adrian. Ingin sekali rasanya gadis itu menghantam wajahnya ke dinding sekaligus.
"Ga ada apa-apa."
"Gara-gara peringkat?"
Erina menghindari kontak mata. "Ga, aku bukan anak kecil yang ngambek gara-gara hal sepele."
"I see." Adrian membalas dengan santai. "Jadi kamu adalah Erina yang kecewa dengan hasil raport-mu."
"Are you an esper?" Ada lolotan mata dari Erina yang hanya dibalas dengan tawa kecil dari Adrian.
Aku tidak menyangka selama tiga bulan ini, kita banyak berinteraksi.
"Not really." Adrian memandang buku rapornya. "Hanya saja aku sudah tahu apa reaksi orang-orang saat melihat benda ini. Mudah dibaca."
"Sorry." Erina menundukkan kepalanya, ada sekelebat rasa bersalah yang melintas.
Adrian mengulurkan sebungkus cokelat tanpa melempar kontak mata karena kepala Erina masih setia menatap lantai ubin sekolah. "Ini. Untuk memperbaiki suasana hati."
Cokelat itu membuat Erina teringat dengan kejadian 3 bulan lalu, rekaman kaset memori mengenai Adrian berputar dalam benaknya. Disimpannya cokelat itu dalam saku seragamnya.
Erina mengalihkan topik pembicaraan. Ia mendongakkan kepalanya; tubuhnya ia sandarkan pada dinding. "Aku ga pernah nyangka bisa ngomong sama kamu kayak gini. Soalnya kamu kelewat pendiam dulu."
"Eh, sekarang juga sih, tapi udah agak mendingan," tambah gadis itu.
"Memangnya apa yang bisa dibicarakan?"
"Kaku banget jadi orang." Gadis itu melempar kekehan pelan. Kini ia memeluk rapor hitamnya; memandang sepatu hitamnya; seakan-akan berkontak mata dengan Adrian akan membuatnya gugup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ameliorate [END]
Ficção Adolescente[Teen Fiction] Bagaimana rasanya menjadi yang teratas; ketika semua pandangan hanya tertuju padamu, ribuan mata seakan-akan menyiratkan kebanggaan yang sanggup membuat jantungmu meledak oleh euforia. Menyenangkan bukan? Sama, aku juga bertanya-tanya...
![Ameliorate [END]](https://img.wattpad.com/cover/315200705-64-k758320.jpg)