"Juara pertama dari lomba cerdas cermat kali ini adalah KELOMPOK A. Selamat kepada Adrian Hermandra dan juga Erina Yudika!"
Pertandingan berjalan mulus meski ada peserta yang kurang. Meskipun Adrian yang menguasai, tetapi Erina punya kesempatan untuk menjawab juga.
Erina tidak tahu apakah ini bentuk kasihan dari Adrian atau bukan, asumsi buruk itu hanya akan membuat kepalanya terasa sakit; seakan-akan hendak meledak menjadi kepingan tak berbentuk.
Mereka kehilangan banyak kesempatan, kurang cepat di bidang biologi, yamg membuat skor mereka sempat anjlok.
"SUMPAH, KALIAN KEREN BANGET!" Chelsea menjadi orang terheboh yang bertepuk tangan saat Adrian dan Erina masuk ke dalam kelas, hampir semuanya mengelilingi mereka berdua.
Erina sudah siap untuk dilupakan, bahwa tidak ada yang akan mengingat performanya yang tidak mencolok.
"Tahu ga sih, tadi pas soal matematika terakhir sengit banget, pas tinggal beda satu poin, Erina langsung dapat bener." Prisa berkomentar. "Langsung dor! Kena!"
"Adrian kayak buku berjalan astaga, cepat banget jawabannya, tros Erina kayak melengkapi banget, dia tipe yang lebih teliti sama soal bacaan kek soal kimia." Leo tidak kalah bersemangat mendeskripsikan suasana lomba tadi. "Padahal ga ada Velika, tapi kita bisa menang meski selisih skor ga banyak. KALIAN KEREN BANGET!"
Ah, aku tidak sepenuhnya dilupakan, ya. Mungkin.
Adrian tidak terlalu banyak bicara, hanya membalas pujian dengan kata-kata seadanya, berkata dia lelah, dan langsung tidur di atas lipatan lengannya.
Padahal Erina tahu bahwa lelaki itu sedang mencoba untuk tidak mengambil semua sorotan. Tepat setelah mengirim kode berupa senggolan bahu dan kedipan mata, lelaki itu kembali ke mejanya dan tidur.
Erina tidak tahu bahwa lelaki yang terlihat acuh tak acuh itu membawa perasaan hangat dalam dadanya, membuat gadis itu merasakan bagaimana rasanya menjadi 'dia' seperti yang dia impikan selama ini.
***
"Rin, makin lama pidatomu makin kaku." Oline berkomentar saat menonton latihan pidato Erina. "Jangan gugup."
Giliran Erina hanya tinggal hitungan jari, sisa tiga peserta sebelum akhirnya Erina harus membacakan pidatonya di atas panggung. Ada sensasi tak mengenakkan yang mengaduk-aduk perut gadis itu, dan mendadak pidato gadis itu menjadi berantakan.
"Tenang, Rin." Naira menawarkan sebungkus permen. "Makan ini."
"Thanks."
Ini adalah kedua kalinya Erina mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia, tahun lalu ia kalah telak karena sempat gagap beberapa kali. Maka ia memutuskan untuk mengulangnya kembali
"Udah, stop, jangan diulang lagi." Oline melipat kertas pidato sahabatnya, tepukan pelan ia berikan pada bahu Erina. "Kamu latihannya kelewat keras."
"Kalau aku ga—"
"Erina, di sini ga ada Adrian Hermandra." Naira menekankan kata Adrian Hermandra. "Lagipula, menang kalah urusan kedua. Jangan. Mikir. Terlalu. Banyak. Okay?"
Erina menatap peserta yang tengah berpidato di atas panggung, cara bicaranya yang begitu mantap membuat semangat gadis itu perlahan pudar.
Ia mengembuskan napas kasar, memaksa dirinya tenang dengan melakukan teknik pernapasan 4-7-8. Erina merasa bahwa kegugupannya tidak berkurang meski sudah pernah tampil tahun lalu.
"Percaya aja, kamu pasti bisa, percaya sama kemampuan kamu." Oline menyunggingkan senyuman, gigi ginsulnya terlihat. "Karena kami semua percaya dengan kemampuanmu."
Ah, ekspetasi orang-orang.
"Nomor urut 7, Erina Yudika dari kelas 11 IPA A, dipersilakan untuk maju."
Suara itu membuat Erina tertegun sebentar. Oline dan Naira serentak memberikan semangat bertubi-tubi pada sahabat mereka. Erina hanya tersenyum tipis lantas menaiki podium dengan kepalan tangan yang seakan-akan tengah menahan keberaniannya agar tidak pergi.
Ada beberapa teman sekelasnya yang datang menonton; sebagian besar pergi untuk menonton pertandingan catur. Penontonnya tidak sebanyak saat lomba cerdas cermat empat hari yang lalu.
Fokus, Erina. Mereka tidak semenakutkan itu. Bayangkan bahwa semua orang menghilang, dan panggung ini adalah duniamu sendiri.
Gadis itu mulai berbicara, membiarkan semuanya mengalir keluar dari benaknya, dengan degupan jantung yang semakin kencang, dengan kaki yang tengah menahan gemetaran, dan dengan hati yang menyisipkan harapan kecil kepada langit agar dia bisa menang kali ini
"Terima kasih." Pidato Erina diakhiri dengan tepukan tangan yang meriah dari para penonton. Napas gadis itu tersengal-sengal, tubuhnya terasa ringan seakan-akan barusan ada yang mengangkat semua beban dari bahunya.
Dari atas podium, ia melihat seorang lelaki berkacamata dengan bertepuk tangan. Meski tidak terdengar, tetapi Erina membaca gerakan mulut Adrian yang seperti tengah mengucapkan kata 'Keren'.
Sejak kapan Adrian punya minat menonton pidato orang-orang?
Entahlah, yang jelas Erina merasa senang. Terlepas bagaimana pun hasilnya, yang penting semuanya sudah menyelesaikan pidato tanpa terbata-bata sama sekali.
Meski tidak menang, setidaknya gadis itu sudah mengalami kemajuan.
To be continued ....
712 kata
KAMU SEDANG MEMBACA
Ameliorate [END]
Ficção Adolescente[Teen Fiction] Bagaimana rasanya menjadi yang teratas; ketika semua pandangan hanya tertuju padamu, ribuan mata seakan-akan menyiratkan kebanggaan yang sanggup membuat jantungmu meledak oleh euforia. Menyenangkan bukan? Sama, aku juga bertanya-tanya...
![Ameliorate [END]](https://img.wattpad.com/cover/315200705-64-k758320.jpg)