Empat tokoh seri Punakawan sudah Kuswanoto keluarkan dari kotak. Satu set wayang yang sengaja dia simpan kini terpaksa dia keluarkan.
Satu kabel panjang dia tarik untuk lebih dekat dengan kain putih yang dibentang dengan satu batang pisang pendek pada bagian bawahnya. Sengaja dia mau jadikan lampu sebagai gantinya blencong.
Dirasa semua sudah cukup, Kuswanoto kemudian terlihat masuk ke kamar lagi.
"Pak, mbok ya, makan dulu!" teriak Warsinah dari dapur.
Kuswanoto keluar dengan sudah mengenakan blangkon serta baju lurik.
Diujung sisi kanan, dia meletakkan HP yang sudah diset ke dalam pilihan. Kini, video sudah 'On'.
Kuswanoto kemudian duduk bersila menghadap kain putih yang dibuat layar pertunjukkan wayang. Ditancapkan tokoh Gareng, Petruk, pada sisi kiri, sementara Semar pada sisi kanan.
Kayon dari kardus yang sudah dipersiapkan dia tancapkan ke batang pisang. Sejenak dia melirik ke arah kamera yang sudah menyala, dan siap merekam.
"Eh, sejak kapan rumah ini menanggap wayang! Ini apa-apaan toh, Pak!"
Warsinah jelas terkejut saat mengetahui Kuswanoto sudah duduk menghadap layar bak seorang dalang.
"Ini apa lagi, ha!" Jelas Warsinah terheran-heran. Dia tak tahu sama sekali, sebab tadi keadaan masih gelap sebelum lampu yang ada di atas menyala.
"Mayang." (Menggelar pertunjukan wayang).
"Sejak kapan Njenengan, jadi dalang. Ini maksudnya apa, Pak."
"Ho." (Itu). Kuswanoto menunjuk HP.
"Ngonten." (Buat konten).
"Buat konten? Buat apa?"
"Yo, golek duwek." (Ya, cari duit).
"He, Mak. Wes tak pikir-pikir. Mending saiki awakku dadi konten kreator ae. Ben iso oleh duwek nggo nebus motorku." (He, Mak. Sudah aku pikirkan. Mending sekarang aku jadi konten kreator saja. Biar bisa padat duit buat tebus motorku).
"Ya Allah, Pak, Pak. Kok malah jadi begini toh."
"Njenengan, biasa menulis toh. La kenapa sekarang malah beralih menjadi konten."
"Ngonten, Blok!" (Buat konten, Blok!).
"Ya, itu maksudku," ucap Warsinah seraya meletakkan segelas kopi di samping suaminya.
"Eh, ojo dideleh kono!" (Eh, jangan ditaruh di situ!).
"Kenapa?"
"Ngko diombe Bagong!" (Nanti diminum Bagong!).
Warsinah lalu memindah wayang Bagong. "Mana mungkin Bagong mau minum kopi. Aneh Njenengan, itu."
"Aku ini kok tidak habis pikir toh, Pak. Kenapa malah jadi begini, he? Itu mukena buat salat, malah dibuat layar."
"Ini lampu ruangan depan, malah ditarik-tarik dijadikan blencong. Ya Allah."
"Wes gak usah kokean muni. Saiki jikoken HP-ku iko." (Sudah tidak usah banyak bicara. Sekarang ambilkan HP-ku itu).
"Buat apa lagi." Warsinah makin tak mengerti akan ulah suaminya yang dianggap seperti anak kecil.
"Kok sudah seperti anaknya Lek Dengkik! Seperti anak kecil!"
"Wes menengo! Gelem duwek gak!" (Sudah diam! Mau duit tidak!).
"Uang dari mana? Keluar dari mukena itu, he?"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗔𝗠𝗕𝗔𝗟 𝗪𝗔𝗥𝗦𝗢
HumorPagi yang mengesalkan bagi Kuswanoto saat Pondi pemilik warung tiba-tiba datang menagih, dan menyita motor. Berusaha keras untuk menebus dengan mendatangi kedua sahabatnya, justru semakin membuat dia merasa seperti orang yang paling papa di dunia. *...
