•••• Selamat Membaca ••••
Bujukan Hasbi menerbitkan kata bersedia dari Ahwa. Riuh ucapan syukur dalam batinnya, tidak menyangka usahanya berbuah hasil yang diharapkan. Hasbi pun meminta Ahwa untuk mengatakan kesanggupannya langsung kepada Gus Zain.
Ucapan Hasbi itulah membawa Ahwa di sini, pelataran aula sekolah, berniat hendak menemui Gus Zain. Setelah mencari ke tempat yang biasa disinggahi Gus Zain, rupanya gus yang masih berusaha dilupakan olehnya sedang berada di sini.
Namun, langkah Ahwa tertahan untuk mendekat. Pasalnya Gus Zain saat ini terlihat sedang bersama Kiai Abdullah atau abi Ning Nadia. Seperti sedang membicarakan hal yang teramat penting dan merasa sungkan pula, akhirnya niatnya itu dia batalkan.
Tidak ingin mengganggu, Ahwa perlahan berjalan mundur dan pergi menjauh. Dirinya kini bingung hendak ke mana. Jam istirahat membuat koridor sekolah cukup disesaki lalu-lalang siswa siswi.
Empat bulan berlalu tidak lantas menjadikannya seorang siswi normal kembali yang tidak terlalu diindahkan keberadaannya. Jika maksud diindahkan itu ditatap tidak sebelah mata lagi oleh orang-orang, tentu dirinya tidak masalah karena itu harapannya.
Namun, saat ini beberapa orang yang dia temui menatap sinis ke arahnya. Entah Ahwa pun tidak tahu ada urusan apa antara dirinya dan mereka yang menatap sinis seakan tidak suka keberadaan dirinya di sini. Bukankah ini urusan antara dirinya, hatinya, dan Gus Zain?
Ahwa tidak suka urusan hidupnya ikut diurus oleh orang lain. Akan tetapi, lagi-lagi dirinya hanya bisa terdiam saat diperlakukan seperti itu, memaki dalam hati, dan menangis jika sudah terlalu lelah.
Setelah berjalan tidak jelas, Ahwa putar balik, padahal kelasnya sudah dekat jika dia tidak menemukan tujuan akan ke mana. Akan tetapi, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk memberitahukan keputusannya untuk mengikuti perlombaan kepada guru yang bersangkutan secara langsung. Lagi, dia harus melewati tahapan-tahapan tidak mengenakkan itu untuk sampai ke ruang guru.
“Assalamu'alaikum,” ucapnya lirih seraya meneliti mencari keberadaan guru bahasa Indonesia selaku penanggung jawab perlombaan ini.
Ketika netranya tidak menangkap yang dicari, barangkali penglihatannya yang tidak mahir mencari seseorang, Ahwa lantas berjalan dengan sedikit membungkuk mendekati guru yang paling dekat dengan pintu. Bermaksud hendak bertanya.
“Assalamu’alaikum. Permisi, Bu. Maaf, izin bertanya, ibu guru yang mengampu perlombaan esai di mana, ya?” Dengan mencoba sopan Ahwa bertanya.
“Ahwa, ya?” Ahwa lantas mengangguk.
Dirinya yang pendiam dan tidak memiliki terlalu banyak prestasi bisa dikenal oleh guru yang belum pernah mengajarnya tentu karena persoalan itu. Lagi pula, berani-beraninya dirinya dengan senang hati berurusan dengan gus. Kini hatinya yang sakit.
“Kayaknya lagi di lab komputer. Kamu coba ke sana aja.”
Ahwa mengangguk paham. “Nggih, Bu. Terima kasih. Maaf mengganggu waktunya.”
“Nggak apa-apa.”
Huh! Ahwa harus kembali berjalan jauh. Sekolah yang cukup luas ini terkadang membuat dirinya merutuk kesal. Terlebih setelah kejadian itu, tingkat level kemalasan Ahwa untuk keluar kelas semakin naik.
Ahwa mencoba tidak peduli dengan sekitar. Biarkan saja yang tidak tahu melihat seperti apa. Lagi pula mengakui perasaan bukan hal yang teramat sangat memalukan pikirnya. Itu hal yang biasa bukan? Mungkin hanya bisa dilakukan oleh yang pemberani.
Ahwa hanya bisa tertawa sendiri dan menggelengkan kepala. Untung saja keadaan sekitar sepi. Jika ramai, bertambahlah bahan omongan tentang dirinya yang tidak-tidak. Sungguh si pemalu yang sedang dilatih bermental baja. Akan tetapi, ternyata Ahwa yang tidak menyadari ada seseorang di situ.
KAMU SEDANG MEMBACA
Determinan (END)
Teen FictionIzinkan saya mengagumimu, Gus. Boleh? Meskipun nanti tidak akan pernah menjadi satu. Langkahnya terhenti, diam terpaku. Bibirnya ingin sekali menyuarakan segala resah dari relungnya yang merasa tak diperlukan adil oleh keadaan. Dia tak meminta rasa...
