part 12

3.9K 103 2
                                    

Terhitung dua hari Elysia tak sadarkan diri. Sore ini, mata indah yang beberapa hari ini tertutup perlahan terbuka. Elysia mengerjapkan kedua matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri tak menemukan keberadaan dia. Elysia mendesah kecewa. apa yang aku harapkan darinya? gumamnya.

Elysia merasa kan tenggorokan nya kering,  tangan kanannya mencoba menggapai teko air namun tak sampai. Ia menggeser sedikit tubuhnya agar bisa lebih mudah menggapainya. Ia tak sadar jika posisi tubuhnya sudah sangat di tepi ranjang. Elysia tersentak merasakan tubuhnya yang akan luruh ke bawah lantai, dengan cepat ia memegangi sisi lain dari ranjangnya. Elysia mendesah lega, mencoba memperbaiki posisi duduknya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan pikiran entah kemana melupakan keinginannya untuk meredakan dahaga. Entahlah, tiba tiba rasa haus hilang begitu saja.

Lama Elysia menerawang, pintu ruangannya dibuka membuat atensi wanita itu mengarah ke pintu. Elysia mengerutkan dahinya melihat Rigel, asisten Azka.

"Nona sudah bangun?" tanya Rigel. Ia berdiri tepat di depan ranjang rumah sakit Elysia.

"Kenapa kau bisa ada disini?"  Tanya nya heran.

"Tuan Azka yang menyuruh saya menjaga nona selama di rumah sakit."

Azka? Kenapa Azka? Apakah pria itu yang membawanya ke rumah sakit?

"Saya akan memanggil dokter untuk memeriksa nona." Rigel keluar meninggalkan Elysia yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jadi, Azka yang membawanya? lalu kemana pria brengsek itu?

Elysia seharusnya sadar jika posisi nya tidak lah penting bagi Raffael. Selama ini hanya ia sendiri yang memendam perasaan yang menyesakkan sampai membuat dirinya begitu rendah.

"Kenapa ini sangat sakit?" gumam Elysa memegangi dadanya.

"Apakah sudah merasa lebih baik?" seorang dokter muda masuk ke ruangan Elysia. Ia memeriksa keadaan Elysia meraih tangannya yang diperban.

"Keadaan mu sudah mulai membaik. Besok boleh pulang. Saya sarankan untuk tidak stress dan istirahat yang cukup." Elysia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dokter muda itu menatap lama wajah pucat milik Elysia. Entah kenapa ia merasa kasihan melihat tatapan wanita di depannya.

"Kau boleh berbagi cerita dengan ku sebagai pasien." ujarnya dengan senyuman manis. Elysia melirik dokter tersebut dengan senyuman tipisnya.

" Tidak perlu dokter."

"Baiklah, jaga dirimu. Sebentar lagi perawat  akan memberikan vitamin jangan lupa diminum dan makanannya dihabiskan." Dokter itu keluar setelah mendapatkan anggukan dari Elysia.

Ruangan kembali sunyi. Ruangan yang hanya di isi oleh dirinya sendiri. Elysia mengangkat tangan kiri miliknya yang diperban ke udara. Matanya memandangi hasil upaya bodohnya. Ia kembali  menerawang kejadian lampau yang membuatnya bertemu dengan si brengsek Raffael.

"Berhenti disana, jalang sialan!"

Wanita itu terus berlari dengan sesekali menoleh kebelakang melihat seorang pria mengejar nya. Ia terus berlari dengan cepat tak memperdulikan kaki nya yang lecet dan berdarah. Tangannya sesekali menghapus air mata yang turun deras mengalir di pipinya.

Ia takut, sungguh. Tak pernah terbayangkan jika hidupnya akan mengenaskan seperti ini. Jangan salah kan jika ia dilahirkan dari orangtua yang tak menginginkan nya. Sedari lahir, Elysia hidup di panti asuhan. Ketika berumur 18, ia di adopsi oleh keluarga dari kelas menengah ke atas. Semulanya semua terasa baik baik saja, kehidupan yang dijalani Elysia sangat baik. Hingga ketika sang ibu angkat meninggal ketika Elysia berumur 22 tahun, kehidupannya mulai berubah dari yang di anggap pembantu oleh keluarga angkatnya sampai ayah angkatnya yang menjual dirinya kepada salah satu kolega bisnisnya.

Ex PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang