Dia datang hanya sementara, bukan selamanya. Itulah Ashel bagi Zee. Cukup sudah dia menahannya, sekarang sudah waktunya untuk melepas dan menutup luka.
Move on memang sulit, tapi setidaknya itu masih mungkin.
Malam hari ini digunakan oleh Zee untuk meratapi nasibnya, karena apa yg terjadi tadi siang disekolah setelah mereka semua pulang membuatnya terus terpikir.
Dimana dia melihat Ashel yg dibonceng oleh seorang gadis yg diketahuinya bernama Adel dari kelas XI IPA 4 melintas dihadapannya kala berusaha keluar dari parkiran sekolah.
Mereka terlihat sedang asik bercanda diatas motor tanpa menyadari kalau mereka telah melewati Zee begitu saja. Bahkan Zee merasa seperti butiran debu kala itu, tak terlihat apalagi dianggap.
Motor ninja, tinggi tegap, cantik sekaligus ganteng, mana dia juara olimpiade fisika sekolah lagi. Dibandingkan dengan Adel, Zee hanya murid biasa yg sederhana. Mana mungkin dia bisa bersanding dengan Adel. Itulah yg sedang terpikirkan olehnya, tanpa dia sadari kalau sebenarnya dia itu cukup sebanding dengan si Adel.
Wakil ketua dance walau udah resign, cantik sekaligus ganteng, gayanya yg kadang swag dan cool itu selalu terlihat keren, punya sabuk hitam taekwondo, baik hati dan tidak sombong, juara kelas pula. Cuma dianya aja yg keseringan merendah jadi gak sadar kalau punya banyak kelebihan.
" Arghhh... " Erang frustasi Zee dengan keras mampu terdengar bahkan sampai keluar kamar, membuat Ara yg kebetulan lewat didepan kamarnya langsung masuk tanpa mengetuk.
" Hei ?? Kenapa ??? " tanya Ara setelah melihat posisi Zee yg terbilang cukup aneh, dimana kaki kirinya naik ke headboard kasur, kaki kanan diatas bantal, beserta kedua tangan yg menjuntai kebawah kasur dengan setengah badan yg seperti akan melorot kebawah. Sangatlah tidak elit.
" Kak... Aku galau... " terang Zee pada Ara. Yg mendengar pun langsung menghampiri dengan seutas senyuman dan membenahi cara tidur Zee.
" Benerin dulu posisinya, nanti sakit kepala kamu. Udah ? " tanya Ara yg diangguki Zee setelah terlentang dengan benar diatas kasur.
" Kenapa hm ? Galau karena ? " tanya Ara yg segera dijawab,
" Ashel kak ! " ucap Zee pada Ara. Ara yg mengetahui siapa Ashel ini pun mengerti kemana arah perbincangan selanjutnya.
" Terus ? Kamu udah bilang kalau suka sama dia ? " tanya pelan Ara, mencoba mencari tau apa yg membuat adiknya ini sampai galau seperti itu.
" Udah ! Dan aku ditolak kak ! " gumam pelan Zee diawal dan diakhiri dengan nada putus asa.
" Terus ? Sekarang kamu maunya gimana ? Tetap berjuang atau berhenti ? " tanya kembali Ara,
" Nggak tau kak... Mau berjuang rasanya salah karena aku udah bilang pingin jadi temen aja, tapi kalau aku berhenti pun itu nggak mudah kak ! " keluh Zee pada sang kakak.
" Zee, mau denger cerita gak ? " pertanyaan lembut itu sontak membuat Zee mengerutkan kening bingung, tapi mungkin setelah kakaknya bercerita dia bisa mendapat jawaban akan apa yg harus dilakukan selanjutnya.
Memang, hal random dari Ara sering sekali membantu Zee dalam menyelesaikan masalah, jadi tak apa jika dia mencoba mendengarnya.
Melihat Zee yg mengangguk membuat Ara bersiap dengan ceritanya, terlihat dia yg menarik nafas panjang kemudian membuangnya seraya menatap keluar jendela dengan pandangan nostalgia.
" Dulu kakak nggak ngerti, mengapa mencintai seseorang itu bisa datang secara tiba tiba. Tapi itu dulu.
Sekarang kakak ngerti. Kalau cinta datang ya karena cinta, bukan karena hal yg lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Kita...
Fiksi PenggemarAzizi Asadel, seorang murid yg bisa dikatakan biasa-biasa saja di SMA Satyaguna. Harus menghadapi cobaan dimana dia tak sengaja melempar sebotol soda kekepala ketua OSIS nya disekolah. Tak sampai disana, dia juga harus bertanggung jawab terhadap ad...
