"Maafkan Fano pah. Fano saat itu berpikir papa dan mama tidak sayang aku," lirih Fano.
Stevan membalas pelukan putranya dengan santai mencium puncak kepala Fano. Fano melepaskan pelukan secara paksa walaupun percuma karena tenaga sang ayah cukup besar juga. Fano memikirkan sebuah ide dan ketemu.
'BUG' Fano memukul perut Stevan sangat kuat, menatap garang Stevan yang seenaknya mencium puncak kepala dia begitu saja.
Stevan memegangi perutnya, meringis kecil akibat pukulan Fano sebelumnya. "Galak bener kamu, dek," keluhnya.
"Jangan cium aku, ya, pah! Aku udah besar!" protes Fano sambil berkacak pinggang.
"Padahal dulu, pas kecil, mau aja dicium sama papa," goda Stevan sambil tertawa kecil.
"Idih, beda itu!" Fano mencibir.
"Iya deh, papa kalah," ujar Stevan menyerah.
"Maaf ya, pah. Aku kebiasaan di jalanan gitu," ujar Fano sambil tertunduk sedikit menyesal.
"Santai aja. Papa ngerti kok, kehidupan kamu selama lima tahun terakhir pasti berat banget," balas Stevan lembut.
"Besok aku sekolah lagi ya, pah," ujar Fano mengalihkan pembicaraan.
"Pindah aja ke sekolah yang papa punya," saran Stevan.
"Udah nyaman di sekolahku sekarang, pah," jawab Fano mantap.
"Baiklah. Oh, motormu udah ada di garasi, dek," ucap Stevan sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba, suara seseorang memanggil Fano dari arah lain. Wajah Fano langsung berubah ceria, senyum tipisnya menghiasi wajahnya. Dengan cepat ia berlari menghampiri sumber suara, sementara Stevan hanya mendengus melihat tingkah anak bungsunya.
Fano menuruni tangga dengan tergesa-gesa menuju dapur. Di sana, ia melihat Lusiana bersama kedua kakaknya, Argo dan Rimba, sedang bercengkrama.
"Adek, suka susu rasa apa?" tanya Lusiana sambil menoleh ke arah Fano.
"Cokelat, mah," jawab Fano sambil duduk di sebelah Rimba.
Sementara itu, Argo terlihat sibuk mengetik di laptopnya, entah apa yang ia kerjakan. Lusiana mulai membuatkan susu untuk Fano. Rimba, yang duduk di dekatnya, menggeser toples camilan ke hadapan adiknya. Fano melirik toples itu dengan bingung.
"Makan aja tuh, kacang mete. Oleh-oleh dari abang pas tugas di Australia," ucap Rimba santai.
"Abang kerja apa sih?" tanya Fano penasaran.
"Bantuin papa urus perusahaan," jawab Argo sambil tetap fokus pada laptopnya.
"Papa malah ditinggal sendirian di kamar," keluh Stevan tiba-tiba muncul dari belakang.
Stevan terlihat lesu karena Fano meninggalkannya begitu saja. Namun, Fano tidak peduli. Tawa Rimba pecah melihat wajah kusut ayahnya. Sementara itu, Argo hanya mengulas senyum tipis.
"Susu cokelat hangat untuk anak bontot mama," ujar Lusiana sambil menyerahkan gelas ke Fano.
Fano tersenyum lebar, lalu meminum susu cokelat itu hingga habis dalam sekali tegukan. Saat Stevan mencoba mengusap rambutnya, Fano langsung menatapnya dengan delikan kesal.
"Si bontot galak banget," goda Argo sambil tersenyum.
"Udah dari dulu, bang. Kalau sama mama senyum terus, giliran papa langsung asem wajahnya," tambah Rimba sambil tergelak.
"Tau nih, nggak berubah sama sekali," ucap Stevan setengah bercanda.
"Papa tuh jelek. Mama cantik, jadi aku senyum terus," balas Fano, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stefano Mahardika (END)
General FictionStefano Mahardika, atau yang akrab disapa Fano, adalah remaja tengil yang gemar bolos sekolah dan menjalani hidup keras di jalanan. Hidup sebatang kara, ia bertahan dengan mengamen dari pagi hingga malam demi sesuap nasi dan sekedar bertahan hidup. ...
