Di ruangan yang serba hitam, ketiga pemuda berbeda usia tampak serius berdiskusi tentang rencana mereka. Pemuda tertua, Argo, menyampaikan ide-idenya, namun ditolak mentah-mentah oleh Rimba. Fano, si bungsu, hanya diam, menyaksikan perdebatan sengit antara kedua kakaknya.
"Daripada ribut terus, mending gabung aja ide abang dan kakak," usul Fano, mencoba menengahi.
"Tapi, dek, konsep abang itu kuno, loh!" seru Rimba, kesal.
"Konsepku tidak kuno, Dan!" balas Argo dengan tegas.
"Pakai konsepku saja kalau terus berdebat," kata Fano dengan senyum miring.
"Idemu bagaimana sih, dek?" tanya Rimba dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Kita bertiga kecelakaan. Itu kejutan yang sangat spesial untuk mama," jawab Fano dengan penuh keyakinan.
"Hey, itu berbahaya tahu!" protes Argo.
"Aku ikut!" seru Rimba dengan semangat.
"Dan!" tegas Argo, mencoba membujuk.
"Dua lawan satu, berarti aku menang," ucap Fano sambil tersenyum lebar.
"Lantas, ide awalnya gimana?" tanya Argo, penasaran dengan rencana Fano.
Ketiga bersaudara melanjutkan perencanaan mereka untuk peringatan Hari Ibu. Di depan pintu, Stevan berdiri mendengarkan pembicaraan mereka tanpa menunjukkan reaksi.
"Entahlah, biarkan saja," jawab Stevan acuh, sebelum pergi menuju ruangannya.
Setelah perundingan selesai, mereka sepakat untuk mulai melaksanakan rencana setelah makan siang. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat sejenak sebelum drama dimulai.
Perjalanan menuju rumah mereka diwarnai dengan keheningan. Fano sibuk menonton drama Korea di ponselnya, Rimba tenggelam dalam skripsi yang belum di-ACC dosennya, sementara Argo fokus pada jalanan yang membentang.
"Bang!" panggil Rimba.
"Kenapa?" jawab Argo, mengalihkan perhatian dari jalan.
"Skripsi Rimba ganti judul lagi," keluh Rimba, ekspresinya penuh frustrasi.
"Abang akan bantu agar segera di-ACC dosenmu," ucap Argo, mencoba menenangkan.
"Thanks abang!" seru Rimba, wajahnya seketika cerah.
"Skripsi sulit sekali, ya?" tanya Fano, penasaran.
"Tidak sulit asal tensimu sesuai, dek," jawab Argo.
"Sesuai bagaimana, bang?" tanya Fano bingung.
"Judul dan isi skripsimu harus nyambung. Kalau bikin asal-asalan, pasti sulit di-ACC, seperti kakakmu," sindir Argo, tersenyum nakal.
"Judul skripsiku keren kok, abang!" rengek Rimba.
"Aku mau lihat skripsi kakak!" seru Fano, penuh semangat.
Rimba pun menyerahkan tablet berisi skripsinya. Fano mengernyitkan dahi saat membaca judulnya.
"Teori segitiga bermuda dan alien?" Fano menggeleng, bingung. "Isinya nggak masuk akal, kak!" pekiknya.
"Adek aja sependapat dengan dosen pembimbingmu," celetuk Argo, tersenyum miring.
"Biar beda dari yang lain, bang!" protes Rimba, sedikit kecewa.
"Lihat baik-baik, tensi skripsi kakak tentang perjalanan anak jalanan atau kehidupan sosial aja. Kakak kan ambil jurusan sosiologi, jadi itu lebih cocok," usul Fano bijak.
"Adek abang ini memang pintar sekali," puji Argo dengan bangga.
"Ck, adek mulu yang dipuji!" keluh Rimba, kesal namun senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stefano Mahardika (END)
General FictionStefano Mahardika, atau yang akrab disapa Fano, adalah remaja tengil yang gemar bolos sekolah dan menjalani hidup keras di jalanan. Hidup sebatang kara, ia bertahan dengan mengamen dari pagi hingga malam demi sesuap nasi dan sekedar bertahan hidup. ...
