Fano mengikuti pelajaran dengan rasa malas. Baginya, materi sekolah terasa monoton dan tidak menantang. Ia menguap lebar sambil mendengarkan penjelasan Bu Diah, guru fisika, tentang satuan gaya. Kepalanya ia sembunyikan di lipatan tangan, mencoba mencari kenyamanan di tengah kebosanan.
Namun, Fano tidak berani melanggar aturan orang tuanya. Ayahnya, Stevan, sudah mewanti-wanti agar ia tidak bolos. Sebagai imbalan, Fano dijanjikan sebuah hadiah sepulang sekolah. Janji itu menjadi satu-satunya motivasi untuk tetap duduk di kelas hari ini.
"Papa kasih apa ya nanti?" gumam Fano dalam hati, mencoba menebak-nebak hadiah apa yang akan ia terima.
Sebelumnya, di ruang BK, Stevan dengan santai membisikkan kesepakatan kecil:
"Fano, kalau hari ini kamu nggak bolos pelajaran atau kabur dari sekolah, Papa kasih sesuatu yang spesial."
Fano, meskipun malas, setuju. Baginya, mendapatkan hadiah gratis dari ayah adalah hal yang tak bisa dilewatkan.
Namun, lamunannya terputus oleh suara tegas dari depan kelas.
"Stefano!" panggil Bu Diah, guru fisika, dengan nada yang langsung membuat seluruh kelas hening.
Fano mendongakkan kepala perlahan. Wajah malasnya jelas terlihat, tetapi ia berusaha menjawab. "Iya, Bu?"
"Kamu mendengarkan penjelasan saya tadi?" tanya Bu Diah dengan tatapan tajam.
"Dengar kok," jawab Fano santai, meskipun jelas ia tidak sepenuhnya fokus.
"Kalau begitu, silakan jelaskan di depan kelas. Buktikan kalau kamu memang mendengarkan," tantang Bu Diah sambil menyerahkan spidol hitam.
Fano menerima spidol itu dengan malas, bangkit dari kursinya, dan berjalan ke depan kelas. Semua mata tertuju padanya. Teman-teman sekelas tahu Fano adalah tipe siswa yang sering menunjukkan emosi di situasi tertentu, tetapi mereka juga paham bahwa dia cerdas, terutama dalam bidang akademik.
"Saya jelaskan ya, Bu," ucap Fano dengan nada malas, tapi tetap maju ke depan kelas.
"Silakan," jawab Bu Diah sambil tersenyum.
Fano mulai menulis di papan tulis sambil berkata:
"Gaya adalah tarikan atau dorongan yang terjadi pada suatu benda. Gaya ini dapat menimbulkan perubahan posisi, gerak, atau bentuk benda. Karena memiliki nilai dan arah, gaya termasuk dalam besaran vektor. Simbolnya adalah Force (F), dan satuannya adalah Newton (N). Pengukuran gaya biasanya dilakukan dengan alat yang disebut dinamometer atau neraca pegas. Dan, untuk melakukan gaya, diperlukan tenaga. Semakin besar gaya yang diperlukan, maka semakin besar pula tenaga yang harus dikeluarkan."
Setelah selesai, Fano meletakkan spidol dan menarik napas dalam-dalam. Ia memandang teman-temannya sekilas, yang sebagian terlihat mencatat dengan serius, sebagian lagi menahan tawa melihat ekspresinya yang malas.
"Bu, udah ya? Lelah saya ngomong terus," keluh Fano sambil mengusap tengkuknya.
"Tunggu dulu, Fano. Kan masih ada sifat-sifat gaya. Lanjutkan, tanggung ini," sahut Bu Diah, tetap tenang.
Fano menatap teman-teman sekelasnya yang mulai tersenyum lebar, seolah menikmati "penderitaannya". Ia mendengus kesal.
"Gua capek ngomong, sementara lu enak dapet catatan gratis. Kampret!" gerutunya, membuat kelas meledak dalam tawa.
"Stefano!" tegur Bu Diah dengan nada tegas namun lembut. "Jangan pakai kata kasar. Itu tidak baik."
Fano terdiam sejenak, lalu mengangkat tangan dengan santai. "Maaf, Bu. Khilaf," ucapnya pendek.
"Ya sudah, Fano. Lanjutkan sifat gaya sebentar lagi," ujar Bu Diah.
Fano kembali ke papan tulis, menghela napas panjang, lalu melanjutkan:
"Sifat-sifat gaya:
KAMU SEDANG MEMBACA
Stefano Mahardika (END)
General FictionStefano Mahardika, atau yang akrab disapa Fano, adalah remaja tengil yang gemar bolos sekolah dan menjalani hidup keras di jalanan. Hidup sebatang kara, ia bertahan dengan mengamen dari pagi hingga malam demi sesuap nasi dan sekedar bertahan hidup. ...
