13 (menyiksa musuh)

7.8K 425 15
                                        

Fano mengenakan topeng putih polos pemberian Stevan, untuk memastikan identitasnya tetap tersembunyi dari anak buah mereka. Sementara itu, Stevan memakai topeng serigala yang mencolok.

"Pah, kenapa harus putih sih?!" protes Fano, merasa kurang nyaman dengan pilihan topengnya.

"Kau ingin menyiksa tahanan tanpa terlihat, bukan?" tanya Stevan dengan nada datar, tidak menggubris keluhan Fano.

Fano menghela napas. "Ah, aku mengerti," jawabnya akhirnya, menyadari maksud ayahnya.

Mereka memasuki markas dengan langkah mantap. Begitu Stevan tiba, seluruh anak buahnya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Fano mengikuti langkah kaki ayahnya, matanya penuh rasa ingin tahu tentang bagaimana seorang mafia menangani musuhnya.

"Masih lama, pah?" tanya Fano dengan rasa tidak sabar.

"Five minutes, boy," jawab Stevan singkat.

"Hm," gumam Fano, mengangguk pelan, menunggu dengan penuh antisipasi.

Stevan membuka pintu ke ruangan yang sudah tercium bau darah di udara. Di pojok ruangan, terlihat seorang pria terikat, hanya mengenakan celana pendek, tubuhnya terkulai lemah dan terlihat jelas tidak dalam keadaan baik.

Fano berlari cepat menuju pria itu, tetapi Stevan dengan sigap menarik kerah bajunya, menghentikannya.

"Fano, sabar dulu," ucap Stevan dengan nada rendah dan penuh peringatan.

Fano menatap ayahnya sejenak. Hanya helaan napas yang terdengar dari dirinya, memahami bahwa dia harus menunggu instruksi lebih lanjut.

"Pah, aku boleh bermain-main dengan dia?" tanya Fano, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Kau ingin membunuhnya begitu?" tanya Stevan dengan nada datar, menyelidiki niat anak bungsunya.

"Sedikit bermain-main, seperti anak kecil saja," jawab Fano, mengerling dengan senyum tipis.

"Baiklah, lakukan saja. Papa tunggu di sini, melihat cara kerjamu," ucap Stevan sambil melirik sekeliling. Dia kemudian memanggil salah satu anak buahnya untuk membawa bangku, duduk santai, dan memerhatikan dengan penuh minat.

Fano mendekat dengan langkah tenang, tangan terulur untuk melepaskan ikatan pria itu. Di matanya, hanya ada tatapan datar yang penuh perhitungan.

"Paman, dia melakukan kesalahan apa, pah?" tanya Fano, suaranya datar namun tajam.

"Dia salah satu komplotan yang menculikmu, nak," jawab Stevan tanpa ekspresi.

"Ah, jadi kau salah satunya," ucap Fano, menyeringai sedikit. Senyum itu menunjukkan ketidaksabaran, seolah dia sudah menunggu saat ini sejak lama.

Stevan menatap anak bungsunya dengan tatapan penuh kebanggaan, meskipun tidak bisa menyembunyikan sedikit kekhawatiran. "Fano... kamu akan lebih sadis dibandingkan kedua kakakmu kelak," katanya sambil mengamati.

Fano tidak menjawab, tetapi mengangkat tangan untuk memberi isyarat kepada salah satu anak buah Stevan. Fano meminta sebuah silet, dan segera menerima benda tajam itu dengan kedua tangan, matanya tetap fokus pada korban yang terikat di depannya.

"Pah, aku mulai ya!" pekik Fano dengan semangat, meskipun suaranya datar dan tak terpengaruh oleh keadaan.

"Silakan, nak," ucap Stevan, memberikan izin dengan nada rendah.

Fano menggoreskan silet itu dengan tenang, dari dada hingga paha pria dewasa itu. Jeritan kesakitan yang mengerikan pun terdengar, tetapi Fano hanya menatap luka itu dengan rasa ingin tahu, seolah sedang mempelajari sesuatu yang baru.

Stefano Mahardika (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang