Fano mengikuti langkah Stevan ke markas dengan hati campur aduk. Setelah menyerahkan rekaman percakapan si pengkhianat kepada ayahnya, Stevan hanya diam tanpa sepatah kata. Sikap dingin itu membuat Fano bertanya-tanya apa yang sebenarnya direncanakan oleh ayahnya.
Beberapa menit setelah keluar dari ruangan Stevan, Fano mendengar suara keras seperti benda berat yang hancur. Rasa penasaran memaksanya untuk mengintip dari celah pintu. Di dalam, terlihat meja kerja Stevan terbelah dua oleh tangan sang ayah yang penuh emosi. Wajah Stevan gelap, rahangnya mengatup, seolah siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
Fano menelan ludah, memutuskan lebih baik menjauh sebelum dirinya ikut menjadi sasaran amukan.
Beberapa waktu kemudian, Fano berdiri di depan pengkhianat yang tadi ia laporkan. Sosok lelaki yang kini terikat dan babak belur itu memohon ampun dengan suara yang serak dan penuh ketakutan. Di sisi Fano, kedua kakaknya, Rimba dan Argo, terlihat menikmati momen mereka.
“Argh! Kumohon hentikan!” jerit pria itu, napasnya tersengal.
“Tidak seru kalau dihentikan,” ucap Rimba dengan suara dingin, senyuman tipis menghiasi wajahnya.
“Bosmu berniat menyakiti adik bungsuku,” Argo menyusul, tatapannya tajam menusuk. “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Fano melipat tangan di dada, ekspresi ceria khasnya berubah serius. Namun, sifat jahilnya tetap muncul. “Kak, potong lidahnya saja. Suara dia bikin sakit telinga.”
Rimba menoleh sedikit ke arah adiknya. “Dia mengganggumu, Dik?”
“Banget. Atau lebih baik, biarkan dia digilir saja. Buat dia tahu apa itu rasa sakit dan kehinaan,” usul Fano dengan nada datar, seolah berbicara tentang sesuatu yang biasa.
Rimba terkekeh pelan, tapi Argo memandang Fano dengan tegas. “Sayangnya, abang tidak akan membiarkanmu melihat hal seperti itu.”
Fano mendengus. “Aku sudah dewasa, Bang. Aku ingin belajar cara keluarga Jovetic menyelesaikan pengkhianatan.”
Rimba menyeringai. “Biarkan saja, Bang. Adik harus tahu cara bermain kita. Ini dunia kita, dan dia harus paham aturan di dalamnya.”
Namun, Argo tetap keras kepala. “Pah, bawa adik keluar. Ini bukan tempat untuk dia.”
“Tidak mau!” Fano memprotes keras.
Stevan, yang berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat, akhirnya angkat bicara. “Biarkan saja adikmu. Keluarga Jovetic memang kejam, dan dia perlu belajar. Dunia kita tidak akan memanjakannya.”
Mendengar restu dari Stevan, Fano tersenyum lebar. Dia menoleh ke penjaga yang berdiri tak jauh darinya. “Om, kasih aku pisau daging.”
Penjaga itu ragu sejenak, tapi tatapan penuh otoritas dari Stevan membuatnya tak punya pilihan. Pisau daging itu akhirnya berada di tangan Fano. Remaja berusia lima belas tahun itu tersenyum puas, berjalan mendekati kedua kakaknya.
“Ayo, Bang. Aku ingin belajar dari yang terbaik,” ucap Fano sambil mengayunkan pisau di tangannya dengan ringan, tatapan matanya penuh semangat.
Rimba dan Argo saling bertukar pandang. Mereka tahu, adik mereka mungkin lebih siap daripada yang terlihat, namun keduanya masih diliputi perasaan campur aduk tentang melibatkan Fano dalam kekejaman ini.
Stevan tetap diam, hanya mengamati, membiarkan situasi berjalan sesuai dengan kehendak anak-anaknya. Bagi Stevan, ini adalah pelajaran penting untuk Fano, bahwa keluarga Jovetic tidak pernah menunjukkan kelemahan pada siapa pun, bahkan pada pengkhianat paling rendah sekalipun.
“Ingin menyiksanya?” tanya Rimba dengan nada datar.
“Tentu saja,” jawab Fano mantap. “Aku dapat informasi kalau dia salah satu dari orang yang menculikku dulu. Anehnya, malah diterima kerja sama Papa di keluarga kita.” Wajah Fano menunjukkan rasa kesal yang mendalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stefano Mahardika (END)
Fiksi UmumStefano Mahardika, atau yang akrab disapa Fano, adalah remaja tengil yang gemar bolos sekolah dan menjalani hidup keras di jalanan. Hidup sebatang kara, ia bertahan dengan mengamen dari pagi hingga malam demi sesuap nasi dan sekedar bertahan hidup. ...
