26 (sesuatu terjadi)

4.2K 255 4
                                        

Fano menendang pintu rumah mansion keluarga Jovetic dengan keras. Rimba, yang sedang berada di ruang tamu, terlonjak kaget mendengar suara pintu yang didobrak. Rimba memicingkan matanya, melihat wajah Fano yang pucat.

"Dek!" Rimba segera menghampiri Fano dan memeriksa keadaannya, dari atas sampai bawah. Fano sedikit mendorong tubuh Rimba, merasa risih dengan perlakuan kakaknya. "Kakak bisa jemput, padahal," ucap Rimba.

"Adek mau papa," jawab Fano.

"Papa tidur di kamar. Mama di dapur, sedang memasak makan malam untuk kita," ujar Rimba.

Fano tanpa berkata apa-apa meninggalkan Rimba dan berjalan menuju kamar. Rimba memilih pergi ke dapur untuk memberitahukan kedatangan Fano kepada ibunya, Lusiana.

Di depan pintu kamar yang berwarna silver, Fano memutar kenop pintu untuk masuk. Di kasur, Stevan tidur tanpa mengenakan baju, memperlihatkan abs enam kotak yang tercetak jelas. Fano mendekati tubuh Stevan yang terlentang dan memeluknya erat.

"Papa, kepala adek berputar-putar," adu Fano kepada Stevan. "Pah!" panggil Fano lirih.

Stevan membuka sebelah matanya dan melihat sosok putra bungsunya menatap sayu ke arahnya. "Dek!" kata Stevan terkejut.

"Dada adek sakit, pah," lirih Fano.

"Berantem tadi kena dadamu, ya?" tanya Stevan, merasa panik.

"Enggak, hah," jawab Fano lemah.

"Kulitmu sedikit membiru, dek," ucap Stevan khawatir.

Fano semakin memeluk tubuh Stevan. Stevan merasakan nafas Fano tidak normal, ditambah demam tinggi. Keringat dingin mulai mengalir deras dari dahi Fano. Stevan segera menggendong tubuh Fano dan berniat menghubungi dokter untuk mengetahui kondisi Fano.

"Pah, mual," lirih Fano.

"Muntahkan saja," ucap Stevan dengan tenang.

"Kasurnya nanti kotor. Adek nggak bisa ganti sprei mahalnya," lirih Fano.

Stevan memijit tengkuk Fano agar Fano bisa mengeluarkan isi perutnya. Fano akhirnya memuntahkan makan siang yang ia santap sebelumnya. Stevan berusaha mengambil ponselnya, tetapi kesulitan karena tubuh Fano yang terus bergerak.

"Dek, diam dulu ya," ucap Stevan.

"Papa sakit," lirih Fano.

"Iya, papa tahu. Papa akan panggilkan dokter biar hilang sakitnya," ucap Stevan, berusaha menenangkan Fano.

Stevan mengelap keringat dingin yang terus mengalir dari dahi Fano. Stevan sangat khawatir melihat kulit Fano semakin membiru. Fano terlihat kesulitan bernafas, batuk, demam tinggi, dan keringat dingin membanjiri baju yang dikenakannya.

"Kuharap dugaanku salah," harap Stevan dalam hati.

Stevan mencoba menghubungi beberapa kali dokter pribadi keluarga, tetapi tidak ada yang mengangkat. Dengan cepat, Stevan mengambil jaket tebal dan memakaikannya ke tubuh Fano. Stevan hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam dan menendang pintu kamarnya.

Stevan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Di ruang tamu, Argo terlihat sedang mengerjakan tugas kantor sendirian. Stevan melirik Argo, yang membalas anggukan singkat darinya.

"Papa, adek kenapa?" tanya Rimba dengan cemas.

"Kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Stevan dengan tegas, suaranya penuh kekhawatiran.

Argo segera menyiapkan mobil untuk berangkat ke rumah sakit. Rimba mencoba untuk mengambil alih Fano dari gendongan Stevan, tetapi Fano malah memeluk leher Stevan dengan erat.

Stefano Mahardika (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang