11 (darah mafia)

8.6K 485 5
                                        

Fano duduk di atas motor gede miliknya, menghembuskan asap rokok sambil merasakan getaran ponselnya di saku celana. Di sampingnya, Raditya asyik memainkan ponselnya. Mereka pulang bersama karena arah rumah mereka searah, jadi mereka memutuskan untuk pergi bareng.

Fano mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk, satu dari kedua orangtuanya, satu dari kakak-kakaknya, dan satu nomor asing. Fano sempat berniat memblokir nomor asing itu, tapi tiba-tiba terdengar panggilan masuk dari Argo.

Fano: "Bang, kalau cuma numpang nafas, jangan telepon gua dong."

Argo: "Keluarga besar bakal datang lusa, dan abang khawatir kamu bakal dimonopoli sama semua kakak sepupumu."

Fano: "Emang semua sepupu lebih tua dari gua semua, sih?"

Argo: "Iya, kamu yang paling muda di antara kami semua, dek."

Fano: "Suruh mama sama papa buat punya adik lagi aja deh."

Argo: "Semua kakak sepupumu sayang banget sama kamu kok, dek."

Fano: "Gua gak mau dilarang-larang, mereka tahu bang!"

Argo: "Hahaha, yaudah deh."

Fano: "Bang!"

Argo: "Cup-cup-cup, adik bungsunya abang, jangan nangis dong."

Fano: "Bukan nangis, gua kesel!"

Argo: "Abang kasih kamu uang tambahan, tapi ada syaratnya."

Fano: "Syarat mulu kayak si Stevan!"

Argo: "Itu ayahmu, lho, dek."

Fano: "Bodo amat, habisnya uang jajanku dipotong kemarin karena kebablasan main."

Argo: "Iya, kamu juga kira-kira dong, main kok sampai hampir subuh baru pulang."

Fano: "Gua ketiduran di rumah Radit, tahu!"

Argo: "Makanya, telepon salah satu anggota keluarga, bilang kamu lagi di rumah Radit."

Fano: "Argh, gua gak salah kok!"

Argo: "Ayo deh, adik bungsunya abang."

Fano: "Kemana?"

Argo: "Ke kantor papa."

Fano: "Gua butuh energi sebelum kesana, tahu!"

Argo: "Abang traktir mie ayam lima porsi, plus sup buah tiga porsi."

Fano: "Otw, abang gantengku!"

Argo: "Dasar, giliran ditraktir baru muji. Kemarin-kemarin malah meledek abang mulu."

Fano: "Hehehe."

Argo: "Hati-hati di jalan, dek."

Fano: "Siap laksanakan, komandan!"

Setelah itu, Argo memutuskan sambungan telepon, dan Raditya yang melihat Fano dengan wajah berbunga-bunga hanya tersenyum. Raditya sudah tahu, pasti Fano mendapat keuntungan besar hari ini. Hampir sebulan tinggal di rumah kedua orangtuanya, hampir semua keinginan Fano yang mustahil kini satu per satu dipenuhi keluarganya.

"Keluarga gua baik banget ya, Dit. Mereka memanjakan gua sekali. Sesuatu yang dulu gak pernah gua rasain," ujar Fano sambil melamun, mengingat masa lalunya sebelum bertemu dengan orangtuanya yang sekarang. Masa-masa sulit yang dilaluinya hanya bersama Raditya dan orangtua Raditya, tempat dia melampiaskan segala keluh kesah. Fano terpaksa tumbuh dewasa lebih cepat dari anak-anak seusianya. Di usia 10 tahun, saat teman-temannya masih bermain, Fano sudah bekerja keras untuk mencari nafkah demi bertahan hidup. "Gua balik dulu ya, takut abang nungguin," lanjut Fano.

Stefano Mahardika (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang