Fano meniup seblak panas yang baru saja selesai dibuat Lusiana beberapa menit lalu. Warna merah menyala dari kuah seblak mendominasi, membuat siapa pun yang melihatnya menelan ludah. Dengan penuh semangat, Fano mengambil satu sendok seblak dan siap meluncurkannya ke mulut. Namun, tiba-tiba seseorang menepis tangannya. Seblak itu tumpah berantakan di meja.
Fano menatap tajam pelaku gangguan itu. Di hadapannya, Argo berdiri dengan ekspresi dingin, sama sekali tak merasa bersalah.
Tanpa peduli, Fano kembali mengambil sesendok seblak. Tapi kali ini, Argo dengan sengaja membuang mangkuk seblak itu ke lantai. Suara pecahan mangkuk terdengar keras.
"Kenapa sih, Bang?!" kesal Fano, rahangnya mengeras menahan marah.
"Kenapa kau makan makanan tidak sehat seperti itu?" balas Argo, nadanya tajam.
"Dengar ya, Bang. Itu makanan, bukan sampah. Jangan seenaknya dibuang begitu saja," ucap Fano dengan suara rendah, namun penuh tekanan.
"Jangan ceramahi aku, Dek. Kau pikir kau sudah dewasa?" balas Argo sinis.
"Aku memang belum dewasa, Bang, tapi aku tahu betul susahnya mencari seribu rupiah di jalanan!" sergah Fano. Dengan emosi, dia mendorong bahu Argo dan bergegas menuju kamarnya.
Pintu kamar dibanting keras hingga bergema di seluruh rumah. Fano menghempaskan tubuhnya ke kasur, kesal setengah mati.
"Sudah beberapa bulan aku ngidam seblak. Sekalinya ada, malah dihancurin begitu aja!" gerutunya sambil menatap langit-langit kamar.
Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Radit. Tapi sayangnya, Radit tidak bisa dihubungi. Fano mendesah keras, frustrasi.
"Aku cuma mau seblak," keluhnya pelan.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. "Dek!" panggil Argo dari luar.
Fano mengabaikan suara itu, terlalu malas untuk berbicara dengan Argo. Ia melirik laptop yang tergeletak di meja, belum pernah disentuh sejak ia mendapatkannya. Rasa penasaran membuatnya bangkit dari kasur.
Fano menyalakan laptop dan menunggu layar memuat. Tampilan Windows 10 standar menyambutnya.
"Wow, keren juga," gumamnya, terkesima.
Ia mulai menjelajahi isi laptop, tetapi yang ia temukan hanyalah dokumen kosong-wajar, karena laptop itu baru. Namun, matanya tertuju pada sebuah folder bertuliskan Games. Dengan penuh rasa ingin tahu, Fano mengklik folder itu.
Begitu folder terbuka, ia disambut oleh beberapa game yang sudah terinstal. Mata Fano berbinar. Meski agak kudet soal teknologi, ia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
"Seru juga, ya," ucapnya, tersenyum kecil.
Ia memutuskan untuk mencoba salah satu game kartu yang tampak sederhana. Dengan fokus, ia mulai memainkan game itu, perlahan melupakan kejadian buruk yang baru saja dialaminya.
Di meja makan, semua sudah berkumpul, hanya Fano yang belum tampak. Acara makan malam belum dimulai karena menunggu si bungsu. Stevan melirik ke arah kamar Fano, namun tak ada tanda-tanda kemunculannya.
"Kok adek belum keluar juga, sih?" gumam Rimba heran.
"Katanya tadi seblak buatan Mama jatuh ke lantai. Mungkin dia bad mood," ucap Lusiana sambil meletakkan sendoknya.
"Bukan, dia marah sama aku. Aku larang dia makan seblak tadi," jelas Argo santai.
"Kalau gitu, minta maaf sama adek," ujar Lusiana.
"Tadi aku ketuk pintunya berkali-kali, tapi nggak ada jawaban," keluh Argo sambil menyilangkan tangan.
"Mama cek dia dulu, ya," kata Lusiana seraya bangkit dari kursinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stefano Mahardika (END)
Fiction GénéraleStefano Mahardika, atau yang akrab disapa Fano, adalah remaja tengil yang gemar bolos sekolah dan menjalani hidup keras di jalanan. Hidup sebatang kara, ia bertahan dengan mengamen dari pagi hingga malam demi sesuap nasi dan sekedar bertahan hidup. ...
