curiga

217 17 9
                                        


"gimana bisa kita kecolongan lagi?!" bentakan yang keluar dari mulut hezra membuat semua orang di ruangan itu terdiam.

sambil berkacak pinggang dan jalan mondar-mandir hezra kembali berucap, "kita siaga malam ini juga, saya yakin malam ini dia ada di sana."







ana beberapa kali berkedip untuk memastikan apa yang baru saja dia lihat. memang ya yang nama nya perempuan itu suka banget cari penyakit.

kalimat yang di bilang jihan tentang musuh dalam selimut seketika kembali berputar di kepala nya.

"hana irsinda? ngapain kamu tiap bulan transfer sebanyak ini ke dia?" tanya ana sambil menunjukkan layar handphone zafran di depan muka.

setelah kejadian runa jatuh wisnu segera kembali menuju rumah. kali ini dia nggak sendiri tapi di temani sama tama, kata pipihnya rafa takut wisnu kebawa emosi, soalnya muka laki-laki itu serem banget nggak kayak biasa nya.

dan bener aja sampai di depan rumah bukan nya dia masuk malah melipir nyamperin hezra yang entah kebetulan lewat di depan rumah nya.

"zra." panggil wisnu yang membuat hezra menoleh.

"ya? kenapa nu?" tanya hezra sambil menatap wisnu bingung.

tanpa pikir panjang wisnu menarik kerah baju milik hezra hingga membuat suami jihan itu tercekik, "lo ngaku sekarang atau gue geledah rumah lo?!" ucap wisnu di kuasai oleh emosi.

tama yang niat nya ingin melerai malah nggak jadi saat hezra memberi tanda stop dengan mengangkat telapak tangan nya.

"ngaku apa? apa yang mau lo denger tentang gue?" balas hezra.

mendengar jawaban hezra membuat wisnu semakin mengencangkan kepalan tangan nya, "nggak usah pura-pura bego, selama ini yang neror keluarga gue lo kan?"

bibir hezra terangkat sebelah, sambil tangan nya melepas cengkraman wisnu dari kerah baju milik nya, "lo kalo mau tau ikut gue, jangan di sini." bisikan hezra yang nggak bisa di denger oleh tama membuat nya penasaran.

"lo pulang aja tam ambilin baju istri lo, gue ada urusan sama hezra." ucap wisnu sambil pergi ninggalin tama sendirian kayak orang tolol.




"lo tidur sana, jangan begadang nanti asi lo jadi seret."

runa yang masih belum puas memandang putri cantiknya sedikit menoleh ke arah lilis.

"anak gue cantik banget, lis. mirip gue ga si?"

lilis ngangguk sambil senyum yang kayak di paksa, soal nya dia udah bosen jawab pertanyaan yang sama selama 78 kali, banyangin sampai 78 kali.

"udah ya lo tidur anak lo biar di bawa dulu sama suster nya." kata lilis sungkan sambil ngeliatin suster yang emang udah dari tadi nunggu in runa.






"tanda tangan."

bian tersentak, dia menggeleng sambil mundur, "nggak usah ngada-ngada, yuli."

yuli yang mata nya kelihatan banget kalau abis nangis masih berusaha nyodorin selembar kertas ke muka bian, "tanda tangan, bi. please." ucap nya dengan suara lirih.

sebenernya yuli nggak mau cerai, dia beneran cinta banget sama bian. tapi di sisi lain yuli beneran capek sama sikap mama mertua nya itu, setiap hari rasa nya yuli seperti di cekik, bahkan buat sekedar bernafas aja yuli nggak bisa.

"apa pun yang di minta mama, apa pun yang keluar dari mulut mama aku nggak peduli. biarin aku di cap anak durhaka, tapi tuhan nggak tidur, yul."

"tuhan tau kalau keputusan aku milih pertahanin kamu itu adalah keputusan yang tepat." kata bian.

"ibu memang segala nya, tapi sejak aku memutuskan untuk nikahin kamu, kamu itu tujuan hidupku. sampai aku mati kamu orang yang akan aku nomer satu kan."

"selama aku masih hidup kamu adalah tanggung jawab terbesar ku, dan aku udah janji di depan papa mu bakal mencintai kamu sampai aku mati. mau beribu kali mama nyuruh kita pisah aku nggak akan pernah nurutin ego beliau. kamu istri ku, kamu hidup ku, kamu tujuan aku bertahan hidup."

"jadi kalau kamu pergi aku nggak tau arah ku harus kema, yul."

selama hampir 6 tahun yuli mengenal bian, baru kali ini yuli melihat sosok rapuh laki-laki itu, sehancur itu kah hati suami nya jika yuli pergi?






sudah lebih dari 30 menit zafran sama lastri saling diam. setelah mendengarkan penjelasan zafran tentang dia yang sering mentransfer hana secara diam-diam kini keduanya saling menutup mulut.

pertama, lastri merasa gagal menjadi sahabat untuk hana, dan yang kedua dia juga merasa kecewa karena suaminya bertindak sendiri tanpa sepengetahuan lastri.

"kamu masih mau terus diemin aku?" kata zafran pada akhirnya.

lastri yang di tanya jadi salah tingkah, dalam hati ibu tiga anak itu pengen banget peluk suaminya itu, tapi otak nya nggak sejalan, alias gengsi!

"lagian kenapa kamu harus sembunyiin hal sepenting ini dari aku?"

lagi-lagi zafran menghela nafas panjang, "kayak nya congek lu udah overload deh. berapa kali gue bilang kalau hana yang minta ini di rahasiain?" ucap zafran lumayan kesal.

di katain begitu sama suaminya membuat lastri melotot. enak aja di bilang kebanyakan congek, dia aja bersihin telinga 3 hari sekali!

jadi alasan zafran diam-diam selalu transfer ke hana itu buat biaya pengobatan nya farel.

farel selama ini ternyata punya penyakit jantung, bawaan sejak dia lahir.

bukan cuma zafran sih yang tau, yuli sama bian juga. secara mereka berdua yang paling sering bersama farel.

zafran sebenernya nggak sengaja tau sih, waktu itu pas istirahat makan siang niat nya zafran mau makan di depan toko tempat kerja hana.

baru juga dia mau masuk ke tempat makan nya ternyata hana ngeliat dirinya dan teriak sambil nangis. zafran yang bingung cuma ngikut instruksi hana aja sampai pada akhirnya mereka berdua sampe di rumah sakit yang ternyata di sana udah ada yuli.

"terus aku ini harus gimana?" tanya lastri frustasi.

"pura-pura nggak tau aja. kalau hana belum cerita jangan di pancing takut dia tersinggung."








"TAMA!"

tama yang lagi sarapan di ruang tengah langsung terperanjak kaget mendengar teriakan lilis.

tanpa pikir panjang dia lempar sendok di tangan nya terus lari menuju kamar.

"kenapa mih? kenapa teriak? kamu jatuh?" tanya bapak anak satu itu dengan muka panik nya.

tapi kali ini muka lilis lebih panik. perempuan itu kayak lagi kehilangan jiwa nya untuk sesaat. dengan tatapan kosong tubuh lemas lilis menyender depan pintu kamar mandi.

masih dengan tatapan kosongnya lilis menyerahkan sebuah benda ke depan muka tama.

senyum lebar langsung menghiasi wajah laki-laki itu hingga membuat istri nya kesal sampai melempar celana dalam berwarna merah tua yang ada di tangan nya.

jadi sebenernya si lilis lagi mau mandi tapi dia ngerasa ada yang aneh, ini udah tiga minggu lebih dia belum datang bulan jadi iseng aja sambil mau mandi dia tes kehamilan.

baru juga lepas celana dalam testpack yang tadi udah dia masukin ke air pipisnya ternyata garis dua, alias positif.

padahal lilis udah berharap kalau ini cuma hormon aja, bahkan mimih nya rafa sampai pakai tiga testpack buat ngetes dan hasilnya semua postif.

"lebar bener itu mulut lo!"

"mih pipih seneng banget rafa mau punya adek." ucap tama girang banget.

sambil mencebikkan bibir lilis menatap tama yang keliatan bahagia banget, "padahal gue belum siap." ucap lilis dalam hati.




.
.

nah loh satu rafa aja bisa bikin kepala pening, apa lagi kalau dua :)

Rumah tangga | k-idolCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang