akhirnya setelah 3 hari runa berada di rumah sakit, kini ibu dan bayi itu sudah di perbolehkan pulang.
bayi cantik berkulit putih kemerahan yang persis seperti ibunya itu di beri nama lavanya dhiajeng anasera dhananjaya. yang berarti gadis cantik dan tersayang yang dikirim tuhan sebagai hadiah.
"buset ini mah runa kemasan sachet!" cletuk amir yang lagi ngintip bayi cantik itu di gendongan ana.
"suara lo jangan kenceng-kenceng, bego!" sambil lilis memukul pelan kepala amir.
"nama nya siapa, nu?" tanya bian sambil menatap wisnu.
"lavanya dhiajeng anasera dhananjaya." balas wisnu sambil tersenyum.
"cantik banget nama nya, panggilan nya siapa?"
wisnu menatap lilis sambil masih tersenyum, "bagus nya di panggil siapa ya? anara? nara? bagus gak?"
"nara bagus jarang ada yang punya." kata runa yang di setujui oleh wisnu.
dari riuh nya suara mereka atas kebahagiaan lahirnya anara, ada yuli yang berusaha tegar walaupun hati nya terasa sakit.
"juy.." panggil runa pelan, "anterin ke kamar dong gue pengen pipis."
yuli mengangguk sambil merangkul runa.
"gue tau lo lagi sedih. gue emang gak pernah si ngerasain punya mertua kayak begitu, tapi satu hal yang gue percaya dan gue yakin kalau rezeki itu gak akan tertukar."
sesampainya di kamar runa malah duduk di tepi kasur sambil menarik lengan yuli supaya ikut duduk di sebelahnya.
"maksutnya gimana, na?"
"kunci nya sabar sama ikhlas." sambil runa mengelus perut yuli, "punya anak itu bukan tuntutan kok juy, apa lagi tuntutan mertua bermulut knalpot kayak gitu."
"tuhan juga tau kok kapan lo siap dan enggak siap, tuhan pasti nitipin rezeki di waktu yang pas, saat lo udah siap, jadi jangan kepikiran mulu ya. jangan setres dan banyak olahraga okey, omongan enggak penting begitu gak usah di gubris."
perkataan runa sedikit membuat rasa sedih yuli melebur, hati nya perlahan mulai tenang ternyata masih banyak yang peduli sama dia.
minggu pagi ini ana sama yuli udah janjian mau jogging bareng di lapangan depan. gak tau deh mau beneran jogging atau mau jajan.
tapi keliatannya sih yang serius jogging cuma yuli, soalnya ana dari tadi malah sibuk makan di pinggir trotoar.
"udahan, juy lari nya. nih minum." sambil ana menyodorkan sebotol air mineral kepada yuli.
"nyesel gue ngajak elo, tau gini gue ngajak si jihan aja." jawab yuli setelah menghabiskan setengah botol air mineralnya.
ana cuma cengengesan aja sambil ngunyah telur gulung yang baru dia beli 5 menit lalu.
"oh iya, juy. gue udah tau tentang farel."
yuli sedikit terkejut, "apa nya?"
"sakit nya."
yuli menggigit kecil bibir nya, kok ana bisa tau ya?
"kemarin gue berantem sama jamal. gue gak sengaja nemu bukti transfer ke rekening nya hana, terus jamal cerita deh ke gue."
yuli manggut-manggut tanda kalau dia paham, "tapi ini rahasia ya, lastri. jangan sampai yang lain tau sebelum hana sendiri yang cerita."
"okey aman."
sedangkan di dimensi lain ada para bapak muda yang lagi nongkrong di teras rumah wisnu, rencana awal sih ngopi di kedai abah tapi mengingat wisnu sekarang udah punya buntut jadi lah mereka ngumpul aja di rumah wisnu.
"gue mau cerita deh." kata amir.
"gak usah di dengerin, bahas yang lain aja." jawab tama sambil menyeruput kopi buatan runa.
"si anjing lo!" sambil menatap sinis amir nonjok pelan lengan tama.
"cerita apa? kalo cewek ogah." kata zafran menimpali.
"lo pada percaya ramalan gak?"
pertanyaan amir membuat para laki-laki itu menyerngitkan dahi mereka.
"tiba-tiba banget lo bahas ramalan?" tanya bian dengan ekspresi yang masih tetap seperti semula.
"kemarin kan gue nolongin kakek-kakek yang jatuh gitu. posisi tengah malem gak ada orang sama sekali si kakek jatuh telungkup di pinggir jalan."
"terus?" ucap tama mulai penasaran.
"gue tolongin lah tuh kakek sambil gue kasih minum. terus dia nyalamin gue kan sambil bilang makasih, tapi dia ngeliatin telapak tangan gue agak lama."
"tangan lu burik kali." cletuk zafran yang membuatnya mendapat hadiah getokan kepala dari wisnu.
"diem! lanjut,mir." kata wisnu sambil fokus menyimak.
"terus dia bilang kalau tahun ini gue bakal dapet kejutan yang gak pernah gue bayangin."
"kejutan?"
amir ngangguk atas ucapan wisnu, "iya, menurut kalian apaan?"
"di tagih pijol mungkin gak sih?" kata tama yang membuat zafran sama bian ketawa.
"serius tolol! dia juga bilang kalau tahun ini bakal jadi tahun yang gak pernah gue lupain. soal keluarga, pertemanan, sama percintaan."
"sebenernya itu tergantung orang nya masing-masing sih. kalau buat gue, gue sih percaya aja."
"hah?! seorang dokter kek elu percaya ramalan, nu?" kali ini tama beneran syok sih denger ucapan wisnu.
"justru karena gue dokter gue percaya. lo pikir dari segitu banyak nya pasien gue semua penyakitnya terdeteksi oleh medis?"
"iya rata-rata sih pasti ke deteksi tapi ada satu kasus dua tahun lalu yang sampe saat ini masih bikin gue bingung."
"makasih ya, ji. besok ajarin gue lagi cara ngerajut yang bener."
jihan ngangguk sambil bukain pintu pagar rumahnya agar jihan bisa langsung pulang.
"iya, han santai aja. lo bisa kesini kapan pun kalau lo sempat."
"ya udah gue pulang dulu, ji. ayo farel pamit sama tante jihan."
"farel pulang dulu ya tante, jihan. terimakasih sudah di kasih cookies yang enak, dadah tante."
"sam-sama farel, sayang. dadah." sambil jihan melambai kan tangan kepada farel.
"duluan ya, ji."
jihan ngangguk, "iya hati-hati, han."
"mama."
"iya kenapa, nak?" tanya hana saat farel memanggil nya."
"itu kan tante baik yang sering kasih biskuit ke farel." sambil farel menunjuk seorang perempuan yang ada di depan rumah runa.
"lah ngapain dia malem-malem ke rumah runa? apa mau nengokin nara ya?"
.
.
tinggal 4 part lagi cerita ini bakal tamat ya guys🥹🫰🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah tangga | k-idol
De Todosesuai cover. namanya berumah tangga pasti berliku, naik turun dan penuh warna.. aseekkk.
