Dari mana Zemira mendapatkan barang-barang dari brand ternama itu?
Itulah yang Zafira pikirkan seharian penuh. Entah sudah berapa kali gadis berambut pirang itu mondar-mandir di kamarnya karena gelisah ingin sebuah jawaban.
Mustahil Zemira membelinya dengan uang sendiri, karena butuh gaji dari beberapa bulan ia bekerja untuk membeli satu gaun saja. Belum termasuk tas, dan parfum.
Untuk mencuri, Zafira juga ragu. Seumur hidup, Zemira tidak pernah mengambil apa pun tanpa izin. Bahkan tuannya saja tadi, sampai membela Zemira tanpa mendengarkan ucapan Zafira dan orang tuanya. Menunjukkan bahwa Zemira di sana sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari para majikannya.
Lalu, dari mana?
Zafira harus mencari tahu asal Zemira mendapatkannya, agar ia juga bisa memiliki barang-barang seperti milik sang kakak.
Gadis itu sempat berpikir bahwa Atlas lah yang memberikan semuanya, tetapi ... Zafira juga sama ragunya dengan dua statement sebelumnya. Atlas tidak sekaya itu sampai bisa membeli banyak barang-barang mewah. Untuk mendapatkan konfirmasi ini, Zafira sudah menelepon Atlas sejak dari rumah majikan Zemira. Atlas mengatakan akan datang malam ini ke motel tempat Zafira sekarang berada, setelah semua pekerjaannya selesai. Namun, sampai sekarang, pria itu belum menunjukkan tanda-tanda akan datang.
Jadi, Zafira mengambil secara kasar ponselnya dari tempat tidur, lalu menelepon nomor di riwayat panggilan paling atas. Gadis itu duduk di pinggir ranjangnya guna mengurangi sedikit gelisah karena cemburu.
Sembilan nada sambung sudah terdengar, tetapi belum ada jawaban dari Atlas. Hingga operator telepon yang mengambil alih untuk memberitahu Zafira bahwa Atlas sama sekali tidak menerima panggilannya.
Zafira menjauhkan ponsel ke depan wajahnya, dengan alis mengerut dalam karena kesal.
"Apa ini? Kenapa Atlas tidak menjawab teleponku?" Zafira bermonolog, menggerutu kesal, lalu mencoba menelepon lagi. Kaki kanannya tampak mengetuk lantai dengan gerakan cepat, sembari menunggu setiap nada sambung dari ponselnya berganti menjadi suara Atlas.
Sayangnya, panggilan kedua masih sama. Atlas tidak memberikan jawaban apa pun. Zafira mengetatkan rahangnya karena marah. Kekuatan genggamannya pada ponsel semakin bertambah kuat, hampir saja membanting benda pintar itu karena terlalu geram. Pada akhirnya, Zafira hanya bisa menarik napas panjang untuk membuang semua rasa kesal, lalu kembali menelepon Atlas.
Panggilan ketiga, keempat, kelima ... hingga ke sekian kalinya, masih tidak memiliki jawaban. Dari duduk di pinggir tempat tidur, berjalan mondar-mandir, sampai Zafira berdiri di dekat jendela—Atlas masih belum mengangkat teleponnya sama sekali. Bahkan, untuk panggilan terakhir, Zafira harus menyerah karena ponsel Atlas sudah tidak aktif lagi.
Napas Zafira berubah kasar, ketika ponsel ia jauhkan dari telinga. Matanya berubah nanar, ketika melihat riwayat panggilan, pada nama Atlas yang berada paling atas, dengan 16 panggilan tanpa jawaban dari pria itu. Zafira mengarahkan pandangannya keluar untuk menenangkan otaknya yang tengah panas. Sesekali menengadah, ketika ledakan amarah itu hampir tidak bisa gadis itu kendalikan.
Hanya karena pemikiran bahwa mengamuk sekarang tidak akan berarti apa-apa, maka Zafira mencoba menahannya. Menunggu sebentar kedatangan pria itu, lalu menunjukkan padanya dengan siapa Atlas sekarang berurusan.
Zafira menyimpan semua kemarahannya untuk nanti. Seperti itulah yang ia harapkan sekarang. Gadis itu berjalan menuju tempat tidurnya untuk kembali duduk. Mencoba mengalihkan pikiran agar tidak terbebani terlalu lama dengan mengecek sosial media, tetapi nyatanya ....
Api dalam pikiran Zafira tidak lagi bisa dikendalikan. Dua detik setelah ia membuka salah satu sosial medianya dan menemukan sebuah foto mesra antara Zemira dan Atlas—tampak tengah berkencan dengan begitu mesra dengan caption menusuk hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rare Cinderella
Dragoste15+ | ROMANSA || SEDANG BERLANGSUNG Di mata kedua orang tuanya, Zemira hanyalah mesin penghasil uang. Kehidupannya selama ini adalah neraka yang tak pernah berhenti membakar Zemira. Gadis itu berdoa agar seorang pangeran mau menyelamatkannya. Lalu...
