15+ | ROMANSA || SEDANG BERLANGSUNG
Di mata kedua orang tuanya, Zemira hanyalah mesin penghasil uang. Kehidupannya selama ini adalah neraka yang tak pernah berhenti membakar Zemira. Gadis itu berdoa agar seorang pangeran mau menyelamatkannya.
Lalu...
Seruan lembut itu menjadi alarm menyebalkan untuk Zafira yang merasa bahwa tidurnya baru beberapa puluh menit. Ia memperbaiki posisi bantal empuk yang menjadi alas kepalanya, serta selimut yang sempat diturunkan hingga bahu—karena pasangannya sempat melabuhkan kecupan di sana.
"Kau bisa memuaskan dirimu untuk tidur, Zafira. Bonus sudah kusiapkan ada di bawah bantalmu, Sayang. Gunakan semaumu. Maaf karena tidak sempat sarapan bersamamu. Istriku tiba-tiba saja membatalkan rencana dan pulang kemarin. Sekarang sedang menunggu di rumah."
Sebagai tanggapan, Zafira memberikan gumaman kecil. Ia sama sekali tidak berniat membuka matanya, entah karena terlalu lelah setelah pergumulan lama mereka semalam, atau ... karena ia tidak memiliki minat sama sekali pada pria yang sebaya dengan ayahnya itu.
Tempat tidur dirasakan bergerak—beban berkurang. Disusul beberapa entakan sepatu pada lantai, kemudian ditutup oleh suara bantingan pintu.
Zafira baru mengangkat kelopak matanya.
Tubuh lelahnya dipaksa untuk berubah posisi menjadi duduk dengan mengandalkan topangan pada kedua lengan. Selimut luruh hingga sebatas perut, dan ia hampir tidak peduli pada bagian atas tubuhnya yang terekspos. Zafira mengecek bawah bantalnya dengan santai, dan menemukan puluhan lembar uang di sana. Senyumnya langsung terbit. Inilah yang Zafira butuhkan ... lembaran-lembaran uang pemuas dahaga belanjanya tanpa harus kerja seharian.
Perempuan itu tengah memperhitungkan apa saja yang akan ia beli nantinya, saat tangan Zafira terulur ke nakas untuk mengambil ponsel. Saat data dinyalakan pertama kali, ia sangat mengharapkan sesuatu: bahwa akan ada pesan rindu dari Atlas, atau sekadar menanyakan keberadaan dan kegiatan Zafira, tetapi ... tidak ada pesan baru di kontak Atlas sejak terakhir kali Zafira menanyai kabarnya.
Rasa jengkel memenuhi diri Zafira. Ia bergegas turun dari tempat tidur, untuk mengenakan pakaiannya. Tatap optimisnya mengarah pada cermin setinggi tubuh di salah satu lemari.
"Untuk sekarang, mungkin aku yang masih mengemis padamu, Atlas. Tapi kupastikan, segera ... kau akan berlutut menyesal di bawah kakiku!" Zafira bermonolog, dengan pandangan tajam, tetapi pandangannya segera luruh saat menyadari ada sesuatu yang salah di tulang selangka kirinya.
Jejak merah tercetak di sana.
Zafira merutuk, sembari membanting pakaian dari tangan yang belum sempat ia kenakan semuanya. Sekarang, ia harus menunda pertemuannya sebentar dengan Atlas, demi mengurus bekas merah ini lebih dulu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mimpi. Semalam hanya mimpi. Zemira yakin bahwa dirinya bermimpi ketika bayangan ciumannya bersama Kai terus terulang dalam memori. Merenggut ketenangannya sejak semalam, hingga ia harus tidur dini hari, lalu terbangun lebih awal hanya untuk ... melanjutkan ingatan itu.
Pada akhirnya, Zemira tidak bisa melakukan hal dengan baik di kamarnya. Gadis itu berdiri cukup lama di depan cermin lemari, demi melihat tampilannya sendiri. Matanya semula saling adu pandang dengan bayangan sendiri, sampai tatapnya mulai turun hingga berhenti di kedua bibirnya.