28. Unwanted Love

179 40 3
                                        

Jika Nata menyebut kebersamaan mereka sekarang ini adalah sebuah kencan, maka berbanding terbalik dengan Zemira yang merasa keberatan terhadap segala sikap berlebihan dari tuannya itu.

Nata tetaplah Nata, yang selalu memaksakan setiap kehendaknya. Sebenarnya bagus, tetapi untuk Zemira, ini terlalu berlebihan. Ia tidak bisa nyaman menerima semua kebaikan sang tuan.

"Kau lihat? Aku bisa menjadi kekasih yang baik untukmu? Aku bisa mempelajari dengan sempurna apa yang para gadis inginkan, tanpa perlu kau minta," kata Nata, membanggakan diri sendiri.

Zemira membalas kalimat tersebut dengan dua buah anggukan lesu. Kakinya terasa akan berpisah, ketika mereka meninggalkan mall yang entah sudah berapa mereka kunjungi hari ini. Malam menjelang ketika Zemira dipersilakan masuk oleh Nata ke mobilnya.

Hela napas Zemira terdengar berat, ketika gadis itu menempelkan kepalanya pada sandaran kursi. Lega, karena mereka akan segera pulang. Zemira akan menghabiskan seluruh waktu istirahatnya di kamar, tidur, tanpa bergerak. Hanya membayangkan saja, Zemira merasa terhibur.

"Kau sudah sangat lelah?" tanya Nata.

Zemira awalnya melirik ke arah jendela di sampingnya, ketika mendapati sentuhan di kepala, gadis itu menoleh pada Nata yang masih fokus mengemudi. Tanpa memprotes apa yang Nata lakukan padanya, Zemira mengiyakan dengan anggukan.

"Setidaknya, kau tidak memikirkan masa lalumu seharian ini. Aku sangat hebat membantumu mencari pengalihan, bukan?"

Zemira mendengkus pelan. "Ya ... Anda hebat."

Padahal, Zemira memang tidak memiliki niatan untuk mengingat mantan kekasihnya sedikitpun. Meski demikian, ia akan tetap menghargai sang tuan. 

"Bagus," komentar Nata. "Di beberapa kasus, aku memperhatikan bahwa perempuan sangat sulit move on dari mantan kekasihnya di minggu pertama. Aku senang, kau bisa lebih cepat melupakan mantanmu, sehingga dengan begitu, kau bisa cepat beralih padaku."

Untuk kalimat terakhir Nata, Zemira segera terhenyak.

"S—saya belum bisa ... beralih pada pria lain dengan cepat, Tuan," kata Zemira sedikit tergagap demi menjaga kesopanan pada tuannya itu. Namun, tetap saja, Zemira harus mendapatkan tatap sinis dari Nata. "Saya trauma dikhianati, Tuan. Anda mungkin tidak mengerti perasaan saya, tetapi setidaknya berikan saya waktu luang untuk hidup sendiri."

"Kau seharusnya tahu, bahwa aku tidak akan pernah membuatmu trauma dua kali," balas Nata.

"Ya ... iya. Anda memang tipe yang sangat setia, tetapi tetap saja. Saya trauma dengan sebuah hubungan, setidaknya ... selama beberapa hari, atau pekan, atau bulanan. Saya tidak memiliki rencana jangka pendek untuk menjalin hubungan dengan pria mana pun. Maaf, Tuan."

"Padahal kau tahu, bahwa aku tidak akan pernah mau menyakitimu, Zemira."

"Ya, saya sangat tahu bahwa Anda akan selalu mengupayakan yang terbaik untuk saya, tetapi Tuan ... kadang, memiliki waktu sendiri itu jauh lebih baik. Saya bisa mengenali diri saya sendiri. Itu akan membuat saya merasa sangat bersyukur akan hidup."

Nata tidak langsung membalas. Tangannya perlahan ditarik dari puncak kepala Zemira, untuk diletakkan pada setir mobil.

"Anda marah?" tanya Zemira hati-hati. Diam-diam meringis, khawatir jika apa yang ia takutkan benar terjadi. Membuat masalah dengan sang tuan adalah hal yang paling ingin Zemira hindari.

"Tidak." Nata menjawab tenang. Ia sempatkan menoleh pada Zemira untuk menunjukkan sebuah smirk tipis, lalu kembali fokus pada jalanan. "Baiklah. Silakan jalani hidup yang kau mau, karena bagaimanapun sekarang ini, kau tetap akan menjadi milikku pada akhirnya."

Rare CinderellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang