"Kau sudah mendapat gaji bulan ini, bukan? Segera kirimkan pada Ibu. Zafira butuh membeli pakaian baru karena miliknya sudah usang. Ibu juga harus membeli keperluan rumah."
Zemira memejamkan mata, berusaha menghalau perih di dada yang selalu saja muncul tanpa permisi lebih dahulu. Lalu seperti biasa, Zemira masih tidak mampu menahan air mata yang segera meluncur membasahi pipi putihnya.
"Nanti malam aku berencana pulang, Bu. Tidak masalah, bukan, jika Ibu dan Zafira berbelanja besok?"
"Tidak perlu pulang. Kamu kirim saja uangnya ke rekening Ibu dan fokus saja bekerja supaya bisa mendapat bonus."
Gadis itu tertegun mendengar ucapan yang selalu sama setiap kali mengatakan akan pulang pada sang ibu.
"Ibu tidak merindukanku? Aku sudah lama tidak kembali ke rumah, bukan? Besok akhir pekan, setidaknya aku akan menginap selama dua hari. Kita bisa pergi berbelanja bersama."
"Kau sudah besar, untuk apa Ibu masih merindukanmu? Sudahlah. Cepat kirimkan uangnya. Ibu tunggu hari ini."
Tidak ada ucapan perpisahan dan sambungan telepon terputus begitu saja. Gadis berkaki jenjang itu menggenggam erat ponselnya sembari menghapus basah di wajah. Sakit lagi hati Zemira. Berminggu-minggu tidak berjumpa, ternyata ibunya tidak merasakan kerinduan yang sama. Selain kasih sayang, sungguh Zemira tidak mengharapkan yang lain. Namun, hal itu serupa angan-angan yang sulit untuk Zemira gapai lagi. Benar gadis itu pernah merasakan derasnya cinta dari sang ibu, tapi ketika Zafira hadir, dunia Zemira berubah.
Zemira menatap miris tas yang teronggok di ranjang dengan beberapa pasang pakaian di dalamnya. Rencananya untuk pulang akan ia tunda, karena Zemira takut tidak sanggup melihat bagaimana sang ibu hanya mencurahkan kasih sayang untuk Zafira. Gadis itu cemburu pada adiknya, tapi tidak mampu melakukan apa pun karena perasaan Zemira selalu diabaikan oleh orang tuanya. Mau berapa kali pun mencoba, Zemira tidak bisa menjadi berani untuk memberontak dan meminta dengan lantang hak yang seharusnya didapatkan.
Air mata Zemira mulai kering, hatinya juga sedikit membaik setelah mengalihkan pikiran dengan hal-hal yang membuatnya senang seperti es krim dan permen kapas. Karena dua hal itu, Zemira gegas kembali ke dapur untuk memeriksa apakah makan malam untuk para tuannya sudah siap.
Setelah tidak ada lagi pekerjaan dan para tuannya sudah meninggalkan ruang makan, gadis berambut sedada itu gegas bersiap untuk menyenangkan perasaannya. Kalau tidak dapat menemukan penjual permen kapas, dia akan membeli es krim, begitulah yang Zemira pikirkan. Namun, siapa sangka, saat keluar dari paviliun khusus asisten rumah tangga, Zemira bertemu dengan Nata yang sedang berjalan mendekat. Tak biasanya Nata pergi ke paviliun asisten, sehingga Zemira jadi khawatir jika ada masalah.
"Selamat malam, Tuan Nata. Apakah terjadi sesuatu?"
Laki-laki bertubuh tinggi dengan aura serius itu menyunggingkan sedikit senyum pada Zemira. Hati Zemira jadi sedikit lega, karena jika Nata memberi senyum walau sedikit, itu artinya tidak ada masalah berarti.
"Tidak. Aku hanya penasaran kenapa kau masih di sini. Bukankah tadi pagi kau sudah meminta izin untuk kembali ke rumahmu? Kau bilang merindukan keluargamu."
Sesaat Zemira tertegun mendapat perhatian dari Nata. Selama ini Zemira terbiasa dengan sosok tuannya yang irit bicara dan terkesan tidak peduli pada sekitar. Sedikit mengherankan untuk Zemira jika ternyata Nata peduli pada salah satu pekerjanya yang berencana berakhir pekan dengan keluarga.
"Kurasa saat ini pun kau tidak sedang bersiap pulang ke rumah."
Zemira sadar penampilan kasualnya sedang diperhatikan Nata, bahkan tas tangan kecil yang dia genggam tak luput dari penglihatan laki-laki itu. Gadis itu sedikit canggung karena biasanya selalu tampil dengan seragam kerja di depan Nata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rare Cinderella
Romance15+ | ROMANSA || SEDANG BERLANGSUNG Di mata kedua orang tuanya, Zemira hanyalah mesin penghasil uang. Kehidupannya selama ini adalah neraka yang tak pernah berhenti membakar Zemira. Gadis itu berdoa agar seorang pangeran mau menyelamatkannya. Lalu...
