kisah akala: rasa ingin menyerah.

95 42 28
                                        

Matahari pagi ini masih kembali hadir dan berada pada puncak singgasana ternyamannya, memancarkan sinarnya dengan penuh rasa bangga. sinarnya sangat terik, membuat semua yang saat ini masih berada di dalam alam mimpi pun terusik saat cahaya matahari itu menerobos masuk. Akala mannaf kanagara contohnya, sudah hampir lima belas menit suara denting alarm terus berbunyi di dalam kamarnya, dan sudah hampir beberapa kali pintu kamarnya di ketuk dari luar. suara sahutan antara alarm dan ketukan pintu itu tetap tidak mengusik tidurnya.

Hingga suara alarm dari ponsel Akala berubah menjadi dering panggilan masuk, akala hafal betul suara itu bukan lah suara alarm. dia dengan terburu-buru bangun dan mencari keberadaan ponselnya yang mendadak raib entah kemana. Akala di serang panik luar biasa saat terpampang jelas siapa penelpon yang berani menganggu tidur nyenyaknya.

Akala mengangkat panggilan itu "hallo" sapanya dengar suara parau khas seseorang baru bangun tidur. belum sempat dia mengumpulkan kesadarannya sudah terdengar ocehan serta amarah dari seseorang yang menelponnya.

"kamu baru bangun?! cepat mandi dan turun sarapan! atau tidak ada uang jajan dalam sebulan ini" ucap seseorang di seberang sana dengan emosi yang menggebu-gebu.

Akala menghela napas beratnya. dia pun turun dari ranjang miliknya, walaupun sebenarnya dia sangat tidak rela meninggalkan ranjang serta bantal-bantal miliknya untuk hari ini, dia sangat mengantuk setelah misi mencari kado semalam. dia baru pulang ke rumah saat pukul sebelas malam, itu pun dia sedang beruntung karena orang tuanya sudah masuk ke dalam kamar. kalau tidak sudah bisa di pastikan dia tidak akan bisa tidur semalaman karena menahan rasa sakit.

Saat pulang dia pun tidak langsung tidur. dia harus mengerjakan tugas sekolahnya serta belajar untuk esok hari, dia baru bisa tidur saat pukul tiga dini hari, itupun dia paksakan. akala memang mengidap insomnia ringan pada kondisi tertentu.

Akala keluar dari kamar saat sudah siap dengan seragam sekolah miliknya, rambut hitamnya dia biarkan jatuh menutupi kening kebanggaannya. penampilannya hari ini sama saja seperti penampilan hari-hari sebelumnya yang membedakan hanya kantung mata milik laki-laki itu yang terlihat sedikit menghitam. akala juga terlihat lebih lemas hari ini karena kekurangan jam tidur semalam.

Akala menuruni anak tangga guna sampai ke lantai dasar kediamannya, kemudian berjalan menuju ruang makan. rupanya disana, sudah terdapat Raden dan Aiyana yang tengah terduduk dengan ponsel di tangannya masing-masing. akala sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sebentar lagi.

"pagi pa, pagi ma" sapa hangat di lontarkan laki-laki itu, sebelum dia ikut duduk di kursi meja makan itu.

Hening, tak ada sahutan apapun dari sapaan yang Akala lontarkan. sebetulnya dia sudah bisa menduga akan hal ini pasti kembali terjadi seperti pagi-pagi sebelumnya.

Raden melirik Akala, "semalam dari mana?" tanya pria paruh baya itu.

Akala menarik napas nya dalam-dalam, dia sudah menduga pasti akan di introgasi seperti ini. "pergi sama Vero, sama Dian juga" jawab Akala.

"sudah berani pulang larut malam?!" tanya Raden kembali, kini guratan amarah sudah terlihat dari wajah pria itu.

"baru selesai beli kado buat adik Dian" jawab Akala, dia tidak akan bisa berbohong untuk masalah ini, karena pasti papanya akan mencari tahu dan bertanya pada kedua sahabatnya.

"tidak minta izin?!! kamu sudah berani melanggar aturan rumah ini?" kali ini yang bertanya adalah Aiyana, mama Akala itu sudah bisa di pastikan akan sama marahnya dengan sang papa.

"Saya sudah izin sama mama, tapi mama masih sibuk dengan semua pekerjaannya" ucap Akala. memang benar semalam dia sudah meminta izin untuk pergi tapi Aiyana terlalu fokus dengan laptopnya jadi kemungkinan wanita itu tidak mendengar ucapan sang anak.

Kisah AkalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang