Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas malam ketika Akala menginjakkan kaki di rumah. Rumah yang selama ini lebih terasa seperti penjara daripada tempat berpulang. Dingin malam yang menusuk seakan kalah tajam dibanding tatapan pria yang berdiri tak jauh dari pagar: Raden, ayahnya. Diam, namun menyimpan bara yang siap meledak kapan saja.
Dengan napas yang sedikit bergetar, Akala mencoba membuka suara. "Pah... saya dari rumah Vero," ucapnya lirih, mencoba menjelaskan sebelum badai datang.
Namun yang dihadapinya adalah dinding batu. Tak ada jawaban, tak ada anggukan. Hanya tangan yang terkepal dan bahu yang tegang. Raden berjalan masuk begitu saja, seolah kalimat anaknya adalah suara angin semata.
Di belakangnya, suara berat Mang Usep kembali terdengar. "Mas... nyonya masih di ruang tamu. Sejak tadi duduk di sana. mereka menunggu Mas Kala pulang. Saran mamang... mending jangan masuk dulu."
Akala hanya tersenyum miris. "Kalau saya tidak masuk, masalahnya akan makin panjang." Dia melangkah masuk, menantang takdir yang sudah sering menyakitinya.
Begitu melintasi ruang tamu, matanya langsung bertemu dengan tatapan dingin Aiyana, ibunya. Seolah kedatangannya adalah sebuah penghinaan. "Saya hanya pergi sebentar... ke rumah Vero. Kalau kalian tidak percaya. bisa tanya dia." ujar Akala lirih, masih mencoba menjelaskan.
Tapi tak ada telinga yang benar-benar mendengarkan. Yang datang justru langkah berat Raden yang kini mendekat. mengikis jarak diantara mereka. sorot mata yang terus menusuk, dan tangan yang terus terkepal.
"Saya sudah peringatkan. Tapi kamu memang anak yang nakal!" bentaknya. Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di perut Akala. Dia terhuyung. Dadanya sesak.
"Saya bukan tahanan! Ini hidup saya!" Akala berteriak, meski tubuhnya mulai melemah. Namun jawabannya adalah kata-kata yang lebih menusuk dari pukulan manapun.
"Kamu memang tidak berhak untuk hidup, Akala!"
Dan amarah Raden meledak. Tinju demi tinju menghujani tubuh Akala. Tak diberi ruang untuk bernapas. Aiyana yang biasanya diam menyaksikan, kali ini ikut larut dalam amarah. Dia mengambil gelas dari meja dan melemparkannya ke lantai. Suara kaca pecah membelah malam. membuat Akala menoleh.
Dengan sorot mata yang tak kalah tajam, Aiyana mengambil pecahan gelas itu dan tanpa ragu menggoreskan ujungnya ke lengan Akala.
"Luka ini kecil dibanding rasa malu yang kamu bawa ke rumah ini," bisiknya, dingin dan penuh kebencian.
Akala tergeletak, tubuhnya tak lagi kuat menahan beban luka dan perasaan. Dia berusaha bangkit, tapi tak ada yang membantu. Malah Raden menoleh ke Bi Irma dan Mang Usep yang berdiri membeku tidak jauh dari mereka.
"Siapa pun yang membantu dia, saya pecat malam ini juga!" gertaknya.
Dengan seluruh tenaga tersisa, Akala menyeret tubuhnya. Setiap langkah terasa seperti ditarik ribuan duri. Dia menapaki anak tangga satu per satu, hingga akhirnya sampai ke kamar. Begitu pintu terbuka, tubuhnya ambruk ke lantai.
Namun belum selesai. Air mata mengalir, bukan hanya karena sakit fisik... tapi karena luka yang lebih dalam dari itu. Dia merangkak ke kamar mandi, memutar keran bathtub hingga air mengalir penuh. Dirinya perlahan masuk ke dalam, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keheningan air.
Air menutupi wajahnya. Dunia terasa jauh... tenang... seperti menyerah pada semesta.
Namun saat detik terakhir hampir tiba, sebuah tangan muncul dari permukaan air. Lembut, hangat. Akala terkejut, Dia belum sepenuhnya kehilangan kesadaran, tapi yang dirasakannya begitu nyata.
Sosok perempuan muda dengan cahaya lembut di sekitarnya berkata pelan, "Tuhan itu tidak pernah tidur. Dari jutaan bintang di langit, tidak semuanya sempurna. Kamu sosok yang kuat dan tangguh. Maka dari itu, Tuhan memilihmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Akala
Fiksi PenggemarSederhana saja, ini bukan kisah pahlawan atau dongeng penuh bahagia. Ini tentang Akala Mannaf Kanagara-anak yang tak pernah diinginkan, hidup di rumah yang seharusnya jadi tempat pulang, tapi lebih sering terasa seperti penjara yang berwujud elegan...
